Berpolitik dalam Islam


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, sebenarnya apa tujuan syar’i berpolitik dalam Islam? Dalam sistem demokrasi sekarang ini, saya perhatikan ‘politik uang dan kekuasaan’ seakan menjadi tujuan tersembunyi di balik semua retorika kerakyatan. Mohon penjelasannya ustadz.

Hamba Allah

Jawaban :

Katakanlah, “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imran [3]:26)

Politik dalam Islam yang biasa disebut al-siyasah al-syar’iyyah (politik syar’i) itu bertujuan sangat mulia. Kekuasaan bukanlah tujuan walau berkuasa sangatlah signifikan dalam menentukan arah dan kebijakan sebuah bangsa. Uang juga bukan target utama politisi Muslim dalam dedikasinya di dunia politik. Menata kelola pemerintahan menuju good governance dan tegaknya law enforcement lewat proses rekrutmen yang didasari kafaa’ah atau kapabilitas individu sesuai bidang kemahirannya dan melalui proses kaderisasi dan tarbiyah (pembinaan) yang panjang. Yang terpenting menjadikan kesalehan individu dan kesalehan sosial serta kandidat yang tidak ambisius jabatan sebagai kriteria penting dalam memilih calon, bukan elektabilitas berdasarkan tingkat popularitas walau tanpa jejak rekam yang jelas atau kemampuan finansial, walau pebisnis kotor serta harus anggota partai, walau masih ada kandidat di luar yang jauh lebih pantas yang dijadikan standar pemilihan, seperti yang tengah berlangsung dalam demokrasi liberalisme materialisme di banyak negara saat ini.

Menurut Ibnu ‘Aqil, politik syar’i adalah kegiatan yang membawa manusia dekat kepada kebaikan dan jauh dari kerusakan walaupun tidak ditetapkan oleh Nabi SAW atau ada wahyu yang diturunkan mengenainya.

Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya al-Siyasah al-Syar’iyyah fi ishlah al-ra’i wa al-ra’iyyah menjadikan ayat 58 dari surat al-Nisa’ sebagai asas pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahannya. Ayat ini memerintahkan menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan selalu berlaku adil dalam menetapkan hukum.

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS Al-Nisa’ [4]: 58).

Hukum berpolitik dalam Islam masuk dalam kategori fardu kifayah, maknanya harus ada segolongan ummat ini yang bersih dan bertakwa masuk dan berkiprah dalam dunia politik untuk memperjuangkan kebenaran sehingga umat lebih dekat pada kebaikan dan terhindar dari kerusakan, politisi Muslim yang berjuang atas nama amanah dan prinsip keadilan berjuang untuk masyarakat luas demi tercapainya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur (negeri yang baik dan selalu dalam naungan ampunan Tuhan).

Politisi Muslim sejati orang yang berjuang dengan tulus dan kesatria menegakkan keadilan (law enforcement) dan melawan kezaliman apa pun risikonya, bekerja keras menyejahterakan umat dan bangsa secara merata dengan sikap zuhud dan wara’. Sebagaimana sahabat Abu Bakar yang sebelum menjadi khalifah memiliki kekayaan 400 dinar dan turun jabatan dengan aset tinggal 40 dinar, serta mengembalikan sisa dari gaji miliknya yang melebihi batas kebutuhan pokoknya, dan gaji itu pun beliau terima atas desakan Umar bin Khattab karena Umar melarang beliau kembali berdagang di pasar sebagai mana kebiasaannya sebelum menjadi khalifah.

Kesalahan terbesar umumnya politisi Muslim di Indonesia adalah mereka lalai merepresentasikan diri sejatinya sebagai politisi Muslim. Akhirnya, mereka larut dalam pragmatisme seperti kebanyakan politisi sekuler lainnya. Nama Islam yang disandangnya atau status keislamannya luntur oleh syahwat ingin berkuasa dan silau melihat uang dan harta benda. Efek yang timbul adalah rusaknya citra Islam dan partai mereka, selanjutnya muncullah sikap skeptis rakyat terhadap partai Islam dan politisi Muslim. Hal ini tentunya sangat merugikan umat dan sebagian politisi Muslim yang lurus akibat ulah segelintir politisi busuk ini. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 13 September 2012/26 Syawal 1433 H

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s