Kasus Waris Dzawil Arham


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Adik kakek saya baru saja meninggal dunia dan meninggalkan sebidang tanah. Sewaktu hidup dia mengalami gangguan jiwa dan tidak pernah menikah. Dia di bawah asuhan kakek. Setelah kakek meninggal, adik kakek itu dirawat ibu saya dan kami. Dia memiliki beberapa saudara dan semua saudaranya sudah meninggal. Sekarang yang masih hidup adalah ibu saya (anak perempuan dari saudara laki-laki sekandung), ibu saya dua anak laki-laki dan empat anak perempuan, anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu (adik kakek saya yang tidak waras tersebut memiliki saudara seibu sekarang tinggal anak laki-lakinya yang belum tahu Islam atau Kristen karena anak laki laki tersebut dulunya Kristen), dan dua cucu perempuan dari saudara laki-laki sekandung, yaitu dari adik kakek yang paling bungsu. Siapa ahli warisnya dan bagiannya berapa saja?

Ibu Siti – Bekasi

Jawaban :

Semoga Allah SWT selalu memberikan hidayah kepada kita untuk menjalankan syariat-Nya. Langkah pertama yang harus diketahui adalah kejelasan anak laki-laki dari saudara seibu, apakah tatkala pewaris wafat, ia dalam keadaan Islam? Jika Muslim, ia berhak mendapatkan hak waris. Tapi jika sebaliknya, ia tidak mendapatkan hak waris. Merujuk pada kasus di atas, kita temukan kerabat yang ditinggal oleh almarhum.

Mereka adalah anak perempuan dari saudara laki-laki kandung, yaitu keponakan si mayit, dua anak perempuan dan empat anak laki-laki dari poin pertama (anak perempuan dan laki-laki dari keponakan si mayit), anak laki-laki dari saudara seibu (keponakan si mayit), dan cucu perempuan dari saudara kandung yang bungsu, yaitu anak perempuan dari keponakan si mayit. Dalam kasus ini, semua yang ditinggalkan si mayit adalah kelompok dzawil arham.

Dzawil arham adalah setiap kerabat yang tidak termasuk ashabul furudh atau ahli waris yang mendapatkan bagian pasti dan bukan golongan ashabah atau ahli waris yang mendapatkan bagian tidak pasti/lunak. Para ulama berbeda pendapat dalam kewarisan dzawil arham. Imam Malik dan Asy-Syafi’i berpendapat, mereka tidak mewarisi.

Sedangkan Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat, mereka dapat mewaris dengan syarat tidak ada ashabul furudh dan ashabah sama sekali dan apabila hanya bersama dengan suami atau istri.

Dalam hal ini, insya Allah kita menggunakan metode Ahluttanzil, yaitu dengan menempatkan dzawil arham pada status dzawil arham kepada status ahli waris yang menjadikan sebab adanya pertalian nasab dengan pewaris (ahli waris ini disebut mudla bih). Wallahu a’lam bish-shawab

Jadi seolah-olah, si mayit meninggalkan :

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 25 Juli  2012 / 5 Ramadhan 1433 H

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Waris and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s