Sepatu dari Kulit Babi


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya telah lalai dan membeli sepatu dari kulit babi yang diproduksi oleh perusahan bermerek yang saat ini berperkara dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Saya tidak tahu kalau hal itu bermasalah. Bagaimana menurut Ustadz mengenai kasus ini?

Hamba Allah – Jakarta

Jawaban :

Syariat halal dan haram bukan hanya berkisar dalam hal makanan dan minuman, tetapi juga berkaitan dengan keseluruhan gaya hidup. Dalam masalah memakai pakaian atau barang aksesori lainnya yang berasal dari kulit binatang, berikut pengelompokan para ulama.

Pertama, kulit binatang yang boleh dimakan dan telah melalui proses penyembelihan sesuai syariat Islam maka pakaian atau barang apapun yang dibuat dari kulit binatang ini boleh dipakai dan dimanfaatkan berdasarkan ijma’ para ulama.

Kedua, kulit binatang yang boleh dimakan, seperti unta, sapi, kambing, domba, kijang, dan lain-lainnya, tetapi sudah menjadi bangkai, yaitu mati tanpa melalui proses penyembelihan sesuai syariat. Menurut jumhur ulama, meskipun tidak boleh dimakan tetapi kulit binatang ini menjadi suci dan boleh dipakai setelah melalui proses penyamakan. Sedangkan, pendapat yang masyhur dalam mazhab Hambali dan salah satu pendapat dalam mazhab Maliki mengatakan, binatang yang telah menjadi bangkai tetap tidak suci kulitnya meskipun disamak. Tetapi, jumhur ulama mengatakan hadis soal ini dhaif.

Ketiga, kulit binatang yang tidak boleh dimakan selain babi dan anjing, seperti ular, buaya, harimau, singa dan lain-lainnya. Menurut mazhab Hanafi dan Syafi’i, kulit binatang-binatang ini menjadi suci dan boleh dipakai setelah disamak.

Keempat, kulit anjing. Jumhur ulama berpendapat, kulit anjing tetap tidak menjadi suci meski disamak karena anjing termasuk najis mughallazhah (berat). Kita disuruh untuk mencuci bejana yang dijilat anjing sebanyak tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.

Kelima, kulit babi. Jumhur ulama dari kalangan empat mazhab berpendapat, kulit babi tetap tidak suci meskipun disamak karena ia adalah najis ‘aini.

Pendapat jumhur ulama mengatakan, semua kulit binatang bisa menjadi suci dengan disamak, kecuali kulit babi, anjing, dan keturunan keduanya. Keduanya najis ‘aini ( babi dan anjing itu sendiri adalah najis ketika hidupnya ), jadi tak suci meski disamak.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 5 Januari 2013 / 22 Safar 1434 H

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s