Shalat Id dan Hukum Mengqadhanya


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Shalat Idul Fitri di Victoria Park, Hong Kong

Ustadz, apakah hukumnya shalat Id? Bagaimana seandainya kalau saya terlambat datang ke tempat shalat Id seperti tahun lalu, shalat sudah selesai dan khatib sudah mulai berkhotbah, apa yang sebaiknya harus saya lakukan? Apakah ikut mendengar khotbah atau bagaimana ustadz?

Jaya Prima – Bekasi

Jawaban :

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat Id bagi kaum Muslimin. Mazhab Hanbali berpendapat bahwa shalat Id hukumnya fardhu kifayah. Mereka berlandaskan kepada amalan Rasulullah SAW yang tidak pernah meninggalkan shalat Id, dan karena shalat Id adalah salah satu syi’ar Islam yang harus diperlihatkan serta pelaksanaannya dilakukan secara berjamah. Maka itu, jika telah ada jamaah yang melakukannya jatuh kewajibannya bagi yang lain.

Mazhab Hanafi dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad berpendapat shalat Id hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap Muslim). Ini juga yang dipegang oleh Syekh Ibnu Taimiyyah dan al-Syaukani. Mereka berlandaskan kepada beberapa dalil, yaitu “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. (QS al- Kautsar [108]: 2).

Ibnu Qudamah dalam al-Mughni menjelaskan maksud shalat dalam ayat ini adalah shalat Id. Tapi, kebanyakan ulama berpendapat bahwa shalat yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah shalat pada umumnya, bukan khusus untuk shalat Id. Maka ayat ini tidak kuat untuk dijadikan dalil pendapat yang mengatakan bahwa shalat Id itu fardhu ‘ain.

Mereka juga berlandaskan kepada hadis Nabi SAW yang memerintahkan semua orang untuk keluar melaksanakan shalat Id itu, bahkan wanita pun diperintahkan Nabi SAW untuk keluar.

Dari Ummu ‘Athiyah ra, ia berkata, “Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, baik ‘awatiq (wanita yang baru baligh), wanita haid, maupun gadis yang dipingit. Adapun wanita haid, mereka memisahkan diri dari tempat pelaksanaan shalat dan mereka menyaksikan kebaikan serta doa kaum Muslimin.

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.” Beliau menjawab, “Hendaklah saudarinya (sesama Muslimah) meminjamkan jilbab kepadanya.” (HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim).

Sedangkan Mazhab Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa hukum shalat Id adalah sunah muakkadah, dan ini pendapat yang lebih kuat karena Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah hanya mewajibkan shalat lima waktu bagi seorang Muslim, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadis.

Thalhah bin Ubaidillah meriwayatkan bahwasanya seorang A’rabi (Arab Badui) yang berambut kusut datang kepada Rasulullah SAW, dia berkata, “Wahai Rasulullah, beri tahukan kepadaku tentang shalat yang diwajibkan Allah kepadaku.” Beliau bersabda, ”Shalat yang lima waktu, kecuali jika ingin melakukan yang sunah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Adapun jika kita terlambat datang dan shalat Id sudah selesai dilaksanakan, dalam masalah mengqadha shalat Id ini ada perbedaan pendapat juga di kalangan ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa apabila ia tidak sempat shalat Id bersama imam secara jamaah, ia tidak perlu mengqadhanya. Karena shalat Id ini disyariatkan untuk dilakukan secara berjamaah maka tidak perlu diganti jika ia terlambat melakukannya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa ia disunahkan menggantinya dengan empat rakaat tidak memakai jumlah takbir sebagaimana dalam shalat Id. Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa disunahkan menggantinya dengan tata cara yang sama dengan shalat Id berjamaah. Dan inilah pendapat yang lebih kuat berdasarkan keumuman perintah Nabi SAW untuk mengganti shalat yang terlewatkan.

Dalam hadis Rasulullah SAW dijelaskan. Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila shalat telah dilaksanakan, janganlah seseorang berjalan dengan tergesa-gesa mendatangi shalat itu, tetapi hendaklah ia berjalan dengan tenang. Shalatlah apa yang kamu dapati dan sempurnakanlah apa yang terlewat’.” (HR Muslim).

Imam Bukhari juga mengkhususkan bab untuk mengganti shalat Id ini dalam bab ‘jika seseorang ketinggalan shalat Id maka hendak lah ia shalat dua rakaat’. Dan, Imam Bukhari menyebutkan bahwa Anas bin Malik jika tertinggal shalat Id, ia mengumpulkan istri dan anak-anaknya lalu shalat bersama mereka sebagaimana shalat Id secara berjamaah.

Jika seseorang datang ke tempat shalat Id dan khatib sedang berkhotbah, hendaknya dia ikut dulu mendengarkan khotbah, baru kemudian melaksanakan shalat Id sendiri agar bisa mendapatkan keutamaan mendengar khotbah dan keutamaan melakukan shalat Id.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 25 Agustus  2012 / 7 Syawal 1433 H

Ilustrasi : Dompet Dhuafa Hong Kong

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Puasa, Ramadhan, Shalat and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s