Waktu Menyembelih Dam Tamattu


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, kapan waktu bagi jamaah haji yang melaksanakan haji tamattu untuk menyembelih dam tamattu-nya? Bolehkah kalau kita menyembelihnya setelah selesai melaksanakan umrah, Ustadz?

Eko, Cilodong – Depok

Jawaban :

Allah SWT berfirman, “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit) maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi, jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu) maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orangorang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Makkah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya. (QS al-Baqarah [2]: 196).

Dalam ayat ini, Allah SWT mewajibkan jamaah haji yang melaksanakan ibadah hajinya secara tamattu untuk menyembelih hewan yang mampu disembelihnya, biasa disebut dengan istilah dam al-tamattu’ atau hadyu al-tamattu’. Jika ia tidak mampu maka ia harus berpuasa selama tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari apabila telah kembali ke tempat asalnya. Dan, itu hanya diwajibkan bagi jamaah haji yang bukan merupakan penduduk Makkah, sedangkan bagi penduduk Makkah tidak diwajibkan apa pun jika mereka melakukan ibadah haji secara tamattu atau qiran.

Orang yang melakukan haji tamattu adalah orang yang berihram untuk umrah pada bulan-bulan haji (Syawal, Zulqaidah, dan Zulhijjah), bertahalul dari umrahnya, kemudian berihram untuk ibadah haji pada tahun itu juga. Sedangkan, yang melaksanakan haji secara qiran adalah yang berihram untuk umrah dan haji secara bersamaan.

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah waktu penyembelihan hadyu tamattu’ ini. Jumhur ulama berpendapat bahwa waktu penyembelihannya adalah pada waktu Hari Raya Kurban (10 Zulhijah) hingga hari terakhir dari hari tasyrik. Bagi yang melakukan penyembelihan sebelum hari itu maka penyembelihannya tidak sah. Hal itu berdasarkan amalan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada waktu melaksanakan ibadah haji, beliau menyembelih pada 10 Zulhijah setelah sampai di Mina dan melontar jumrah.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sampai di Mina, lalu mendatangi jumrah dan melemparnya. Kemudian, beliau ke penginapannya di Mina, menyembelih hewan kurban. Beliau berkata kepada tukang cukur, “Cukurlah ini“, sambil menunjuk ke kepala sebelah kanan, lalu sebelah kiri, kemudian membagi-bagikan rambutnya kepada para sahabat. (HR Muslim).

Allah SWT juga menjelaskan, “Dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum kurban sampai di tempat penyembelihannya.“ (QS al-Baqarah [2]: 196).

Dan, sebagaimana diketahui bahwa tidak boleh mencukur rambut sebelum 10 Zulhijah.
Ini berarti bahwa hewan kurban itu tidak sampai di tempat penyembelihannya sebelum hari tersebut.

Pun karena tidak boleh menyembelih hewan kurban sebelum 10 Zulhijah maka tidak boleh juga menyembelih hadyu tamattu’ sebelum hari itu.

Sedangkan, ulama kalangan mazhab Syafi’i berpendapat bahwa boleh menyembelih hadyu tamattu’ sebelum 10 Zulhijah. Mereka beralasan bahwa para ulama sepakat membolehkan pelaksanaan puasa tiga hari sebagai pengganti hadyu tamattu’ sebelum 10 Zulhijah. Maka, itu menunjukkan bahwa penyembelihan hadyu tamattu’ sendiri dibolehkan sebelum hari tersebut.

Sedangkan, tempat penyembelihannya yang utama adalah di Mina, sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan boleh juga di Makkah, seperti yang dijelaskan pada hadis berikut. Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Mina seluruhnya adalah tempat penyembelihan dan seluruh pelosok kota Makkah adalah jalan dan tempat penyembelihan. Seluruh Arafah adalah tempat wukuf dan seluruh Muzdalifah adalah tempat berhenti’.“ (HR Ibnu Majah). Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 2 Oktober 2012 / 16 Dzulqaidah 1433

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Haji and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s