Lalai Berhaji


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, apakah hukumnya orang yang mampu secara dan fisik untuk menunaikan ibadah haji tapi tidak mau melaksanakannya sampai ia meninggal? Dan apakah wajib bagi ahli warisnya untuk melaksanakan haji untuknya?

Julia Sawedi – Bandung

Jawaban :

Allah SWT berfirman, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS Ali `Imran [3]: 97).

Berdasarkan ayat ini, para ulama sepakat hukum melaksanakan haji bagi setiap Muslim yang mampu adalah wajib. Kewajiban itu hanya sekali dalam seumur hidup. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian berhaji maka berhajilah,” kemudian ada seseorang bertanya, “Apakah setiap tahun Wahai Rasulullah?” Nabi tidak menjawab sampai ditanya tiga kali, barulah setelah itu beliau menjawab, “Jika aku katakan ‘Iya,’ maka niscaya akan diwajibkan setiap tahun, dan kalian tidak akan sanggup.” Kemudian beliau bersabda, “Maka biarkanlah apa yang sudah aku tinggalkan untuk kalian, karena sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian, akibat banyaknya pertanyaan dan penyelisihan mereka terhadap nabi mereka, maka jika aku perintahkan kalian mengerjakan sesuatu, kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kalian dan jika aku telah melarang kalian akan sesuatu maka tinggalkanlah.” (HR. Muslim).

Tetapi, para ulama berbeda pendapat apakah kewajiban itu harus segera dilaksanakan ketika sudah mampu atau boleh ditunda. Lalu dilakukan kapan pun selama hidupnya. Jumhur ulama dari kalangan Mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali berpendapat, kewajiban haji itu harus segera dilaksanakan (‘ala al-faur) ketika seseorang sudah mampu.

Jika orang itu menundanya, ia berdosa karena melalaikan kewajiban haji. Hal itu berdasarkan hadis-hadis Nabi yang memerintahkan umat Islam segera menunaikan kewajiban haji apabila ia telah mampu. Dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Bersegeralah menunaikan haji yaitu yang wajib, karena sesungguhnya seseorang dari kalian tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya.” (HR. Ahmad).

Dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang ingin menunaikan ibadah haji maka bersegeralah.” (HR Ahmad dan Abu Daud). Mazhab Syafii dan Muhammad bin al-Hasan dari ulama Mazhab Hanafi berpendapat, ada kelonggaran waktu dalam pelaksanaan kewajiban haji. Seseorang yang sudah mampu boleh menunda menunaikan haji di lain kesempatan.

Syaratnya, ada kemauan yang kuat melaksanakannya pada waktu akan datang. Tapi, jika dia meninggal sebelum sempat melaksanakan haji, ia berdosa. Dalil mereka, merujuk pada saat Nabi menaklukkan Makkah pada tahun 8 Hijriah namun tidak segera menunaikan ibadah haji. Beliau menundanya dan baru melaksanakannya pada tahun ke-10 Hijriah.

Jika haji itu wajib segera dilaksanakan, tentu Nabi tidak akan menundanya. Tetapi jumhur ulama menjelaskan, Nabi menunda ibadah hajinya mungkin karena beliau benci melihat masih adanya orang-orang musyrik yang telanjang di sekitar Ka’bah. Beliau mengutus Abu Bakar terlebih dahulu untuk menegaskan, tidak ada lagi orang yang thawaf dengan telanjang di Ka’bah setelah tahun itu.

Yang lebih kuat adalah pendapat jumhur ulama. Seperti yang dijelaskan hadis Nabi, seseorang tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Dia juga tidak tahu kapan ajal akan menjemputnya, maka ketika dia mampu dan tidak ada halangan syar’i hendaklah bersegera berhaji. Agar tak masuk dalam kategori orang lalai.

Hal itu sesuai perintah Allah agar kita bersegera melaksanakan kebaikan. Soal apakah ada kewajiban ahli waris menunaikan haji orang yang sudah meninggal, ulama berbeda pendapat. Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat, tidak perlu melaksanakan haji untuk mayit kecuali jika si mayit mewasiatkan kepada ahli waris. Sebab, haji merupakan ibadah badaniah. Kewajiban ini hilang dengan adanya kematian.

Sedangkan Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat, ahli waris wajib menghajikan mayit tersebut dari harta peninggalannya sebelum dibagikan kepada ahli waris. Terlepas almarhum mewasiatkannya atau tidak.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 4 Desember 2012 / 20 Muharram 1434

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Haji and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s