Hikmah di Balik Penghinaan Nabi SAW


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, dalam beberapa bulan terakhir ini, berkali-kali umat Islam mengalami ujian yang berat, terutama dalam hal penistaan simbol-simbol yang disucikan oleh umat Islam, khususnya penghinaan terhadap junjungan Nabi besar Muhammad SAW. Pertanyaan saya, apa hikmah yang terungkap dari balik penghinaan Rasulullah ini dan fenomena apa sesungguhnya di balik ini semua?

Jasuli Hs — Karawang

Jawaban :

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. ” (QS al-Ahzab [33]: 57).  Meskipun kejahatan keji ini sangat menyakitkan, ia juga kabar gembira karena semakin dekatnya kehancuran mereka.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (QS al-Hijr [15]: 95). “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (QS al-Kautsar [108]: 3).

Allah SWT menjelaskan bahwa orang yang membenci Rasulullah SAW adalah orang yang hina, rendah, dan terputus dari segala kebaikan.

Ibnu Taimiyyah menjelaskan dalam kitabnya al-Sharim al-Maslul ‘ala syatim al-Rasul (pedang terhunus bagi penghina Rasulullah SAW) bahwa jika umat Islam mengepung suatu kaum dalam benteng pertahanan mereka yang sangat susah untuk ditembus dan ditaklukkan, kemudian mereka mendengar orang yang di dalam benteng menghina dan mencaci-maki Nabi SAW, maka mereka memberikan kabar gembira dengan dekatnya saat penaklukkan. Dan tidak lama setelah itu, Allah SWT membukakan benteng itu bagi umat Islam sebagai pembalasan atas penghinaan Rasul-Nya.

Dan, sudah banyak bukti sejarah atas hancur dan binasanya orang-orang yang menghina Rasul dan kekasih Allah, Muhammad SAW. Alasan utama musuh-musuh Islam begitu membenci Nabi Muhammad SAW adalah karena mereka membenci Nabi SAW sebab beliau menyeru kepada mengesakan Allah SWT, sedangkan mereka tidak meyakini keesaan-Nya. Sebab, beliau mengajak kepada akhlak yang mulia dan agung serta menutup segala pintu menuju akhlak yang hina, sedangkan mereka menginginkan dunia bebas hidup tanpa akhlak. Mereka ingin hidup dalam lembah syahwat dan kehinaan.

Mereka membencinya karena dialah yang dipilih oleh Allah SWT untuk menjadi Rasul-Nya dan bukti-bukti kenabiannya begitu banyak dan begitu jelas untuk bisa ditolak.

Berapa banyak pemikir, ilmuwan, dan raja raja mereka, ketika Islam sampai kepada mereka secara jelas dan murni, tidak bisa menolak untuk mengakui akan kebenaran Islam dan mengagungkan Muhammad SAW, dan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya memeluk Islam.

Raja Najasyi dari Habasyah mengakui itu dan akhirnya memeluk Islam. Heraklius raja Romawi juga mengakui hal itu ketika menerima surat Nabi SAW yang mengajak untuk memeluk Islam sehingga ia mau memeluk Islam dan menjadi pembantu Nabi SAW. Tetapi, karena ia takut kepada penganut agamanya akan menyakiti dirinya, ia tetap dalam agamanya.

Michael Hart dalam bukunya 100 Orang yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, meletakkan Nabi Muhammad SAW pada urutan paling atas dan ia mengatakan alasannya, “Saya memilih Muhammad SAW dalam urutan teratas karena Muhammadlah satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa, baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.

Dan sebagaimana yang ditegaskan dalam Islam bahwa setiap masalah itu pasti ada hikmah, maslahat, dan kebaikan di baliknya. Demikian pula dalam kasus penghinaan Nabi kita Muhammad SAW, ada maslahat dan manfaat yang dapat diambil, antara lain:

  • Akhirnya, dapat diketahui kebencian dan kedengkian yang tersimpan dalam hati orang yang melakukan kejahatan ini terhadap Islam dan umatnya meskipun mereka selalu menunjukkan bahwa mereka orang yang mencintai kedamaian. Allah SWT berfirman, “Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.“ (QS Ali  ‘Imran [3]: 118).
  • Terungkapnya kepalsuan Barat terhadap standar yang digembar-gemborkannya. Mereka mangatakan bahwa ini adalah bentuk kebebasan berpendapat, padahal setiap orang yang berakal mengetahui kebebasan yang mereka sebut-sebutkan itu harus berhenti ketika itu menyentuh dan menyakiti hak orang lain.
  • Terbuktinya kesalahan sebagian kalangan dari orang yang mengaku Muslim, yang meminta umat Islam untuk tidak menyebut non-Muslim dengan sebutan kafir, agar tidak menimbulkan friksi dan masalah antara kita dan mereka. Namun, kita bisa melihat bahwa merekalah yang selalu menimbulkan kebencian dan membuat masalah setiap ada kesempatan.

Semoga Allah SWT selalu meninggikan agamanya, menolong orang-orang beriman, dan menghinakan serta merendahkan orang-orang yang memusuhi agama dan Rasul-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 21 September 2012 / 5 Dzulqaidah 1433 H

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Dunia Islam and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s