Mengqadha Iktikaf


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, jika kita tidak sempat melakukan iktikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, apa kita bisa mengqadhanya di luar bulan Ramadhan?

Fitrah Savera

Jawaban :

Iktikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan niat untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Iktikaf hukumnya sunah dan sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, terutama pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Aisyah ra. meriwayatkan bahwa Nabi SAW selalu beriktikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan sampai Allah SWT mewafatkannya. Kemudian istri-istri beliau beriktikaf setelahnya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagai ibadah sunnah, maka jika telah berniat untuk iktikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, namun terhalang sehingga kita tidak sempat melakukannya atau sudah memulai namun terhalang sehingga kita tidak dapat menyelesaikannya hingga akhir Ramadhan, maka menurut jumhur ulama dari kalangan mazhab Syafi’i, mazhab Hanbali, dan salah satu pendapat dalam mazhab Hanafi tidak diwajibkan untuk mengqadhanya, tetapi disunnahkan. Hal itu berdasarkan hadits Nabi SAW.

Dari Aisyah ra. ia berkata, “Rasulullah SAW selalu beriktikaf tiap bulan Ramadhan, apabila beliau selesai dari shalat subuh, maka beliau masuk ke tempat iktikaf beliau.“ Berkata perawi, “Kemudian Aisyah meminta izin kepada beliau untuk beriktikaf, Rasulullah SAW mengizinkannya. Kemudian Aisyah membuat kemah di tempat tersebut. Hafshah mendengarnya, kemudian dia pun membuat kemah. Zainab juga mendengarnya, dia pun membuat kemah. Ketika Rasulullah SAW selesai dari shalat subuh, beliau melihat 4 kemah, kemudian berkata, “Apa ini?“ Beliau dikabarkan apa yang tengah terjadi, lalu berkata, “Apa yang membuat mereka melakukan hal ini? Lepaskanlah hingga aku tidak melihatnya.“ Kemudian kemah-kemah itu dilepas dan beliau tidak beriktikaf pada bulan Ramadhan tahun itu sehingga beliau beriktikaf pada 10 hari terakhir bulan Syawal.“ (HR. Bukhari). Riwayat Muslim juga menyebutkan, “Beliau beriktikaf pada 10 hari awal bulan Syawal.“

Dalam hadits ini Nabi SAW tidak memerintahkan kepada para istrinya untuk mengqadha iktikaf yang tidak jadi mereka lakukan. Tidak ada pula riwayat yang menjelaskan bahwa istri-istri Nabi tesebut mengqadha iktikaf mereka.

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa Nabi SAW mengqadha iktikafnya pada bulan Syawal. Hal itu menunjukkan bahwa disunahkan untuk mengqadha iktikaf yang tidak sempat dilakukan pada bulan Ramadhan.

Dalam mengqadha iktikaf, Nabi SAW mencontohkan dengan mengqadhanya pada bulan Syawal atau di bulan Ramadhan tahun depannya sebagaimana dijelaskan dalam suatu hadits.

Ubay bin Ka’ab meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selalu beriktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Pada suatu tahun beliau sedang dalam perjalanan sehingga beliau tidak beriktikaf. Maka, pada tahun depanya beliau beriktikaf selama 20 hari. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, al-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, dan al-Baihaqi).

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 30 Agustus  2012 / 12 Syawal 1433 H

Ilustrasi : Dakwah Kampus UNY

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Ibadah, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s