Etika Penyembelihan Kurban


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Pemeriksaan Hewan Kurban. (FOTO ANTARA/Saiful Bahri)

Ustadz, berkurban adalah salah satu ritual mengagungkan syiar-syiar Allah, persoalannya banyak umat ini yang belum mengetahui tata cara yang dicontohkan Rasulullah soal bagaimana etika menyembelih hewan kurbannya. Saya ingin menyembelih sendiri hewan kurban saya di rumah, bagaimana tata cara penyembelihan hewan kurban secara syar’i ?

Sumarno Hafiz – Ciputat

Jawaban :

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan, berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS Al-Hajj [22]: 34).

Esensi berkurban adalah menyembelih sifat kebinatangan diri. Maka itu, berkurban disimbolkan dengan menyembelih hewan ternak (udhhiyyah) seraya menyebut nama Allah SWT. Selain itu, berkurban juga sebagai tanda kesyukuran terhadap nikmat tak terkira yang telah Allah SWT limpahkan kepada hamba-Nya.

Disunahkan bagi orang yang hendak berkurban untuk menyembelih sendiri jika mampu melakukannya karena ritual kurban merupakan ritual ibadah dan bentuk pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah SWT sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yang menyembelih sendiri hewan-hewan kurbannya. Akan tetapi, jika ia tidak mampu, harus mewakilkannya kepada yang mampu melakukannya dan ia menyaksikannya.

Etika terpenting dalam berkurban setelah niat ikhlas karena Allah adalah memilih dan membeli hewan kurban yang terbaik dengan harta sendiri yang halal dan selenggarakan pula dengan cara yang terbaik, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Syaddad bin Aus meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah memerintahkan agar berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih.” (HR Muslim).

Berikut ini beberapa tata cara dan etika penting menyembelih hewan kurban sesuai syariat.

  • Tuntunlah hewan kurban ke tempat penyembelihan dengan baik dan tidak kasar.
    Baihaqi dan Abdurrazaq meriwayatkan dari Ibnu Sirrin bahwa Umar bin Khattab melihat seorang laki-laki menarik kambing melalui kakinya untuk disembelih, maka beliau berkata, “Celakalah kamu! Giringlah ia kepada kematian dengan cara yang baik.”
  • Gunakan pisau atau alat penyembelihan yang tajam. Sebagaimana sunah Nabi SAW dalam hadis di atas.
  • Jangan tajamkan mata pisau atau menyembelih hewan di depan hewan lain yang akan disembelih. Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk menajamkan mata pisau dan menyembunyikannya dari pandangan hewan ternak, dan beliau bersabda, “Jika kamu menyembelih, lakukan dengan cara yang mempercepat kematiannya.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Baihaqi).
  • Sembelihlah dengan menghadap kiblat dan hadapkan pula hewan kurban ke arah kiblat.
  • Baringkan hewan yang akan disembelih di atas sisi kiri badannya untuk memudahkan penyembelihan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi saat menjelaskan hadis Aisyah ra. Imam Nawawi mengatakan, hadis itu menganjurkan untuk membaringkan kambing ketika akan disembelih serta mengandung unsur larangan menyembelih hewan dalam keadaan berdiri atau berlutut. Cara seperti ini adalah perlakuan terbaik bagi hewan. Juga berdasarkan kesepakatan ulama dan yang sering dipraktikkan kaum Muslimin bahwa hewan yang akan disembelih dibaringkan di sisi kiri badannya. Selain itu, cara ini memudahkan orang yang akan menyembelih dengan tangan kanan dan menahan kepala hewan dengan tangan kiri.
  • Injakkan kaki di leher hewan yang akan disembelih.
  • Sebutlah nama Allah dengan membaca basmalah dan takbir ketika hendak menyembelih sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis di atas. Membaca basmallah adalah wajib hukumnya karena adanya larangan memakan hewan yang tidak disembelih dengan menyebut nama Allah SWT.
  • Sembelihlah hewan dengan cepat dan tepat demi meringankan apa yang dialami oleh hewan. Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk menggunakan pisau atau alat yang tajam.
  • Bermohonlah dalam hati dan berdoa agar kurban diterima oleh Allah SWT, “Ya Allah, terimalah ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.”
  • Berkurbanlah dalam rangka mengagungkan syiar syiar Allah karena ketakwaan dan demi mendapatkan ridha Allah. (QS Al-Hajj [22]: 32). Allah SWT berfirman, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan, berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Hajj [22]: 37). Wallahu a’lam

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 13 Oktober  2012 / 27 Dzulqaidah 1433

Ilustrasi : www. antaranews.com

ΩΩΩ

 Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Kurban and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s