Shalat Jumat di Hari Raya


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, kebetulan saya menjadi anggota panitia Idul Adha di kompleks perumahan saya. Ada yang bilang bagi yang telah melaksanakan shalat Idul Adha pada hari Jumat tetap harus melaksanakan shalat Jumat, ada juga yang bilang hari Jumat tidak boleh ada khotbah dua kali yang berarti tidak ada shalat Jumat. Mohon pencerahannya.

Saefudin Zuhri – Depok

Jawaban :

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama ahlu sunnah wal jamaah  mengenai wajib atau tidaknya melaksanakan shalat Jumat bagi umat Islam yang telah melaksanakan shalat Ied yang bertepatan jatuh pada hari Jumat. Perbedaan disebabkan adanya hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa ketika hari raya jatuh pada hari Jumat, Nabi SAW memberikan rukhshah (keringanan) bagi mereka yang telah melaksanakan shalat Ied untuk tidak lagi melakukan shalat Jumat. Di antara hadis-hadisnya sebagai berikut.

Dari Iyas bin Abi Ramlah al-Syami, ia berkata, “Saya menyaksikan Muawiyah bertanya kepada Zaied bin Arqam, ‘apakah kamu menyaksikan bersama Rasulullah SAW dua hari raya bertemu dalam satu hari?’  Dia menjawab, ‘Ya’. Maka Muawiyah bertanya lagi, ‘bagaimana beliau melakukannya?’ Ia menjawab, beliau melaksanakan shalat Ied, kemudian memberikan keringanan shalat Jumat, beliau bersabda, barang siapa yang ingin shalat Jumat maka shalatlah.” (HR Ahmad, Abu Daud, al-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, dan Hakim).

Imam Hakim mengatakan dalam kitabnya al-Mustadrak ‘ala alshahihain bahwa hadis ini sahih sanadnya, namun tidak dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dan ada penguatnya yang sesuai dengan syarat Muslim, dan hal itu disepakati oleh Imam al-Dzahabi. Dalam kitabnya al-Majmu’, Imam Nawawi mengatakan bahwa sanad hadisnya baik (jayyied).

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,  “Telah berkumpul dua hari raya pada hari kalian ini, barang siapa yang ingin tidak shalat Jumat maka shalat Ied sudah mencukupinya, tetapi kami akan menggabungkannya.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim). Hadis dengan redaksi yang hampir sama juga diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas.

Kalangan mazhab Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa orang yang menghadiri shalat Ied tetap tidak diberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jumat, karena dalil yang menunjukkan bahwa shalat Jumat itu wajib bersifat umum setiap hari Jumat tanpa terkecuali dan keduanya merupakan ibadah yang berdiri sendiri, shalat yang satu tidak bisa menggantikan yang lainnya. Sedangkan hadis-hadis atau atsar yang menyebutkan tentang keringanan itu tidak cukup kuat untuk mengkhususkan dalil yang bersifat umum. Dalil yang bersifat umum adalah firman Allah SWT.

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS al-Jumu’ah [62]: 9).

Hal itu dikuatkan juga oleh hadis Nabi SAW. Dari al-Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Rasulullah SAW biasa membaca ‘sabbihisma rabbika al-a’la (surat al-‘A’la) dan ‘hal ataka hadits al-ghasyiyah’ (surat al-Ghasyiyah) pada waktu shalat dua hari raya dan shalat Jumat. Dan, ia berkata, jika hari raya dan Jumat berkumpul pada satu hari, Nabi SAW juga membaca kedua surat itu dalam kedua shalat itu.” (HR Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi SAW tetap melaksanakan shalat Jumat meskipun telah melaksanakan shalat Ied sebelumnya.

Ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa jika hari raya jatuh pada hari Jumat, maka bagi kaum Muslimin yang berada jauh dari tempat dilaksanakan shalat Ied dan shalat Jumat diberikan keringanan (rukhshah) untuk tidak melaksanakan shalat Jumat dan hanya melakukan shalat Zhuhur di tempat mereka.

Sedangkan, kalangan ulama mazhab Hambali berpendapat bahwa jika hari raya jatuh pada hari Jumat, barang siapa yang telah melaksanakan shalat Ied dibolehkan baginya untuk tidak shalat Jumat dan hanya menunaikan shalat Zhuhur kecuali bagi imam, ia harus tetap melaksanakan shalat Jumat.

Hal itu berdasarkan hadis-hadis di atas yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memberikan keringanan bagi mereka yang telah melaksanakan shalat Ied, untuk tidak melaksanakan shalat Jumat jika hari raya jatuh pada hari Jumat, meskipun Nabi SAW tetap melaksanakan shalat Jumat.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 27 Oktober 2012 / 11 Dzulhijjah 1433

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Shalat and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s