Kurban atau Bayar Utang?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Kambing Kurban

Ustadz, jika kita ingin berkurban tapi masih mempunyai utang yang harus dibayar, sebaiknya mana yang didahulukan? Berkurban atau membayar utang? Mohon penjelasannya.

Rukiyati – Bogor

Jawaban :

Ibadah kurban merupakan salah satu amalan sunah yang utama dalam Islam. Ibadah ini tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Ibadah kurban juga salah satu syiar agama Allah SWT yang harus diagungkan sebagai bukti ketakwaan kepada Allah SWT sebagaimana firman-Nya, “Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS al-Hajj [22]: 32).

Betapa mulianya hati orang-orang yang bersungguh-sungguh ingin mempersembahkan kurban walau harus bersusah payah karena sebenarnya ia tengah berjuang menyembelih sifat kehewanan ternak pada dirinya, berjuang melawan hawa nafsu untuk menjadi orang yang merdeka menggapai rida Allah saja.

Akan tetapi, jika masih mempunyai beban utang yang harus segera dilunasi maka harus mendahulukan pelunasan utangnya daripada melaksanakan ibadah kurban. Hal itu karena beberapa sebab, antara lain:

  • Melunasi utang itu hukumnya wajib, sedangkan ibadah kurban menurut jumhur ulama hukumnya adalah sunah muakadah. Umat Islam harus mendahulukan yang wajib daripada yang sunah karena kita tidak boleh meninggalkan atau melalaikan yang wajib demi melakukan hal yang sunah. Bahkan, bagi yang mengikuti pendapat bahwa berkurban itu wajib maka tetap saja melunasi utang itu lebih didahulukan. Karena, berkurban itu wajib bagi yang mampu, sedangkan orang yang berutang dianggap tidak mampu.
  • Rasulullah SAW juga mengajak kepada umat agar sebisa mungkin untuk tidak berutang.
    Dan, kalau berutang, harus berusaha secepat mungkin melepaskan dirinya dari lilitan utang. Dalam satu hadis dijelaskan bahwa Nabi SAW enggan menshalatkan mayat yang masih mempunyai tanggungan utang. Dari Salamah bin al-Akwa’ ra ia berkata, “Kami pernah duduk bersama Nabi SAW. Ketika di hadirkan kepada beliau satu jenazah, kemudian orang-orang berkata, ‘Shalatilah jenazah ini.’ Maka beliau bertanya, ‘Apakah orang ini punya utang?’ Mereka menjawab,’Tidak.’ Kemudian, beliau bertanya kembali, ‘Apakah dia meninggalkan sesuatu?’  Mereka menjawab, ‘Tidak.’  Maka beliau menshalatkan jenazah tersebut. Kemudian, didatangkan lagi jenazah lain kepada beliau, lalu orang-orang berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW, shalatilah jenazah ini.’  Maka beliau bertanya, ‘Apakah orang ini punya utang?  Dijawab, ‘Ya.’ Kemudian, beliau bertanya lagi, ‘Apakah dia meninggalkan sesuatu?’  Mereka menjawab, ‘Ada, sebanyak tiga dinar.’  Maka beliau pun menshalati jenazah tersebut. Kemudian, didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu orang-orang berkata, ‘Shalatilah jenazah ini.’  Maka beliau bertanya, ‘Apakah ia meninggalkan sesuatu?’  Mereka menjawab, ‘Tidak ada.’ Lalu beliau bertanya lagi, ‘Apakah ia mempunyai utang?’  Mereka menjawab, ‘Ada, yaitu tiga dinar.’ Maka Nabi bersabda, ‘Shalatilah saudaramu ini.’ Berkata Abu Qatadah, ‘shalatilah wahai Rasulullah, nanti utangnya aku yang menanggungnya.’ Maka beliau pun menshalatkan jenazah itu.’  (HR Bukhari).
  • Dosa utang yang belum dibayarkan merupakan satu-satunya dosa yang tidak diampunkan oleh Allah SWT atas seseorang yang mati syahid dalam medan perjuangan di jalan Allah SWT. Abdullah bin ‘Amru bin al-Ash meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Mati sewaktu berjihad di jalan Allah dapat menghapus semua dosa, kecuali utang.”(HR Muslim).
  • Kecuali, jika tempo pembayaran utang itu masih cukup waktu untuk dibayarkan secara kredit yang waktu pembayarannya sudah ditentukan. Dan, berkeyakinan bahwa akan mampu membayar utang pada waktunya, maka dibolehkan baginya melaksanakan ibadah kurban. Tetapi, jika ia merasa tidak akan mampu maka sebaiknya uang tersebut ditabungkan untuk melunasi utangnya nanti.

Wallahu a’lam  bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 17 Oktober  2012 / 1 Dzulhijjah 1433

Ilustrasi : http://saiful-aiman.blogspot.comm

ΩΩΩ

 Entri Terakhir :


About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Kurban and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s