Peran Pengacara


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, apa sesungguhnya tugas atau peran seorang advokat lawyer dalam syariah? Kemarin saya dengar ada pejabat Depkumham berkata bahwa pembela koruptor adalah koruptor itu sendiri karena membabi buta membela koruptor demi mendapatkan bayaran dari si koruptor.

Marzuki — Kendari

Jawaban :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang-orang yang khianat.“ (QS an-Nisa:105).

Profesi pengacara atau advokat atau konsultan hukum dalam Islam berdasarkan akad wakalah (perwakilan), seseorang mewakilkan kepada orang lain untuk melakukan suatu perkara yang dibolehkan secara syar’i. Dalam hal ini, klien mewakilkan perkaranya kepada advokat untuk diselesaikan, baik di pengadilan maupun di luar pengadilan.

Hukum asal bekerja sebagai pengacara atau advokat ini adalah dibolehkan. Bahkan, menjadi mulia selama memenuhi ketentuan syar’i, bukan untuk melanggar hukum atau aturan Allah SWT, dan demi mencegah terjadi kezaliman, serta menyampaikan hak kepada yang berhak menerimanya. Terutama, kepada pihak yang lemah atau tidak memiliki pengetahuan tentang hukum sebuah perkara yang sedang dihadapinya, sebagaimana diterangkan Allah azza wa jalla pada ayat di atas.

Berprofesi sebagai advokat dalam Islam merupakan bentuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Al-Quran, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS al-Maidah: 2).

Rasulullah SAW juga menjelaskan, Anas ra. berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Tolonglah saudaramu yang berbuat kezaliman atau yang dizalimi!’.Lalu, seorang laki-laki bertanya, ‘Saya menolongnya jika ia dizalimi, tapi bagaimana saya menolongnya jika ia berbuat zalim?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Engkau mencegah atau melarangnya dari berbuat zalim maka itulah bentuk menolongnya.’” (HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Bukhari).

Seorang advokat harus betul-betul berusaha mencari dan berkata benar, serta menjauhi segala bentuk kebohongan, pemalsuan, dan pemutarbalikan fakta dalam membela kliennya. Advokat sejati tidak berjuang membela yang bayar. Maka, ketika menerima suatu perkara, seorang advokat harus meneliti secara saksama perkara yang akan dibelanya. Jika ia menemukan bahwa kebenaran berada di pihak kliennya maka ia harus membelanya, dan berusaha untuk menegakkan kebenaran yang ia temukan. Tetapi, jika ia menemukan bahwa kliennya berbuat zalim atau terbukti melakukan kejahatan maka ia harus menjelaskan hal itu kepadanya dan menasihatinya untuk berhenti berbuat zalim dan mengembalikan hak orang lain yang telah diambilnya. Bukan malah membelanya dengan segala cara agar ia terbebas dari hukuman dan hak-hak orang yang dizaliminya tidak dapat dikembalikan.

Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya akan hal ini. Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang membantu salah satu pihak yang bersengketa dengan cara-cara yang tidak benar atau membantu seseorang untuk berbuat zalim maka dia selalu akan berada dalam murka Allah, sampai dia tidak lagi menolong orang tersebut.’”(HR Ibnu Majah dan al-Hakim).

Maka, tugas utama seorang pengacara adalah menegakkan keadilan dan menyampaikan hak kepada yang berhak menerimanya. Ia harus membantu hakim agar dapat melihat perkara secara jernih dan dari segala aspeknya sehingga hakim dapat memutuskan perkara dengan adil. Dan, advokat tidak merekayasa keputusan hakim yang dapat menguntungkan salah satu pihak yang berperkara tanpa bukti dan argumen yang kuat.

Selain itu, yang diharamkan kepada advokat berlaku sebaliknya, yaitu membolak-balikan fakta, memalsukan kesaksian, atau menyuap para hakim untuk memenangkan kliennya. Padahal, ia tahu kliennya memang bersalah dan patut dihukum. Hal ini yang diingatkan oleh Rasulullah SAW dalam hadisnya. Ummu Salamah meriwayatkan dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Aku hanyalah seorang manusia dan sesungguhnya kalian berselisih kepadaku, dan mungkin sebagian kalian lebih fasih argumentasinya dari sebagian yang lain. Lalu, aku menghukumi untuknya berdasarkan apa yang aku dengar. Maka, barang siapa yang telah aku putuskan perkaranya, dengan memberikan sebagian dari hak saudaranya, janganlah dia mengambilnya karena sesungguhnya aku putuskan baginya sepotong api neraka.“ (HR Bukhari dan Muslim).

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 1 September  2012 / 14 Syawal 1433 H

Ilustrasi : Legal Help Hub 

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s