Nilai Keputusan Hakim


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, di tengah lemahnya law enforcement di Indonesia, banyak orang miskin yang terzalimi oleh orang kaya dan orang lemah yang dikalahkan pejabat yang kuat. Banyak orang yang mencari penghasilan dengan cara memakan harta orang lain lewat pengadilan. Saya adalah salah satu korban peradilan yang tak adil. Saya sudah berusaha untuk ikhlas menerima keadaan saya sebagai rakyat jelata, tapi yang menjadi keheranan saya adalah orang yang dimenangkan oleh hakim dengan cara haram itu merasa sudah halal menggunakan harta orang lain. Padahal, dia tahu kalau hartanya itu bukanlah miliknya? Mohon nasihatnya.

Jawaban :

Pada hakikatnya, Allah SWT tidak membutuhkan bantuan hakim untuk memutuskan suatu perkara. Apa pun keputusan seorang hakim tak akan dapat memengaruhi ketentuan hukum Allah Yang Ahkamul Hakimin. Namun, keberadaan hakim dan lembaga peradilan adalah sebuah proses yang harus ada untuk memantapkan sandaran seorang hamba hanya kepada Allah SWT. Tidak akan ada manusia yang dapat berlaku adil di dunia ini kecuali mereka yang memutuskan berdasarkan hukum Allah dan karena takut pada Allah semata.

Sedangkan Rasulullah sendiri tak dapat berlaku adil secara sempurna dalam memutuskan suatu perkara sehingga menyerahkan keputusan kepada hati nurani setiap orang dalam menyikapi sebuah perkara, sebagai mana hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah, aku hanyalah manusia biasa dan datang kepadaku orang-orang yang bersengketa. Boleh jadi sebagian kalian lebih pintar berdalih daripada yang lain sehingga aku putuskan yang menguntungkan si pintar. Karena itu, barang siapa yang aku putuskan mendapat hak orang Muslim yang lain, sesungguhnya hal itu tidak lain hanyalah sepotong api neraka, terserah ia akan membawanya atau meninggalkannya.” (Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas oleh para ahli tafsir digunakan untuk menjelaskan firman Allah SWT, “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 188).

Arti kata ‘batil’ dalam ayat di atas adalah hilang dan lenyap. Maknanya bahwa orang yang mencari harta dengan cara yang batil akan mengakibatkan lenyapnya nilai-nilai kebaikan dan manfaat dari harta tersebut meskipun kelihatannya berharga secara fisik dan banyak nilai nominalnya.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman Allah, “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil.” Ia berkata, “Ayat ini terkait dengan orang yang mengambil harta orang lain tanpa memiliki bukti bahwa harta tersebut adalah haknya. Ia menggugat pemilik harta kepada hakim, padahal ia tahu bahwa ia salah dan bahwa ia berdosa dan mengambil sesuatu yang haram.”

Diriwayatkan dari Mujahid mengenai firman Allah, “Dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim.” Ia berkata, “Janganlah kamu menggugat sedangkan kamu berbuat zalim.”

Diriwayatkan dari Qatadah mengenai firman Allah, “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim.” Ia berkata, “Barang siapa yang menggugat seterunya dalam keadaan ia menzaliminya, ia berdosa sampai ia kembali kepada kebenaran. Ketahuilah, wahai anak Adam! Sesungguhnya keputusan hakim tidak menghalalkan sesuatu yang haram dan tidak membenarkan sesuatu yang batil bagimu. Hakim membuat keputusan hanya sesuai dengan yang dilihatnya dan kesaksian para saksi. Hakim hanya seorang manusia yang bisa benar dan bisa salah. Ketahuilah bahwa barang siapa yang dimenangkan gugatannya dengan cara yang batil, persengketaannya itu belum selesai hingga Allah mempertemukan keduanya pada Hari Kiamat, lalu orang yang berbuat batil itu akan diputuskan bersalah kepada yang berhak dan diambillah apa yang diputuskan baginya di dunia.”

Legalitas formal dan keputusan hakim tidak akan mengubah apa yang telah diharamkan Allah menjadi halal. Hal ini diserahkan kepada rasa takwa dalam hati manusia, seperti halnya dalam urusan Qishash, wasiat, dan puasa.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 22 Oktober 2012 / 6 Dzulhijjah 1433 H

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Muamalah, Syariah and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s