Tata Cara Zakat Fitrah


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, apa hukumnya membayar zakat fitrah ? Berapa kadarnya ? Dan, bolehkah saya keluarkan dari awal Ramadhan atau harus sebelum shalat Id pada waktu Hari Raya Idul Fitri?

Nurcahyati Agung — Solo

Jawaban :

Zakat al-fithri yang biasa kita sebut dengan zakat fitrah diwajibkan kepada umat Islam pada tahun kedua hijriah, yaitu tahun yang sama diwajibkannya puasa Ramadhan. Hukum menunaikan zakat fitrah bagi setiap pribadi umat Islam adalah wajib, baik yang dewasa maupun kecil, laki-laki maupun perempuan, orang merdeka maupun budak, dengan syarat dia memiliki harta yang lebih dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang menjadi tanggungannya pada hari Idul Fitri. Dan, seseorang harus menunaikan zakat fitrah itu untuknya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya, seperti istri dan anaknya, dari makanan pokok yang biasa ia konsumsi sehari-hari dalam keluarganya.

Hukum dan kadar zakat fitrah dijelaskan oleh Nabi SAW dalam hadisnya dari Ibnu Umar ra ia berkata, “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah dengan satu sha kurma atau satu sha gandum bagi setiap Muslim yang budak maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Zakat tersebut diperintahkan dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat Id.“ (HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Bukhari).

Abu Sa’id al-Khudri mengatakan bahwa ketika Rasulullah SAW masih berada di tengah-tengah kami, biasa kami mengeluarkan zakat fitrah dari setiap anak kecil dan orang dewasa, merdeka atau budak dari tiga jenis, yaitu satu sha kurma, satu sha keju, atau satu sha gandum. Kami selalu mengeluarkannya seperti itu hingga Mu’awiyah bin Abu Sufyan datang dan berpendapat bahwa dua mud gandum nilainya sebanding dengan satu sha kurma. Abu Sa’id berkata, “Sedangkan, aku tetap mengeluarkan seperti dulu.“ (HR Muslim).

Adapun kadarnya sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis Nabi SAW adalah satu sha, yaitu empat mud. Ukuran satu mud adalah ukuran isi penuh genggaman kedua telapak tangan. Dan, para ulama berbeda pendapat dalam mengonversikan takaran itu ke dalam ukuran dan takaran zaman sekarang di mana ada yang mengatakan bahwa ukuran itu lebih kurang sekitar 2,5 kg dan ada juga yang mengatakan lebih kurang tiga kg. Biasanya, di negara kita, pemerintah memberi kemudahan bagi umat Islam dengan membantu menetapkan kadar zakat fitrah yang harus dikeluarkan oleh tiap orang Islam, baik dalam bentuk beras yang menjadi makanan pokok mayoritas rakyat negara ini maupun dalam bentuk uang sesuai dengan harga beras yang dikeluarkan.

Dan, para ulama berbeda pendapat dalam masalah menunaikan zakat fitrah dengan uang. Jumhur ulama dari kalangan ulama Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i, dan Mazhab Hambali berpendapat bahwa tidak boleh menunaikan zakat fitrah dalam bentuk uang. Hal itu berdasarkan hadis-hadis yang menjelaskan tentang zakat fitrah tidak ada yang menyebutkan tentang menunaikannya dalam bentuk uang, semuanya menyuruh untuk membayarkan zakat fitrah dalam bentuk bahan makanan.

Mazhab Hanafi berpendapat bahwa boleh menunaikan zakat fitrah dalam bentuk uang.
Mereka beralasan bahwa tujuan asal dari diwajibkannya zakat fitrah itu adalah agar orang fakir dan miskin tidak sampai terpaksa meminta-minta pada Idul Fitri dan itu bisa dilakukan dengan memberikan makanan kepadanya dan bisa juga dengan cara memberikan uang kepadanya agar ia pergunakan untuk memenuhi kebutuhannya pada Hari Raya Idul Fitri. Bahkan, mungkin memberikannya dalam bentuk uang lebih baik. Ini juga merupakan pendapat sebagian tabiin, seperti Hasan al-Basri, Abu Ishaq al-Sabi’i, dan pendapat Umar bin Abdul Aziz.

Sedangkan, Imam Ibnu Taimiyyah dan salah satu pendapat dalam Mazhab Hambali berpendapat bahwa boleh mengeluarkan zakat fitrah itu dalam bentuk uang jika memang ada keperluan dan maslahat bagi fakir dan miskin yang menerimanya. Mereka menjelaskan bahwa hukum asal dalam zakat fitrah adalah dalam bentuk makanan, tetapi boleh keluar dari hukum asal tersebut jika terdapat maslahat.

Menyangkut masalah waktu pengeluaran zakat fitrah ini, para ulama sepakat bahwa zakat fitrah itu wajib karena telah berbuka atau selesai dari puasa Ramadhan. Tetapi, mereka berbeda pendapat dalam menetapkan waktu wajibnya. Imam Syafi’i, Ahmad, dan salah satu riwayat dari Imam Malik berpendapat bahwa zakat fitrah ini wajib dengan terbenamnya matahari pada hari terakhir Ramadhan sedangkan Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Malik berpendapat bahwa zakat ini wajib dengan terbitnya matahari pada Idul Fitri.

Kemudian, para ulama menjelaskan bahwa waktu yang paling afdal untuk mengeluarkan zakat fitrah adalah pada waktu sebelum keluar untuk melaksanakan shalat Id dan tidak boleh menunaikannya setelah shalat Id. Sebagaimana yang ditegaskan dalam hadis Nabi SAW.

Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih diri orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa membayarkannya sebelum shalat Idul Fitri maka ia adalah zakat yang diterima oleh Allah dan barang siapa yang membayarkannya setelah shalat maka ia adalah sedekah biasa.“ (HR Abu Daud, Ibnu Majah, Hakim, dan al-Baihaqi).

Adapun dalam masalah menunaikannya sebelum waktu wajibnya maka seperti yang dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa boleh membayarnya sehari atau dua hari sebelum Idul Fitri.

“Dan, mereka (para sahabat) membayar zakat fitrah itu sehari atau dua hari sebelum Idul Fitri.” (HR Bukhari dan Muslim).

Maka, jika memang diperlukan mengeluarkannya dari awal Ramadhan, hal itu dibolehkan menurut pendapat Imam Syafi’i dan sebagian ulama lainnya.

Tetapi, yang lebih utama dan afdal tentu mengeluarkannya pada waktunya, yaitu pada waktu sebelum keluar untuk melaksanakan shalat Id agar tujuan dari zakat fitrah, yaitu supaya para fakir miskin tidak sampai terpaksa untuk meminta-minta pada Idul Fitri, tercapai. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 23 Agustus  2012 / 5 Syawal 1433 H

Ilustrasi : voa-islam.com

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Puasa, Ramadhan, Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s