Bacaan Shalat dengan Sirr (Pelan)


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, mengapa bacaan shalat Zhuhur dan Ashar yang kita lakukan pada siang hari harus kita baca secara sirr (tidak dikeraskan)? Padahal, dalam surah al-Isra ayat 110 kita diperintahkan untuk tidak terlalu mengeraskan dan juga tidak terlalu melunakkan, yang berarti tetap dengan suara, tapi tidak terlalu keras? Mohon penjelasan.

Khairul Razaq – Banten

Jawaban :

Imam Syathibi dalam kitabnya, al-Muwafaqat, menegaskan bahwa sesungguhnya syariat itu disyariatkan demi untuk kemaslahatan manusia, di mana semua taklif (perintah dan larangan) adalah untuk menghindari mafsadah (kerusakan), untuk mendapatkan maslahat (kemaslahatan), atau untuk mendapatkan kedua-duanya.

Imam Ibnu Qayyim juga menjelaskan dalam kitabnya, I’lam al-Muwaqqi’in, bahwa sesungguhnya syariat Islam itu dasar dan asasnya adalah di atas hikmah dan untuk kebaikan umat manusia, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Syariat itu seluruhnya adalah keadilan, rahmat, kebaikan, dan hikmah. Sikap terbaik seorang mukmin adalah dengan tunduk dan patuh pada syariat Allah dan rasul-Nya walau belum dapat menjangkau hikmah di balik syariat tersebut.

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar dan kami patuh. Dan, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS al-Nur [24]:51).

Namun, itu bukan berarti bahwa kita dilarang untuk menggali hikmah yang terdapat dalam setiap perintah dan larangan Allah SWT tersebut. Karena, dengan menggali dan mendalami hikmah itu dapat menambah keyakinan kita pada keagungan syariat Islam dan bahwa memang Islam itu datang dari Allah yang Mahabijaksana dan Mahatahu segala yang baik dan yang dibutuhkan oleh manusia.

Di antara hikmah perbedaan antara shalat-shalat yang dilakukan pada waktu malam dan waktu siang dengan jahr (mengeraskan suara) atau sirr adalah bahwa waktu malam adalah waktu yang tenang, sepi, dan hati dalam kondisi istirahat dari segala urusan dunia. Maka, waktu itu cocok dengan suara yang agak dikeraskan untuk menunjukkan kelezatan dan manisnya bermunajat kepada Allah SWT.

Selain itu, dapat membuat hati, lisan, dan telinga kita semuanya fokus pada bacaan yang di baca. Sedangkan, waktu siang hari yang merupakan waktu sibuk bekerja dan berusaha, di mana hati dan pikiran kita juga sedang disibukkan dengan segala urusan tersebut, maka waktu itu cocok dengan bacaan sirr (tidak dikeraskan) agar setiap orang yang mengerjakan shalat pada siang hari juga membaca bacaan, tidak hanya sekadar mendengar bacaan imamnya. Sehingga, pikirannya bisa fokus dan tidak memikirkan hal-hal lain selain shalatnya. Kecuali, dalam shalat-shalat yang menjadi syiar agung umat Islam dan waktu berkumpulnya umat Islam dalam jumlah banyak, seperti shalat Jumat, shalat Ied, shalat Istisqa, dan shalat gerhana.

Hal itulah yang ditegaskan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya bangun pada waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan pada waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).” (QS al-Muzammil [73]: 6-7).

Adapun ayat 110 surah al-Isra yang berarti, “Janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya. ” Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam menyebutkan sebab turunnya (asbab al-nuzul) ayat ini, di antara pendapat itu adalah:

  • Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun kepada Nabi SAW di Makkah, di mana jika beliau shalat bersama para sahabatnya, beliau mengeraskan suaranya dan jika orang-orang musyrik mendengar bacaan Nabi tersebut mereka menghina Al-Quran, Allah yang menurunkannya dan Rasulullah SAW. Maka, Allah SWT berfirman, “Janganlah kamu mengeraskan suaramu” dalam shalatmu sehingga bisa didengar oleh kaum musyrikin, “dan janganlah pula merendahkannya” sehingga para sahabatmu tidak bisa mendengarkannya. Dengarkanlah Al-Quran kepada sahabatmu, tapi jangan terlalu keras.
  • Diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan doa.
  •  Ibnu Sirin menjelaskan bahwa orang Arab biasanya mengeraskan suaranya dalam tasyahud maka turunlah ayat ini menjelaskan.
  • Ibnu Sirin juga meriwayatkan bahwa Abu Bakar biasa melunakkan suaranya dalam shalat sedangkan Umar mengeraskannya.  Ketika mereka ditanya mengapa melakukan hal itu maka Abu Bakar menjawab bahwa beliau bermunajat kepada Tuhannya dan Dia maha mengetahui apa kebutuhannya. Sedangkan, Umar menjawab, “Aku ingin mengusir setan dan membangunkan orang yang tidur. Ketika ayat ini diturunkan maka dikatakan kepada Abu Bakar, “keraskan suaramu sedikit!” dan dikatakan kepada Umar, “Rendahkan suaramu sedikit!”
  • Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa maksudnya adalah janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalat pada waktu siang dan janganlah kamu melunakkan suaramu dalam shalat pada waktu malam.

Tata cara shalat fardhu yang lima waktu telah dijelaskan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dan, hal itu telah dilakukan dan diikuti seluruh umat Islam sepanjang sejarah umat ini karena memang tata cara segala macam ibadah yang diwajibkan Allah SWT. Umat Islam hanya dapat diterima jika itu dilandaskan pada apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Dan, ayat 110 surah al-Isra itu tidak menyangkut semua shalat, tapi berdasarkan salah satu pendapat dalam sebab turunnya ayat itu adalah kita tidak mengeraskan suara dalam shalat pada waktu siang dan tidak melunakkan suara dalam shalat pada waktu malam sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 4 September 2012 / 17 Syawal 1433 H

Ilustrasi : republika.co.id

    ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Ibadah, Shalat and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Bacaan Shalat dengan Sirr (Pelan)

  1. assalammualaikum…
    pa ustad,, saya ingin bertanya, mengapa di atahiyat akhir ada doa minta perlindungan dari adzab kubur. ?? bukan kah kubur itu adalah alam peristirahatan dan memangnya adzab kubur itu ada menurut dalil baik al-Quran ataupun hadis, dan apakah yang menyebabkan seseorang mendapat adzab kubur ?
    mohon penjelasan nya ustad.

    terimakasih
    wassalammualaikum …

    Rifqy dari bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s