Bekal Terbaik Haji


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, untuk mencapai haji yang terbaik (mabrur) bekal apa yang terbaik saya bawa? Karena, saya tidak ingin salah bekal dalam keberangkatan saya menjumpai Allah di Bait-Nya. Saya juga tidak ingin dosa tak terampuni dan doa tak terkabulkan hanya karena bekal yang saya bawa salah.

Terima kasih atas penjelasan ustadz.

Warni K – Bandung

Jawaban :

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji maka tidak boleh rafats , berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa  dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal“. (QS al-Baqarah [2]:197).

Menurut suatu riwayat, orang-orang Yaman apabila naik haji tidak membawa bekal apa-apa, dengan alasan tawakal kepada Allah. Maka turunlah ini. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lain-lainnya yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Untuk mencapai kemabruran haji, seorang yang akan berangkat menunaikan ibadah haji, harus membawa bekal yang disyaratkan oleh Sang Tuan Rumah Ka’bah Musyarrafah. Sebaik-baik bekal untuk beribadah haji adalah taqwallah (bertakwa pada Allah) dengan taqwa yang sesungguhnya, bukan takwa yang bercampur maksiat dan keraguan iman.

Bekal takwa menunaikan ibadah haji meliputi beberapa aspek. Antara lain, bekal ilmu; ilmu tentang tata cara dan hukum-hukum manasik haji menjadi bekal penting menuju takwa. Ilmulah yang dapat menempatkan seorang tamu Allah pada posisi mulia atau rendah dihadapan-Nya.

Ilmu tentang syariat haji dapat menuntun seseorang kepada kemabrurannya; keterbatasan ilmu tentangnya akan menjadi kendala utama mendapatkan haji mabrur. Karenanya, jangan berangkat haji sebelum selesaikan fikih bab haji dan umrah.

Langkah cerdas untuk meraih ruh atau kemabruran haji, dengan memosisikan diri sebagai ulul albab (orang berakal/orang yang berpikir mendalam) di hadapan Allah, yaitu melatih diri menjadi orang yang senantiasa ingat Allah pada semua aktivitas, baik kondisi berdiri, duduk, ataupun terbaring. Dan, terus mengaktifkan proses berpikir dalam mencermati semua ciptaan dan peristiwa, lalu mengaitkannya pada tauhidullah sebagai output-nya dengan bertasbih dan memohon ampun atas dosa-dosa.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.“ (QS Ali Imran [3]:190-191).

Karena, setelah berposisi sebagai ulul albab, seseorang baru dapat meyakini bahwa tidak ada yang sia-sia atau tidak berguna dari semua ciptaan Allah, dan hanya ulul albab yang dapat menjalani hidup takwa dengan kemampuan membedakan antara yang bersih dengan yang kotor. Dan, ulul albab-lah yang dapat meraih keuntungan di balik semua aktivitas dan peristiwa yang dijalaninya.

“Katakanlah, ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal (ulul albab), agar kamu mendapat keberuntungan.“ (QS al-Maidah [5]:100).

Hal itu terjadi karena para ulul albab adalah orang yang telah dianugerahkan Allah dengan nikmat kepahaman dan hikmah.

“Allah menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Quran dan as-sunah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS al-Baqarah [2]:269).

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 28 September 2012 / 12 Dzulqaidah 1433 H

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Haji and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s