Pernikahan Sesama Anak Tiri


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, menyambung penjelasan konsultasi agama tanggal 21 Desember 2012 dengan topik “Mengawini Besan”, saya bermaksud mengonfirmasi isi penjelasan itu dengan kondisi yang berbeda. Kalau duda menikah dengan janda dan masing membawa anak dari mantan istri/suami terdahulu, apakah berarti anak bawaan masing-masing, kalau laki-laki atau perempuan, boleh menikah?

Hamba Allah

Jawaban :

Dalam surah an-Nisa ayat 22 dan 23, Allah menjelaskan secara perinci perempuan yang haram dinikahi selamanya. Kecuali, dalam masalah menghimpun dua perempuan bersaudara dalam ikatan pernikahan.

Mereka adalah mantan istri bapak, ibu yang melahirkannya, anak perempuannya sendiri, saudara perempuannya sendiri, saudara perempuan bapaknya, saudara perempuan ibunya, anak perempuan dari saudara laki-laki, dan anak perempuan dari saudara perempuan.

Lainnya adalah perempuan yang pernah menyusuinya, saudara perempuan sepersusuan, ibu dari istri, anak tiri yang ibunya sudah dicampuri olehnya, istri anaknya sendiri, dan saudara istri jika masih menjadi istrinya.

Keberadaan perempuan sebagai anak dari istri bapak tidak menjadikannya sebagai mahram yang haram dinikahi. Tapi, jika anak perempuan dari istri ayah itu masih menyusui setelah ibunya menikah dengan suaminya yang sekarang, ulama berbeda pendapat apakah ia saudara atas hubungan sepersusuan atau tidak.

Mazhab Maliki berpendapat, jika ia masih terus menyusui setelah menikah dengan ayahnya, ia saudara sepersusuan. Mazhab Hanafi dan Syafi’i berpendapat, selama ibu tiri itu belum melahirkan dari suaminya yang baru, susunya untuk anaknya adalah susu yang berasal dari suaminya yang pertama.

Jika anak duda dan janda yang menikah itu sudah besar dan tidak lagi menyusui, mereka boleh menikah. Sebab, tidak ada hubungan nasab dan hubungan sepersusuan. Jika anak seorang janda masih terus menyusui setelah menikah dengan suaminya yang baru, untuk kehati-hatian dan keluar dari khilaf (perbedaan pendapat) para ulama, sebaiknya anak dari suaminya yang baru itu tidak menikah dengan anak ibu itu.  Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 7 Januari 2013 / 24 Safar 1434 H

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Keluarga, Pernikahan and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s