Cara Sahabat Beda Pendapat


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, bagaimana akhlak para sahabat Nabi SAW dalam menyikapi perbedaan khilafiyah di antara mereka, mengingat banyaknya firqah/kelompok Islam yang terkadang saling menghujat satu sama lain? Mohon penjelasannya ustadz.

Ruhamah — Cengkareng

Jawaban :

Perbedaan pendapat masalah dan perkara ijtihadiyyah (yang berdasarkan ijtihad para ulama) adalah hal yang wajar dan sangat lumrah terjadi dalam tubuh umat Islam. Boleh di katakan bahwa perbedaan pendapat dan pemahaman terhadap suatu masalah dalam agama adalah suatu keharusan. Sebagai konsekuensi dari kita yang tidak maksum (terbebas dari segala kesalahan) dan tidak ada yang maksum, kecuali Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman, “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. (QS Hud: 118).

Perbedaan pendapat di kalangan para sahabat sudah ada sejak Nabi SAW masih hidup. Sebagaimana perbedaan mereka dalam menyikapi perintah Nabi SAW pada waktu Perang Ahzab untuk tidak shalat Ashar, kecuali di Bani Quraizhah, sebagian mereka masih di perjalanan ketika masuk waktu Ashar. Sebagian sahabat berpendapat bahwa mereka tidak akan shalat Ashar, kecuali setelah sampai di Bani Quraizhah sesuai perintah Nabi tersebut. Sedangkan, sebagian yang lain berpendapat bahwa mereka harus shalat karena menurut pemahaman mereka, perintah Nabi SAW itu bertujuan agar mereka mempercepat jalannya sehingga dapat shalat Ashar di Bani Quraizhah, bukan harus shalat di tempat itu. Para sahabat berpegang pada kode etik yang kuat dalam menghadapi perbedaan di kalangan mereka, yaitu keputusan finalnya diserahkan kepada Nabi SAW. Pada kasus itu Nabi SAW membenarkan kedua pendapat tersebut.

Setelah wafatnya Nabi SAW, perbedaan pendapat itu semakin banyak dan beragam, seperti perbedaan pendapat di kalangan sahabat tentang siapa yang diangkat sebagai khalifah Nabi SAW, tentang hukum memerangi mereka yang enggan menunaikan zakat, dan masalah lainnya.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah agama disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya perbedaan dalam memahami teks, baik dari Al-Quran maupun hadis. Sebagian teks hadis sampai kepada sebagian ulama, sedangkan sebagian ulama lain tidak mengetahuinya. Atau, perbedaan dalam menilai kesahihan suatu hadis serta adanya dua dalil yang bertentangan sehingga memerlukan pemahaman dan pengetahuan tentang asbab nuzul atau asbab wurudnya (asal-muasalnya). Mungkin juga karena ketiadaan teks suatu masalah sehingga memerlukan ijtihad dari ulama masing-masing dalam menetapkan hu kum masalah tersebut.

Hebatnya, perbedaan pendapat di kalangan para sahabat itu tidak pernah menjadikan mereka berpecah atau menyebarkan kebencian di antara mereka. Karena, mereka mengetahui dan mendapat pelajaran dari Rasulullah SAW bahwa perpecahan itu akan menyebabkan kehancuran.

Dari Ibnu Mas’ud ra ia berkata, “Saya mendengar seseorang membaca suatu ayat dan saya mendengar Nabi SAW membaca ayat itu berbeda dengan bacaannya. Maka, saya membawa orang itu kepada Nabi SAW dan memberitahukan kepadanya. Saya melihat rasa tidak senang di wajah Nabi SAW dan Beliau bersabda, ‘Kamu berdua benar (dalam hal bacaan ayat) dan janganlah berselisih karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu selalu berselisih sehingga mereka binasa.’” (HR Bukhari).

Dengan mengkaji dan membaca sejarah para sahabat, kita dapat mengambil pelajaran bahwa untuk menjaga agar jangan sampai perbedaan pendapat dalam masalah khilafiyah menimbulkan perselisihan dan perpecahan di kalangan mereka, ada hal-hal yang menjadi pegangan dan perhatian mereka dalam berbeda pen dapat itu, di antaranya:

  • Para sahabat berupaya keras sedapat mungkin untuk tidak berbeda pendapat. Maka, mereka tidak banyak membahas masalah yang belum terjadi. Mereka hanya membahas masalah yang terjadi dalam kerangka ajaran Nabi SAW.
  • Ketika perbedaan akhirnya terjadi setelah berusaha menghindarinya maka mereka segera mengembalikan masalah itu kepada Al-Quran dan sunah Nabi SAW sehingga perbedaan pun segera hilang.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 8 September 2012 / 21 Syawal 1433 H

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s