Doa Bersama Saat Tawaf


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, jamaah haji kita pada waktu pelaksanaan tawaf ketika membaca doa biasa mengikuti seseorang di depan yang biasa disebut muthawwif. Nah, muthawwif ini membaca doa-doa dalam buku panduan. Kemudian, jamaah haji yang di belakang mengikutinya secara bersamaan. Bagaimanakah hukumnya?

Rahayu — Jakarta Timur

Jawaban :

Allah SWT berfirman, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.“ (QS al-A’raf [7]: 55).

Dalam ayat di atas, Allah SWT menjelaskan etika berdoa kepada-Nya adalah dengan merendahkan dan menghinakan diri sebagai hamba yang tidak mempunyai daya dan upaya kecuali atas izin dan pertolongan-Nya. Allah juga memerintahkan untuk berdoa dengan suara lembut dan tidak dikeraskan secara berlebihan dan melarang hamba-Nya melampaui batas dalam berdoa. Hamba pun diminta tidak berdoa tentang yang seharusnya tidak ia minta kepada Allah SWT atau mengeraskan suaranya seperti orang yang berteriak-teriak padahal Allah SWT adalah Zat yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari ra , “Kami pernah bersama Rasulullah SAW. Saat sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi Muhammad SAW lantas bersabda: Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan gaib. Sesungguhnya, Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.“ (HR Bukhari).

Waktu tawaf adalah momen yang sangat tepat untuk berzikir, berdoa, dan membaca Al-Quran dengan penuh kekhusyukan juga merasakan kehadiran hati di hadapan Allah SWT.

Oleh karena itu, sebagian ulama menetapkan bahwa tidak dianjurkan bagi jamaah haji untuk membaca doa dengan suara keras karena mengikuti muthawwif.

Alasannya, pertama, karena Nabi Muhammad SAW tidak pernah menetapkan doa khusus untuk setiap putaran dalam thawaf, kecuali ketika berada di antara rukun Yamani dan Hajar Aswad. Beliau mengajarkan kita agar membaca, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia ini dan kebaikan di akhirat kelak dan hindarkanlah kami dari siksa api Neraka.“ (HR Abu Daud).

Adapun untuk setiap putaran selanjutnya, seluruh jamaah haji dianjurkan untuk berdoa dengan doa apa saja untuk kebaikan dunia dan akhirat mereka. Atau, berdzikir kepada Allah dengan bertasbih atau bertahlil yang setiap orang pasti mampu melakukannya. Juga disarankan membaca ayat-ayat Al-Quran yang bisa ia baca. Hal-hal itu merupakan zikir yang paling utama.

Doa dan zikir yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan setiap jamaah membuat mereka lebih khusyuk dan tenggelam dalam doa dan pengharapan kepada Allah SWT. Berdoa mengikuti orang lain sambil membaca yang terkadang tidak dipahami maknanya menjadikan doanya hampa dari makna karena tidak ada rasa takut dan pengharapan dalam doa yang mereka lafalkan.

Kedua, mengeraskan suara ketika berdoa dikhawatirkan termasuk kepada perkara melampaui batas dalam berdoa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya seperti yang ditegaskan dalam ayat di atas.

Tugas muthawwif adalah membimbing jamaah sebelum memulai tawaf, mengawal tawaf jamaah haji agar terhindar dari kesyirikan atau kesalahan, menjaga dari kemungkinan bahaya, serta menunjukkan tempat-tempat penting yang terkait dengan tawaf. Selanjutnya, memberi kesempatan jamaah berdoa, berzikir, atau membaca Al-Quran sesuai kepentingan masing-masing agar mereka dapat khusyuk dalam menjalankannya.

Menjadi kewajiban pemerintah dan penyelenggara haji dan umrah untuk menambah waktu dan kualitas bimbingan ibadah jamaah haji Indonesia mengingat banyak sekali jamaah haji Indonesia yang tidak memahami tuntunan syariah ibadah haji karena minimnya waktu dan kualitas bimbingan yang diberikan oleh pihak penyelenggara haji dan umrah.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 12 Oktober 2012 / 26 Dzulqaidah 1433

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Haji and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s