Silaturahim dengan Pemutusnya


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, kita dianjurkan untuk selalu menyambung tali silaturahim dengan karib kerabat, tetapi ada di antara kerabat saya yang selalu memutuskan silaturahim dan tidak mau menyambungnya kembali. Saya sedih karena sudah berusaha untuk menyambungnya. Apa yang harus saya lakukan agar dia mau bersilaturahim kembali?

Ja’far Kj — Yogyakarta

Jawaban :

Allah SWT berfirman, “Dan, tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.“ (QS Fushshilat [41]: 34).

Untuk meluluhkan hati seseorang, kita harus selalu menggunakan cara-cara yang terbaik dan membalas kejahatannya dengan selalu berbuat baik kepadanya. Sesuai janji Allah SWT, insya Allah kebencian yang ada sebelumnya akan berbalik menjadi kecintaan dan rasa suka.

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa orang yang berusaha menyambung silaturahim dengan keluarganya yang memutuskan hubungan silaturahim akan selalu mendapat pertolongan Allah SWT dalam menghadapi mereka.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa seseorang berkata, “Wahai Rasulullah! Saya mempunyai karib kerabat yang saya selalu menyambung silaturahim dengan mereka sedangkan mereka selalu berupaya memutuskannya. Saya selalu berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka berbuat jahat kepada saya dan saya selalu berlemah lembut kepada mereka, tetapi mereka berbuat jahil kepada saya.“ Rasulullah SAW bersabda, “Jika engkau seperti yang engkau katakan maka seolah-olah engkau melemparkan abu panas ke wajah mereka dan pertolongan Allah tetap bersamamu menghadapi mereka selama engkau seperti itu.“ (HR Muslim).

Inilah resep dan arahan Rasulullah SAW untuk meluluhkan hati kerabat agar mereka bisa menerima dan menyambung silaturahim. Teruslah berusaha menyambung silaturahim lewat perbuatan baik kepada mereka yang hendak memutuskan tali kasih silaturahim. Jangan berhenti berusaha untuk menyambung silaturahim hanya karena mereka tidak mau dan berbuat jahat kepada kita.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa menyambung silaturahim itu bukanlah dengan membalas kebaikan kerabat kita dengan kebaikan serupa atau membalas silaturahim mereka. Tetapi, menyambung silaturahim yang sebenarnya itu adalah dengan memulai melakukannya atau selalu melakukannya dan berbuat baik kepada kerabat meskipun mereka berbuat jahat kepada kita. Rasulullah SAW menjelaskan, Abdullah bin ‘Amru meriwayatkan dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Orang yang menyambung silaturahim itu bukanlah orang yang sekadar membalas perbuatan baik kerabatnya, akan tetapi orang yang menyambung silaturahim itu adalah jika dia diputus maka dia tetap menyambungnya.“ (HR Bukhari).

Yakinlah bahwa kalbu semua hamba ada di ujung jemari-Nya. Dia bisa memutarbalikkan hati semua manusia sesuai kehendak-Nya. Tugas kita adalah tunduk pada perintah dan petunjuk Allah dan Allah pasti memenuhi janji-Nya untuk menolong hamba-Nya. Lebih dari itu, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa silaturahim menyebabkan kecintaan keluarga kepada orang yang selalu menyambung silaturahimnya.

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda, “Pelajarilah nasab-nasab kamu yang dapat membantu kalian untuk menyambung silaturahim kamu. Sesungguhnya, menyambung silaturahim itu dapat membawa kecintaan dalam keluarga dan memperbanyak harta, serta dapat memperpanjang umur.“ (HR Tirmizi, Ahmad, dan al-Hakim).

Hal terpenting yang juga perlu diperhatikan adalah soal ketulusan hati dan kesungguhan tekad untuk menyambung silaturahim. Sebab, hati yang tercemari amarah dan terinfeksi kebencian akan sulit merealisasikan pesan Allah dan Rasul-Nya dalam memperjuangkan keberlangsungan silaturahim kepada orang yang ingin segera memutuskannya. Hal penting juga yang tak dapat diabaikan adalah pola komunikasi dan strategi memanfaatkan momentum untuk terjalinnya kembali hubungan silaturahim itu.

Gunakan pola komunikasi kasih sayang dan pemuliaan kepada orang yang akan kita sambung hubungan kekerabatan, serta manfaatkan momentum kegembiraan untuk menghunjamkan rasa kasih sayang ke dalam hati mereka. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 14 September  2012/27 Syawal 1433 H

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s