Kasus Waris Ashabah Ma’al Ghair 


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya seorang mahasiswa sebuah universitas Islam, sedang menghadapi masalah yang rumit dalam soal kewarisan. Bagaimana cara menyelesaikan kasus waris suatu keluarga, di mana pewaris yang wafat meninggalkan seorang anak perempuan, seorang cucu perempuan (anak perempuan dari jalur laki-laki), seorang saudara perempuan kandung, dan paman kandung. Dalam kasus ini, adakah ahli waris perempuan menghijab/menghalangi ahli waris laki-laki?

Iswandana – Ciputat

Jawaban :

Berbahagialah Anda jika tertarik dengan ilmu kewarisan Islam yang sedikit sekali orang mau mendalaminya. Padahal, betapa besar dampak bahaya sosialnya jika ilmu kewarisan Islam ini diabaikan. Dalam Surah al-Anfal ayat 73 Allah SWT berfirman, “Jika kamu (hai para Muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” Ibnu Abbas menafsirkan, yang dimaksud dalam ayat ini di antaranya adalah jika umat Islam tidak melaksanakan ilmu kewarisan sesuai ajaran Islam di lingkungan sosialnya, terjadi kerusakan.

“Telah mengabarkan kepada kami, Abu ‘Abdillah Az-Zahid Al-Ashfahani, Usaid bin ‘Ashim, Al-Husain bin Hafsh, dan Sufyan dari Abu Qais Al-Audy dari Huzail bin Syarhabil berkata, ‘Aku telah mendatangi Abu Musa dan berkata, ‘Aku telah mendatangi Abu Musa dan  Sulaiman bin Rabi’ah untuk bertanya tentang bagian anak perempuan, cucu perempuan (dari jalur anak laki-laki), dan saudara perempuan kandung.’ Mereka menjawab, ‘Bagian anak perempuan ½ dan bagian saudara perempuan kandung ½.’ Kemudian mereka berkata, ‘Datangilah Ibnu Mas’ud, maka ia akan menyetujui pendapat kami.’ Maka aku pun mendatangi Ibnu Mas’ud dan menceritakan masalahku. Ibnu Mas’ud berkata, ‘Jika demikian, aku telah tersesat dan tidak termasuk ke dalam orang-orang yang diberi hidayah. Akan tetapi, aku akan memutuskan sebagaimana keputusan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bagian anak perempuan ½, cucu perempuan (dari jalur anak laki-laki) mendapat 1/6, adapun sisanya untuk saudara perempuan kandung. Sisa tersebut dinamakan ‘Ashabah Ma’al Ghair’.” (HR Al-Hakim dalam Mustadrak ‘ala shahihain).

Merujuk pada hadis di atas, anak perempuan mendapatkan ½. Allah berfirman, ”Jika anak perempuan itu seorang saja, ia memperoleh separuh harta.” (QS An-Nisa [4]: 11). Cucu perempuan mendapatkan 1/6, sebagai penyempurna dari 2/3, sesuai dengan hadis di atas. Dan saudara perempuan kandung mendapatkan sisa (sisa ini disebut ‘ashabah ma’al ghair). Dalam kondisi ini, saudara perempuan kandung dapat menghijab/menghalangi ahli waris laki-laki yang mendapatkan ashabah. Sedangkan paman kandung terhijab/terhalangi oleh saudara perempuan kandung. Tetapi, jika saudara perempuan dalam kondisi fardh (bukan pada ‘ashabah), paman tidak terhijab.

Adapun perincian penyelesaian kasus adalah sebagai berikut.

 

 

 

 

 

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 16 Juli  2012 / 28 Sya’ban 1433 H

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Waris and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s