Makan Janin Hewan


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, bagaimana hukumnya memakan embrio/janin sapi atau kambing yang ditemukan ketika menyembelih induknya. Lalu, bagaimana apabila ditemukan janin sapi atau kambing yang sudah berwujud anak sapi, seperti kehamilan lebih dari satu bulan ketika menyembelih induknya?

Muwardi Anam Hs — Denpasar

Jawaban :

Berkenaan dengan janin binatang ternak yang hidup ketika dikeluarkan dari perut induknya yang disembelih, para ulama sepakat, penyembelihan tersebut ditujukan untuk induknya bukan untuk janin. Karenanya, jika ingin memakan janin tersebut maka harus dilakukan penyembelihan terhadap janin.

Jika tidak disembelih lalu janin itu mati, ia adalah bangkai yang haram untuk dikonsumsi. Sesuai firman Allah SWT, “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS al-Maidah [5]: 3).

Sedangkan, jika janin binatang ternak itu mati ketika dikeluarkan dari perut induknya yang  disembelih, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang kehalalannya untuk dikonsumsi. Imam Abu Hanifah berpendapat, janin itu tidak boleh dimakan kecuali jika ia keluar dalam keadaan hidup kemudian disembelih secara syar’i.

Imam Malik berpendapat, jika janin binatang ternak itu sudah berwujud dan sudah tumbuh bulunya maka boleh dimakan, sedangkan jika belum berwujud maka tidak boleh dimakan. Jumhur ulama, seperti Imam Syafii, Imam Ah mad, Abu Yusuf, dan Muhammad dari kalangan ulama Mazhab Hanafi berpendapat, jika janin itu keluar dari perut induknya yang disembelih secara syar’i dalam keadaan mati maka boleh dimakan karena penyembelihan terhadap induknya itu juga merupakan penyembelihan terhadap janin tersebut.

Hal itu sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW. Dari Abu Sa’id al-Khudri ia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW tentang janin (binatang ternak), beliau menjawab: Makanlah jika kalian mau.” Dalam riwayat lain, Musaddad meriwayatkan bahwa Abu Sa’id berkata, “Ya Rasulullah! Kami menyembelih unta, sapi, dan kambing, lalu kami menemukan janin di dalam perutnya. Apakah janin itu kami buang atau kami makan? Rasulullah SAW menjawab: Jika kalian mau, makanlah karena penyembelihan ibunya juga penyembelihan untuk janin tersebut.” (HR Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, Ahmad, Daruquthni, dan Baihaqi).

Oleh karenanya, dibolehkan memakan janin binatang ternak yang keluar dalam keadaan mati dari perut induknya yang disembelih secara syar’i. Sebab, penyembelihan untuk induknya juga merupakan penyembelihan untuk janin tersebut. Sedangkan, jika janin itu keluar dalam keadaan hidup maka harus disembelih juga secara syar’i agar bisa dimakan, jika tidak, lalu mati maka ia adalah bangkai yang haram untuk dimakan.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 2 Januari 2013 / 19 Safar 1434 H

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s