Hewan Kurban Cacat


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, syarat hewan kurban itu harus sehat dan tidak boleh cacat. Lalu, apa hukumnya bila hewan kurban yang sudah kita beli dalam kondisi sehat, kemudian jatuh sakit dan menjadi cacat? Apakah tetap sah jika berkurban dengan hewan tersebut?

Abdin Haryanto – Banten

Jawaban :

Allah SWT berfirman, “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika kedua nya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), ‘Aku pasti membunuhmu!’. Berkata Habil, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa’”. (QS al-Maidah [5]: 27).

Allah menegaskan dalam ayat di atas, Dia ha nya menerima kurbannya Habil. Ia mengurbankan hewan ternak terbaik yang ia miliki karena ketakwaannya kepada Allah. Hal itu menunjukkan bahwa ibadah kurban berarti memberikan yang terbaik yang kita miliki sebagai manifestasi dari ketakwaan seorang hamba, dan Allah hanya menerima kurban hamba-Nya yang bertakwa.

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya ke pada kamu. Dan, berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS al-Hajj [22]: 37).

Hadis juga menekankan bahwa Rasulullah SAW mengurbankan hewan yang terbaik. Dari Anas, ia berkata, “Nabi pernah berkurban (pada Idul Adha) dengan dua kambing yang gemuk. Aku melihatnya menginjakkan kakinya di pangkal leher dua kambing itu. Lalu, ia membaca basmalah dan takbir, kemudian menyembelih keduanya dengan tangannya.” (HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Bukhari).

Dan, Nabi SAW menjelaskan bahwa salah satu syarat hewan yang dibolehkan untuk ibadah kurban adalah hewan yang bebas dari aib dan cacat.

Dari al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Empat macam hewan yang tidak boleh dijadikan kurban, yaitu hewan buta sebelah yang tampak jelas butanya, hewan sakit yang tampak jelas sakitnya, hewan pincang yang tampak jelas pincangnya, dan hewan yang sangat kurus sehingga tidak mempunyai sumsum tulang’”. (HR Tirmizi, Abu Daud, an-Nasai, Ibn Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim).
Berdasarkan dalil-dalil di atas, tidak sah kurban dengan hewan yang memiliki aib dan cacat seperti disebutkan dalam hadis di atas.

Tetapi, jika seorang yang ingin berkurban telah memilih dan membeli hewan kurban yang sehat dan tidak punya aib atau cacat, namun kemudian mengalami kecelakaan atau jatuh yang menyebabkan hewan tersebut menjadi cacat, mayoritas ulama berpendapat bahwa hewan tersebut tetap boleh dijadikan sebagai kurban dan ibadah kurbannya sah.

Hal itu berdasarkan dalil yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Ibnu al-Zubair bahwa hewan kurban berupa unta yang buta sebelah didatangkan kepadanya. Lalu, ia berkata, “Jika hewan ini mengalami cacat mata setelah kalian membelinya, lanjutkan berkurban dengan hewan ini. Namun, jika cacat ini sudah ada sebelum kalian membelinya, gantilah dengan hewan lain.” Imam an-Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’  menjelaskan bahwa sanad riwayat ini sahih.

Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni menjelaskan bahwa jika seseorang telah menentukan hewan yang sehat dan bebas dari cacat untuk kurban, kemudian mengalami cacat yang seharusnya tidak boleh untuk dikurbankan, ia boleh menyembelihnya dan hukumnya sah sebagai kurban. Ini merupakan pendapat Atha’, Hasan al-Bashri, an-Nakha’i, az-Zuhri, ats-Tsauri, Imam Malik, Syafii, dan Ishaq.

Namun, para ulama menegaskan bahwa kebolehan menyembelih hewan kurban yang mengalami cacat itu dengan syarat, yaitu cacat itu bukan dipicu oleh kesengajaan atau kelalaian pekurban. Jika muncul akibat kelalaiannya, ia harus mengganti hewan lain. Pasalnya, hewan tersebut dianggap sebagai amanah di tangannya. Ia berkewajiban mengganti bila rusak atau cacat karena perbuatan atau kelalaiannya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 25 Oktober 2012 /9 Dzulhijjah 1433 H

Ilustrasi : http://bantenpos-online.com

ΩΩΩ

Entri Terakhir :


About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Kurban and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Hewan Kurban Cacat

  1. Peruntukan daging hewan udhhiyah disunnahkan membagi daging hewan kurban menjadi tiga bagian, sebagian untuk dimakan, untuk dihadiahkan dan sebagaian lagi untuk disedekahkan kepada orang-orang fakir. Pembagian tidak harus sama antara satu dengan yang lain, yang terpenting adalah tercapainya maslahat bagi umat dan tidak menimbulkan fitnah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s