Bagian Waris Suami atau Istri


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, alhamdulillah sedikit demi sedikit saya dapat belajar ilmu waris via kolom konsultasi Republika. Pada edisi sebelumnya, saya mempelajari tentang bagian suami istri. Namun, timbul pertanyaan, bagaimana jika suami atau istri wafat dan ia tidak memiliki ahli waris yang lain, baik orang tua, keturunan, atau kerabat? Hal yang saya tahu, bagian suami ½ (jika tidak ada anak) atau ¼ (jika ada anak) dan istri mendapatkan ¼ (jika tidak ada anak) atau 1/8 (jika ada anak). Ke manakah sisa dari bagian tersebut di atas?

Haryadi — Depok

Jawaban :

Alhamdulillah, semua berjalan atas kehendak Allah SWT yang disertai ikhtiar yang optimal dalam mengkaji ilmu waris ini. Jika seorang suami wafat dan hanya meninggalkan istrinya saja atau seorang istri wafat dan hanya meninggalkan suaminya saja maka ia mendapatkan bagian fardh ditambah sisanya. Sisa ini disebut radd.

Terdapat perselisihan pendapat di kalangan para sahabat radhiallahu `anhum, begitupun para fuqaha setelah mereka. Pendapat pertama mengatakan, tidak ada radd. Jika ada sisa, dikembalikan kepada baitulmal (lembaga keuangan). Pendapat ini dikatakan oleh Zaid bin Tsabit, Ibnu ‘Abbas, ‘Urwah, dan Az-Zuhry. Pendapat ini mensyaratkan jika baitulmalnya teratur dan amanah. Jika tidak, maka sisa tersebut dikembalikan kepada ahli waris yang ada sebagai radd. (kitab: Ahkamul Mawarits, DR Muhammad Thaha Abuala al-Khalifah, hal 429).

Pendapat kedua diusung oleh Utsman bin ‘Affan dan kalangan fuqaha mazhab Hanafi mengatakan adanya radd untuk dzawil furudh (ahli waris yang mendapatkan bagian pasti) dan juga suami istri termasuk yang mendapatkan radd. Tapi, dalam hal ini, suami atau istri bisa mendapatkan radd dengan syarat tidak ada ahli waris yang lain, yaitu ahli waris yang mendapatkan fardh (bagian pasti) atau ‘ashabah atau dzawil arham. Pendapat ini diterapkan dalam Undang-Undang Mesir. (kitab: Ahkamul Mawarits, DR Muhammad Thaha Abu’ala al-Khalifah, hal 430).

Pendapat ketiga diusung oleh Ali bin Abi Thalib, jumhur sahabat dan tabi’in yang mengatakan bahwa radd hanya diberikan kepada dzawil furudh nasabiyyah, yaitu ahli waris yang mendapatkan bagian pasti yang ada hubungan nasab. Berarti, suami atau istri tidak termasuk yang mendapatkan radd karena tidak ada hubungan nasab. (kitab: Ahkamul Mawarits, DR Muhammad Thaha Abu’ala al-Khalifah, hal 431).

Dari ketiga pendapat di atas, mayoritas fuqaha melihat bahwa masalah radd diberikan kepada dzawil furudh, yaitu anak perempuan, cucu perempuan (dari jalur anak laki-laki), ibu, nenek (jalur ibu atau jalur ayah), saudara perempuan kandung, saudara perempuan seayah, dan saudara laki-laki atau perempuan seibu. Ditambah suami atau istri dengan syarat tidak ada dzawil arham.

Jadi, syarat terjadinya masalah radd adalah : (1) Adanya sisa bagian; (2) Adanya ahli waris yang mendapatkan radd; (3) Tidak ada ‘ashabah .

Syarat tambahan bagi suami atau istri: tidak ada dzawil arham

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 3 September  2012 / 16 Syawal 1433 H

Ilustrasi : Anne Ahira

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Waris and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s