Saleh, Tapi Mengapa Miskin?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, mengapa banyak orang saleh tapi miskin dan orang yang beriman serta selalu ingin berjalan mengikuti tuntunan Islam banyak yang hidupnya penuh dengan cobaan dan ujian? Sebaliknya, tidak sedikit orang-orang kafir atau orang Islam yang tidak mengamalkan Islamnya dan sama sekali tidak memedulikan ajaran agamanya malah kaya dan hidup penuh dengan kesenangan dunia. Padahal, dalam Al-Quran, Allah SWT menyebutkan bahwa Allah akan memberikan kehidupan yang baik kepada hamba-Nya yang selalu mengerjakan amal saleh. Apakah ini bukan suatu yang bertentangan?

Zulaeha — Jakarta Selatan

Jawaban :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).“ (QS Ali Imran [3]: 14).

Mengapa banyak orang saleh yang terkesan ‘miskin’? Ayat di atas menggambarkan, karena kebutuhan (needs) dan kepuasan (satisfaction) orang-orang saleh tidak sama dengan kegemaran dan kesenangan orang-orang yang lalai alias pencinta dunia. Kebutuhan mendasar orang saleh adalah mendapatkan kelimpahan rahmat (kasih) Allah, kebutuhan mereka terhadap makan dan minum tidaklah berlebihan. Begitu juga kebutuhan mereka terhadap materi hanya sebatas yang diperlukan. Mereka tidak digemarkan seleranya oleh Allah untuk berlebihan dalam pola konsumsi dan memiliki materi.

Kepuasan orang saleh adalah jika dapat menjalankan ketaatan pada Allah dan Rasul SAW sebanyak-banyaknya, ketamakan mereka adalah pada rida Allah saja. Hal inilah yang memalingkan orang saleh dari kesibukan yang dicari dan dikejar oleh orang yang lalai. Di sinilah perbedaan ukuran antara orang yang saleh dan orang yang lalai.

Kalau ada manusia yang paling banyak ujian dan cobaannya adalah para nabi dan rasul yang menganjurkan umatnya untuk beriman dan beramal saleh. Kalau kita perhatikan hanya beberapa nabi atau sedikit sekali yang mendapat kesempatan menikmati kelezatan dunia. Jika Allah menghendaki, bisa saja semua nabi itu seperti Sulaiman as, nyatanya sebagian besar mereka terkesan hidup dalam penderitaan dan kekurangan menurut pandangan dan ukuran keduniaan. Janji Allah kepada orang yang beriman dan beramal saleh pasti terjadi.

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS al-Nahl [16]: 97).

Keadilan Allah tak harus sejalan dengan alur pikiran manusia. Pemikiran kita yang seharusnya percaya dan tunduk pada ilmu Allah.  Kebenaran juga tak harus selalu masuk akal karena firman Allah pasti menjadi fakta bukan yang masuk akal seseoranglah yang dijadikan standar kebenaran dan fakta. Suka atau tidak suka semua hamba harus tunduk pada kehendak (iradah) dan ketetapan (qadha) Allah.

Ukuran keberhasilan bagi orang saleh bukanlah pada materi dan pandangan keduniaan. Bagi mereka kekayaan adalah ketika keinginan sudah tidak lagi dikecamuk oleh hawa nafsu ingin memiliki dunia, rasa kaya, dan kekayaan sesungguhnya adalah ketika sudah mampu mensyukuri setiap nikmat yang telah Allah berikan dan ketika sudah ringan dan bahagia hati ini kala mau berbagi dan memprioritaskan orang lain.

Lebih dari itu, puncak satisfaction orang saleh adalah kalau sudah konsisten di jalan Allah dalam mencari rezeki Allah, lalu dibelanjakannya lagi di jalan Allah, begitulah cara kerja orang saleh sehingga tak akan pernah kekurangan dalam hidupnya walau kelihatan tidak kaya raya.

Tidak ada mental pengemis dalam diri orang saleh, bukan uang dan kekuasaan yang menjadi obesesi mereka, kesederhanaan dan asas manfaatlah yang menjadi barometer kesuksesan hidup bagi mereka. Visi mereka adalah berbahagia di dunia dan akhirat. Untuk merealisasikan visi hidupnya, ada konsep keseimbangan yang holistik dan barometer yang jelas pada orang saleh dalam menjalani hidup ini.

Ayat berikut adalah pegangan kebenaran dan sistem nilai hidup mereka.

Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal, orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka pada hari kiamat. “Dan, Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS al-Baqarah [2]: 212).

Bagi orang-orang yang saleh, ujian dan cobaan yang menimpa seseorang hanya bahan ujian belaka di mata Allah untuk membuktikan kesungguhan imannya pada Allah. Karena itu, mereka mampu menikmati ujian dan cobaan yang menimpa mereka dengan sabar dan tawakal hanya kepada Allah dan hal itu semakin membuat mereka merasakan manis dan lezatnya iman kepada Allah azza wa jalla.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji lagi?” (QS al-Ankabut [29]: 2). Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 18 September  2012 / 2 Dzulqaidah 1433 H

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Saleh, Tapi Mengapa Miskin?

  1. benuapoker says:

    Apa kabar pokermania seluruh indonesia?
    pasti nya semua baik kan?
    ayo ganung ke oliviaclub dan ajak teman teman anda utk bermain di tempat kami dengan menggunakan link refferal anda.Agar anda dapat komisi 20% tiap minggu nya.
    Dan sekedar info oliviaclub masih ada promo untuk player player yang deposit minimal 50rb mendapatkan 50.
    Selamat malam salam sejahtera untuk kalian semua.
    Terima kasih,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s