Berutang untuk Kurban


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Kurban untuk Somalia

Ustadz, saya bekerja di suatu perusahaan yang alhamdulillah gajinya mencukupi. Saya ingin sekali berkurban tahun ini, membeli hewan kurban secepatnya. Tetapi, karena untuk bulan ini gaji saya belum keluar, bolehkah saya berutang dulu untuk membeli hewan kurban tersebut?

Syamsu Rijal N — Kendari

Jawaban :

Islam adalah agama mudah dan bukan hendak menyempitkan bagi pemeluknya dalam urusan agama. Allah berfirman, “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan“. (QS al-Hajj [22]: 78).

Pada dasarnya, hukum ibadah kurban menurut jumhur ulama adalah sunah muakkadah (sunah yang dikuatkan) bagi orang yang hidup berkecukupan. Hal itu adalah pendapat mazhab Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Sedangkan, mazhab Abu Hanifah berpendapat, berkurban itu hukumnya wajib bagi mereka yang berkecukupan, kecuali bagi orang yang sedang berhaji, ketika waktu itu berada di Mina maka berkurban tidak diwajibkan bagi mereka.

Berdasarkan pendapat jumhur ulama di atas, maka kurban hanya disunahkan bagi mereka yang berkecukupan, sedangkan bagi yang tidak mampu tidak boleh dipaksakan.

Dan, para ulama sepakat tidak wajib berutang untuk dapat melaksanakan kurban karena kurban tidak wajib bagi orang yang tidak berkecukupan. Tetapi, apakah disunahkan untuk berutang agar bisa berkurban atau tidak? Para ulama menjelaskan, jika ia mempunyai kemampuan dan kesiapan untuk membayar utang tersebut maka sunah hukumnya berutang agar bisa berkurban. Namun, jika ia merasa tidak mampu membayarnya maka tidak dianjurkan dan lebih baik ia tidak berutang. Karena, dengan itu ia telah membebani dirinya dengan utang untuk sesuatu yang tidak diwajibkan kepadanya.

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” (QS al-Kautsar [108]: 2).

Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa ketika menafsirkan ayat ke-2 surah al-Kautsar ini menguraikan, “Allah SWT memerintahkan Nabi SAW untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini, yaitu shalat dan menyembelih kurban yang menunjukkan sikap taqarub, tawadhu, merasa butuh kepada Allah SWT, husnuzhan, keyakinan yang kuat, dan ketenangan hati kepada Allah SWT.

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Ma ha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”. (QS al-Hajj [22]: 34).

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 20 September  2012 / 4 Dzulqaidah 1433 H

Ilustrasi : Dompet Dhuafa

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Kurban and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s