Peringatan Ulama


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, ada kelompok mendiskreditkan ulama yang memperingatkan umat akan paham atau aliran sesat, kemudian melabelinya sebagai pemecah persatuan umat. Bukankah tugas ulama memang memberikan peringatan semacam itu?

Yusnaman K – Padang

Jawaban :

Allah SWT berfirman, “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS at-Taubah [9]: 122).

Dalam ayat ini, Allah menegaskan, memang tugasnya orang yang mengkhususkan dirinya dalam menuntut ilmu agama itu untuk memberi peringatan kepada umatnya agar mereka dapat menjaga diri dari segala kesesatan dan segala sesuatu yang menyalahi serta menyimpang dari ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah bersabda, ”Dan sesungguhnya ulama adalah ahli waris para Nabi dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak.”  (HR Tirmizi, Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi).

Dengan ilmu yang dikaruniakan Allah kepadanya, seorang ulama harus menjalankan tugasnya sebagai penerus risalah para nabi untuk memberikan penerangan bagi umat, menunjukkan mereka kepada jalan agama yang lurus. Selain itu, mereka memperingatkan masyarakat dari segala kesesatan dan penyimpangan.

Mereka harus menjelaskan apa yang terkandung dalam Al-Quran dan sunah Nabi kepada umat agar mereka tidak termasuk golongan yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan oleh Allah sehingga mendapat laknat dari-Nya dan semua makhluk yang dapat melaknat.

Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati.” (QS al-Baqarah [2]: 159).

Tentu semua itu harus berdasarkan ilmu dan hujjah yang nyata sehingga ia tidak mengajarkan kepada umat atau menfatwakan sesuatu tanpa dalil Al-Quran dan sunah Nabi. Para ulama berjuang menjelaskan akidah tauhid yang benar dan membersihkan akidah serta keyakinan umat dari segala bentuk kekufuran, kesyirikan, dan kemunafikan.

Para ulama berjuang membersihkan hadis-hadis Nabi dari segala bentuk kebohongan dan pemalsuan sehingga umat Islam mengenal sanad hadis dan bisa membedakan mana hadis sahih, daif, atau palsu.

Ibnu Sirin, seorang tabiin, memperingatkan umat akan masalah ini dengan mengatakan, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka lihatlah dari siapa kamu mengambil agamamu.” Pendiri NU Hadratus Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dengan tegas menjelaskan dalam kitab Qonun Asasi li Jam’iyyati Nadlah al-Ulama, “Apabila fitnah-fitnah dan bid’ah- bid’ah muncul dan sahabat-sahabat dicaci maki, hendaklah orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barang siapa tidak berbuat begitu, dia akan terkena laknat Allah, laknat malaikat, dan semua orang.”

Umat Islam tidak boleh tertipu oleh slogan yang sebenarnya kandungannya benar, tapi tujuannya adalah kebatilan. Hal itulah yang diperingatkan Khalifah Ali bin Abi Thalib ketika para penentangnya dalam masalah tahkim mengatakan bahwa hukum itu hanya milik Allah. Maka, beliau mengatakan, itu adalah perkataan yang benar, tapi bertujuan batil.

Begitu juga dengan kalimat dan slogan persatuan umat. Ini merupakan kalimat yang benar dan sangat dianjurkan Islam. Tapi, jika itu di gembar-gemborkan hanya sebagai slogan dan menyebabkan umat Islam menyimpang serta tersesat dalam akidah dan praktik amal ibadah, para ulama wajib menjelaskan hal itu kepada umatnya agar mereka tidak tertipu.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 7 November 2012 / 22 Dzulhijjah 1433

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Dakwah and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s