Tragedi Sampang Lagi?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya sangat prihatin dengan terjadinya lagi kekerasan dan tragedi Sampang jilid dua. Yang saya tahu Suni dan Syiah itu telah ada dalam sejarah Islam dan memang berbeda semenjak lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Mengapa kekerasan dan tragedi ini selalu berulang? Bagaimana caranya mencegah dan menghindari kejadian itu terulang?

Mahmudah — Sumenep

Jawaban :

Tragedi Sampang jilid dua ini pastinya sangat memprihatinkan, hanya merugikan umat Islam umumnya dan keluarga korban pada khususnya. Bagaimanapun hal ini kontra produktif dan sangat sia-sia.

Memang, sebagaimana yang sudah diketahui oleh umat Islam bahwa kelompok Suni dan Syiah sudah ada sejak lebih dari 1.000 tahun yang lalu, mulai dari zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib. Perbedaan yang ada antara kedua kelompok dalam umat Islam ini memang susah dipertemukan karena adanya perbedaan yang sangat tajam di antara keduanya, bahkan memasuki ranah akidah seperti dalam masalah Imam yang menurut kaum Syiah adalah ma’shum (terhindar dari dosa) berbeda dengan Suni yang menurut mereka yang ma’shum itu hanya Nabi SAW. Begitu juga perbedaan dalam menyikapi Al-Quran, periwayatan hadis, dan sikap terhadap para sahabat Nabi SAW.

Untuk mencapai kerukunan dan persatuan itu dan mencegah timbulnya kembali konflik dalam masyarakat, kita harus saling menghargai dan memahami perbedaan yang ada dan menjauhi hal-hal yang akan menyebabkan timbulnya konflik dan benturan di antara kelompok umat. Dr Yusuf al-Qaradhawi (ketua persatuan ulama Muslim sedunia) yang juga merupakan salah seorang ulama yang gigih mendekatkan antara kelompok internal umat Islam, terutama antara Suni dan Syiah menjelaskan dalam salah satu wawancaranya bahwa untuk mendekatkan antara Suni dan Syiah maka kita harus menjauhkan hal-hal yang menyebabkan konflik dan benturan antara kedua kelompok umat Islam ini. Beliau menyebutkan di antara hal yang sangat berpotensi menimbulkan konflik dan benturan adalah:

  • Mengatakan bahwa Al-Quran yang ada di tangan umat Islam sekarang ini tidak lengkap, sementara keyakinan mayoritas umat Islam (Suni), Al-Quran yang ada sekarang ini sama dengan yang diturunkan kepada Nabi SAW tidak kurang dan tidak lebih karena Allah SWT sendiri yang menjamin untuk menjaganya.
  • Berhenti menghina dan mencaci maki para sahabat Nabi SAW karena mayoritas umat Islam meyakini bahwa para sahabat Nabi SAW merupakan manusia-manusia yang dipilih Allah untuk menjadi sahabat rasul-Nya, membawa amanah syariat-Nya kepada seluruh umat manusia setelah wafatnya Nabi, mengajarkan Al-Quran kepada generasi setelahnya dan menjadi pendamping Nabi SAW dalam perjuangannya men egakkan agama Allah SWT. Dan Rasulullah SAW melarang umatnya menghina para sahabatnya:  Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabatku! Demi yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya seorang dari kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan menyamai satu mud (raupan tangan) salah satu dari mereka bahkan tidak setengahnya.” (HR Muslim).
  • Setiap kelompok tidak boleh menyebarkan mazhabnya di daerah atau negara yang masyarakatnya murni adalah penganut salah satu mazhab. Karena hal itu akan menyebabkan munculnya benih-benih konflik akibat adanya perbedaan yang tajam antara kedua kelompok umat Islam Suni dan Syiah ini yang sangat sulit untuk dipertemukan. Sebagaimana yang sekarang terjadi di Irak yang hampir tiap hari terjadi saling bunuh antara Syiah dan Suni.

Maka, janganlah kelompok Syiah bercita-cita “mensyiahkan Indonesia”. Sebagaimana kelompok Suni tidak boleh berkeinginan mensunikan Iran yang memang sudah Syiah. Selama keinginan untuk “mensyiahkan Indonesia” masih diembuskan oleh kelompok Syiah yang ada di negeri ini, maka selama itu pula akan memancing munculnya “ketersinggungan mayoritas” penganut Suni yang tidak ingin anaknya, cucunya, dan sanak keluarganya menjadi Syiah yang menurut keyakinan mereka tidak termasuk ke dalam golongan yang selamat (al-firqah al-Najiyyah) sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis Nabi SAW.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 31 Agustus  2012 / 13 Syawal 1433 H

Ilustrasi : Satu Islam

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

 

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aqidah, Bachtiar Nasir, Dunia Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s