Tujuan Syariat Haji


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Dalam waktu dekat ini saya akan memenuhi kewajiban ibadah haji saya, tetapi terasa menjadi beban rasanya jika perjalanan saya ke Tanah Suci sekadar untuk memenuhi kewajiban saja. Untuk memantapkan ibadah saya agar mendapatkan kemabruran, mohon dijelaskan tujuan syariat ibadah haji dalam Islam ?

Reza Abdul Jabbar – Bekasi

Jawaban :

“Dan, serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka yang datang dari segenap penjuru.“ (QS al-Hajj [22]:27).

Al-Thahir ibn Asyur dalam tafsirnya, Al-tahrir wa al-tanwir, ketika menafsirkan ayat di atas menjelaskan maqashid syari’ah al-hajj (tujuan syariat haji) bahwa pada awalnya makna kosakata haji adalah menyengajakan diri mengunjungi baitullah (Ka’bah). Dalam perkembangannya, makna ini berarti mendatangi Masjidil Haram untuk menunaikan manasik haji dan di antara tujuannya adalah menimba dan mengokohkan akidah dalam bentuk musyahadah (menyaksikan secara langsung) bangunan yang didirikan untuk dijadikan simbol tauhidullah (mengesakan penghambaan hanya untuk Allah) yang pada akhirnya akan memantapkan keyakinan tauhid orang yang menyaksikannya secara langsung. Karena, tabiat dasar logika manusia hanya dapat meyakini sesuatu yang abstrak jika sudah diwakili oleh simbol yang dapat terindera.

Pada awalnya, Ibrahim as sempat ragu dengan kemampuannya menerima amanah untuk menyeru seluruh manusia dari seantero penjuru dunia karena seakan mustahil tanpa perangkat komunikasi dan pemasaran yang memadai tetapi ia harus menyeru manusia semua untuk datang menuju Baitullah yang ia tinggikan dengan tangannya dan putranya, Ismail as. Tetapi, setelah Allah menegaskan bahwa tugas Ibrahim as hanya menyeru dan tugas Allah menyampaikan pesan seruannya ke seluruh hati orang yang Allah kehendaki untuk mendengarnya maka Ibrahim tanpa ragu menyambut perintah dan amanah Allah Azza Wajalla.

Saat ini kita dapat menyaksikan kelangsungan seruan yang seakan tidak pernah berhenti menggema di dalam hati orang-orang beriman yang telah dikehendaki Allah untuk mengunjungi bait-Nya.

Dalam talbiah, tersirat pula mak sud dan tujuan perjalanan haji yang dapat memperkokoh ibadah kita. Labbaik allaahumma labbaik, labbaik laa syariika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syariikalak…. (Kami sambut seruan-Mu ya Allah, kami sambut seruan-Mu bahwa tiada sekutu bagi-Mu dalam sesembahan, sungguh segala puja dan puji, seluruh nikmat adalah milik-Mu, dan sungguh semua kerajaan dan penguasaan adalah milik-Mu).

Ibadah haji juga merupakan undangan langit dari Yang Maha Pengasih agar para tamu-Nya (dhuyufur rahman) dapat menyaksikan dan merasakan rahmat-Nya, kemudian berbagi rahmat Allah dengan penuh cinta kepada yang lain sambil terus mengagungkan dan menyebut nama-Nya.

Allah taala berfirman, “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka, makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir (QS al-Hajj [22]:28).

Salah satu faktor terpenting untuk dapat menjumpai Allah di rumah-Nya dan menjadi tamu-Nya yang akan mendapatkan ampunan dan surga-Nya adalah datang dengan tanpa kotoran lahir dan batin, dalam keadaan telah menunaikan janji-janji kepada-Nya, serta melakukan tawaf.

Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka, dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah). (QS al-Hajj [22]:29).

Di antara tujuan syariat haji lainnya adalah menyempurnakan keislaman diri. Sebagai rukun Islam yang kelima, ibadah haji adalah penyempurna keislaman seseorang setelah benar syahadat, shalat, zakat, dan puasanya. Ibadah haji akan kehilangan makna jika dilakukan oleh orang yang masih cacat syahadat, rukun Islam, serta rukun imannya. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 25 September  2012 / 9 Dzulqaidah 1433 H

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Haji and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s