Kurban Atas Nama Umat


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Mengkampanyekan Kurban

Ustadz, di tempat kami bekerja, perusahaan memberikan bantuan subsidi kurban (tidak seharga hewan kurban). Pimpinan mengambil inisiatif agar dana subsidi dikumpulkan dan dibelikan hewan kurban secukupnya. Dengan alasan sebagai pemimpin bisa mengatasnamakan kurban itu. Dengan niat, “Ya Allah, terimalah kurban saya, keluarga saya, dan umat saya (pegawai)“. Bagaimana hukumnya soal ini, Ustadz?

Hastuti Ningsih SH — Surabaya

Jawaban :

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS al-Hajj [22]: 34).

Berkurban merupakan ibadah yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW dan menurut jumhur ulama hukumnya sunah muakadah (sunah yang dikuatkan karena Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk melakukannya dan beliau tidak pernah meninggalkannya) bagi mereka yang mampu untuk berkurban, sedangkan kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa hukumnya adalah wajib bagi yang mampu atau berkecukupan, kecuali bagi orang yang sedang berhaji pada waktu berada di Mina.

Rasulullah SAW menjelaskan, seseorang boleh berkurban dengan seekor kambing yang diniatkan untuk dirinya dan seluruh anggota keluarganya, seperti anak-istri, kerabat yang berada di bawah tanggungannya, serta orang yang tinggal di rumahnya yang juga menjadi tanggungannya. Tetapi, tidak disyariatkan beberapa orang iuran untuk membeli seekor kambing kurban.

Dari ‘Atha’ bin Yasar ia berkata, “Saya bertanya kepada Abu Ayyub al-Anshari tentang tata cara berkurban pada masa Rasulullah SAW. Ia pun menjawab, ‘Seorang laki-laki menyembelih seekor kambing sebagai kurban untuk diri dan keluarganya, lalu mereka memakannya dan memberikan makan orang lain.“ (HR Tirmizi dan Ibnu Majah).

Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya Zad al-ma’ad menjelaskan bahwa di antara sunah Nabi Muhammad SAW adalah seekor kambing itu cukup sebagai kurban bagi seorang laki-laki dan anggota keluarganya meskipun mereka banyak.

Sedangkan, untuk sapi dan unta dibolehkan iuran bersama dalam membelinya sampai tujuh orang. Dari Jabir bin Abdullah ra ia berkata, “Kami telah menyembelih kurban bersama Rasulullah SAW pada tahun Perjanjian Hudaibiyah, seekor unta (budnah) untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang.“ (HR Muslim).

Adapun mengatasnamakan kurban untuk orang banyak yang bukan anggota keluarganya dengan meniatkan, “Ya Allah, terimalah kurban saya, keluarga saya, dan umat saya,“ mungkin berpegang pada salah satu hadis Nabi SAW, yakni “Aisyah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW minta diambilkan dua ekor domba bertanduk yang kakinya berwarna hitam, perutnya terdapat belang hitam, dan sekitar matanya hitam. Kemudian, domba tersebut diserahkan kepada beliau untuk dikurbankan, lalu beliau bersabda kepada Aisyah, ‘Wahai ‘Aisyah, bawalah pisau kemari.’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Asahlah pisau ini dengan batu.’ Lantas ‘Aisyah melakukan apa yang diperintahkan beliau. Setelah diasah, beliau mengambilnya dan mengambil domba tersebut serta membaringkannya, lalu beliau menyembelihnya. Kemudian, beliau mengucapkan, ‘Dengan nama Allah, Ya Allah, terimalah ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad. Kemudian beliau berkurban dengannya.“ (HR Muslim).

Sebagian ulama menjelaskan bahwa itu merupakan di antara kekhususan Nabi SAW dengan dalil bahwa para sahabat yang melaksanakan kurban dengan seekor kambing yang disembelihnya hanya meniatkan untuk dirinya dan anggota keluarganya. Tidak ada riwayat sama sekali yang menyebutkan bahwa para sahabat berkurban atas nama umat atau mengikutsertakan umat dalam kurban mereka. (Tuhfat al-ahwadzi syarah Jami’ at-Tirmizi).

Sedangkan, sebagian ulama lain menjelaskan, hadis itu bermaksud bahwa seseorang yang berkurban boleh mengikutkan orang lain yang dikehendakinya dalam pahala kurban yang dilakukannya, tetapi tidak berarti bahwa orang lain yang diniatkan itu juga telah melaksanakan ibadah kurban. Sehingga, jika orang lain itu mempunyai kemampuan untuk berkurban sendiri maka ia tetap disunahkan untuk berkurban sendiri dengan hartanya.

Wallahu a’lam  bish-shawab. ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 9 Oktober 2012/23 Dzulqaidah 1433 H

Ilustrasi : Pikiran rakyat

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Kurban and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Kurban Atas Nama Umat

  1. dieta says:

    3. Untuk seeokor unta atau sapi, dapat dikurbankan oleh tujuh orang secara berjamaah, Hadits dari Jabir riwayat Muslim menyebutkan: Naharna ma’a Rasulillahi SAW’ama al-Hudaybiyah al-budnah’an sab’ah, wa al-baqarah’an sab’ah (Kami telah berkurban bersama Rasulullah SAW pada tahun Hudaibiyah, yaitu seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang). Sedang untuk seekor kambing, kibas atau domba, hanya dikurbankan secara perorangan (untuk seorang saja), berdasarkan ijma; walaupun ketika Nabi SAW berkurban seekor kibas, beliau menyebut untuk diri bersama keluarganya (Kitab Subul al-Slam). Boleh jadi yang dimaksud bersama keluarganya ialah pahala dari kurban, bukan pelaksanaan ibadah secara berjamaah.

  2. dewielsinsky says:

    dalam beribadah khususnya berkurban tentunya pemilihan hewan kurban haruslah teliti sehingga akan mendapatkan kesempurnaan dalam beribadah, seperti dalam sejarah yang pernah kita pelajari semasa sekolah dan di pesantren, bahwasannya hewan kurban terbaiklah yang di terima oleh Allah SWT, dan semoga ibadah kurban kita di terima oleh Allah SWT dan menjadi keberkahan dan tanda iman kita, amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s