Makna Aman di Tanah Haram


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, kalau tidak salah, dalam Al-Quran ada ayat yang menyatakan bahwa barang siapa yang memasuki Tanah Haram maka dia akan aman. Tetapi, kalau melihat kenyataan yang ada, kita masih melihat terjadi kejahatan di sekitar Masjidil Haram, bahkan di dalamnya pun terkadang masih terjadi kejahatan. Lalu, apakah maksudnya “aman“ dalam ayat itu?

Hasrul Th, Medan

Jawaban :

Allah SWT berfirman, “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) makam Ibrahim; barang siapa memasukinya menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.“ (QS Ali Imran [3]: 97).

Dalam ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa barang siapa yang memasuki Tanah Haram Makkah maka amanlah dia. Ini merupakan salah satu keutamaan Tanah Haram Makkah.
Ada lagi ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan keutamaan ini. Allah SWT berfirman, “Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah Haram (Tanah Suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.“ (QS al-Qashash [28]: 57).

Dalam ayat lain, Allah SWT menegaskan, “Dan demi kota (Makkah) ini yang aman.“ (QS at-Tiin [95]: 3).

Hal yang dimaksudkan dengan kata “aman“ di Tanah Haram adalah bahwa sejak zaman jahiliah, setiap orang yang masuk ke Tanah Haram itu akan aman dari pembunuhan, gangguan para penjahat dan dari orang-orang yang ada di Tanah Haram itu. Bahkan, ahli waris dari seseorang yang dibunuh, jika melihat pembunuh anggota keluarganya di Tanah Haram maka ia tidak akan melakukan balas dendam di sana demi menghormati kesucian dan status Makkah sebagai Tanah Haram. Meskipun, balas dendam ini sudah menjadi tradisi dan adat bangsa Arab pada masa itu.

Dalam Tafsir al-Manar disebutkan bahwa keamanan merupakan di antara keutamaan Tanah Haram, tempat seluruh suku Arab sepakat untuk menghormati dan mengagungkan rumah Allah ini. Bahkan, seseorang yang memasukinya tidak hanya merasa aman dari gangguan orang lain, tatapi juga merasa aman dari balas dendam yang dilakukan oleh keluarga orang yang telah dibunuh atau disakitinya selama dia berada di Tanah Haram tersebut.

Allah yang perintahkan setiap Muslim untuk mengunjungi Tanah Haram untuk melihat dan merasakan secara langsung getaran rasa aman yang sesungguhnya, Dia Berfirman, “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang batil dan ingkar kepada nikmat Allah?” (QS al-‘Ankabut [29]: 67).

Ulama lain mengatakan bahwa kata “aman” yang terdapat dalam ayat itu merupakan kalimat berita (khabar). Tapi, maksudnya adalah kalimat perintah, yaitu perintah untuk memberikan rasa aman dan keamanan bagi siapa yang memasuki Tanah Haram. Imam al-Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa sebagian ahli tafsir mengatakan, ayat ini bentuknya adalah khabar (kalimat berita), tapi maksudnya adalah kalimat perintah yang berarti barang siapa yang memasuki Tanah Haram maka berikanlah keamanan kepadanya.

Syaikh Muhammad Thahir bin ‘Asyur juga menjelaskan dalam kitab tafsirnya al-Tahrir wa al- tanwir bahwa sebagian ulama menafsirkan ayat ini, ia merupakan khabar yang digunakan sebagai perintah untuk memberikan keamanan kepada orang yang memasuki Tanah Haram dari segala gangguan. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Sa’id bin Jubair, ‘Atha’, Thawus dan al-Sya’bi.

Karenanya, secara linguistik ayat di atas tidak bertentangan dengan kenyataan masih adanya kejahatan dan kriminalitas yang terjadi di Tanah Haram atau di Masjidil haram. Secara fakta, Tanah Haram Makkah yang terus hidup selama 24 jam dan menjadi pusat kunjungan berbagai pelosok penduduk Muslim dunia terbilang sangat aman dibanding kota-kota lainnya di dunia.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 10 Oktober 2012 / 24 Dzulqaidah 1433

 ΩΩΩ

 Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Haji and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s