Membiarkan Harta Waris


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, ada seorang anak laki-laki tidak segera menyelesaikan urusan waris sedangkan ayah ibunya telah lama tiada. Dia memiliki dua saudara laki-laki dan empat perempuan. Tiga di antaranya non-Muslim. Dia merasa tidak enak terhadap saudara non-Muslimnya. Bagaimana Islam memandang hal ini?

Jawaban :

Dalam penyelesaian masalah waris, terdapat uraian dalam surah an-Nisa ayat 11, “Allah mewasiatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu….”  Dalam ayat ini terdapat kata yushiikum dari kata wasiat yang berarti mewajibkan. Karena itu, melaksanakan syariat waris adalah wajib hukumnya.

Di akhir ayat ini, Allah berfirman, “Ini adalah faridhah (ketetapan) dari Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Semua ketetapan Allah dalam pembagian waris adalah berasal dari pengetahuan-Nya yang telah menciptakan semua makhluk dan kehendak-Nya yang penuh kasih sayang dan kebijaksanaan yang sempurna untuk semua hamba-Nya.

Allah menegaskan semua itu pada ayat 12 dengan ayat penutup, “(Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.”  Dan, pada akhir surah an-Nisa, Allah mengingatkan bahwa urgensi penyelesaian masalah waris dengan aturan Allah adalah demi menghindari kesesatan penghitungan berdasarkan kepentingan hawa nafsu.

“Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu supaya kamu tidak sesat. Dan, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS an-Nisa [4]: 176).

Membiarkan harta terbengkalai tanpa penyelesaian yang jelas berdasarkan syariat waris sama saja membiarkan kezaliman tetap berlangsung. Tidak membagikan harta kepada yang berhak adalah perbuatan yang diharamkan Allah. Rasulullah bersabda, “Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka neraka lebih layak baginya.” (HR Ahmad, Baihaqi, dan an-Nasa’i).

Berdasarkan ayat-ayat dan hadis di atas, jelaslah sudah hukum penyelesaian waris adalah sebuah ketetapan dari Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Sama halnya dengan kewajiban shalat, zakat, shiyam, dan lainnya. Apabila semua itu dikerjakan, seseorang akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan, akan berdosa.

Allah memastikan jaminan surga bagi mereka yang melaksanakan syariat waris, seperti disebutkan dalam firman-Nya, “(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedangkan mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS an-Nisaa’: 13).

Dan, Allah juga memastikan azab bagi yang membangkang terhadap ketetapan-Nya dalam hukum waris. Allah berfirman, “Dan, barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedangkan ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS an-Nisaa’: 14).

Berkenaan dengan status sebagian dari ahli waris yang bukan Muslim, menurut syariat Islam, mereka tidak mendapatkan hak waris. Ketetapan ini merujuk pada sabda Rasulullah, “Seorang Muslim tidak dapat mewarisi harta orang kafir dan orang kafir pun tidak dapat mewarisi harta orang Muslim.” ( HR Muttafaq ‘alaih ).

Untuk menjembatani kasus di atas, kepada ahli waris yang telah mengetahui kewajiban menyelesaikan waris dengan hukum Allah, segeralah melaksanakannya, jangan mendahulukan perasaan enak dan tidak enak, padahal di sisi lain hukum Allah diabaikan. Bukankah hanya Allah yang paling adil dalam memutuskan segala perkara?

Setelah diselesaikan hukum waris sesuai syariat Islam, hendaklah masing-masing ahli waris memberikan bagian (sekadarnya) kepada saudara-saudaranya yang beda agama sebagai hadiah disertai dengan pengharapan atau targhib agar mereka kembali kepada agama fitrah (Islam).

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 10 Juli  2012 / 20 Sya’ban 1433 H

Gambar : Muslimah Zone

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Waris and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s