Iktikaf Nabi


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, tidak lama lagi Ramadhan akan memasuki fase sepertiga terakhirnya, yaitu sepuluh hari terakhir Ramadhan dan yang saya ketahui umat Islam sangat dianjurkan beriktikaf. Bagaimana Rasulullah menjalankan iktikafnya?

Rusydi Kh – Jakarta

Jawaban :

Rasulullah selalu beriktikaf pada awalnya dalam 10 hari awal Ramadhan, lalu dalam sepuluh pertengahannya hingga akhirnya beliau diberitahu bahwa lailatul qadar itu ada di sepuluh terakhir Ramadhan. Setelah itu, beliau selalu dan tidak pernah meninggalkannya sampai beliau wafat.

Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, “Rasulullah melakukan iktikaf pada sepuluh hari pertama pada bulan Ramadhan dan kami pun beriktikaf bersamanya. Lalu, Jibril datang dan berkata, “Sesungguhnya apa yang kamu minta ada di depanmu.” Beliau beriktikaf pada sepuluh malam pertengahannya dan kami pun ikut beriktikaf bersamanya. Lalu, Jibril datang lagi dan berkata, “Sesungguhnya apa yang kamu minta ada di depanmu,” Nabi berdiri, berkhutbah pada pagi hari yang ke-20 pada bulan Ramadhan dan bersabda: “Barang siapa yang iktikaf bersama Nabi, pulanglah. Karena sesungguhnya aku telah diperlihatkan lailatul qadar, tetapi aku dilupakan waktunya yang pasti. Lailatul qadar akan terjadi pada sepuluh hari terakhir, yaitu pada malam ganjilnya. Sungguh aku melihat dalam mimpi, aku sujud di atas tanah dan air. Pada masa itu atap masjid masih terbuat dari daun dan pelepah pohon kurma dan kami tidak melihat sesuatu di atas langit hingga kemudian datang awan dan turunlah air hujan. Nabi shalat bersama kami hingga aku melihat sisa-sisa tanah dan air pada wajah dan keningnya sebagai bukti kebenaran mimpi beliau.” (HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Bukhari).

Pada tahun menjelang wafatnya, beliau beriktikaf selama 20 malam. Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Nabi biasanya selalu beriktikaf 10 hari dalam bulan Ramadhan, sedangkan pada tahun kematiannya beliau beriktikaf selama 20 hari.” (HR Bukhari). Pada suatu waktu beliau melakukan perjalanan dalam bulan Ramadhan sehingga tidak sempat beriktikaf. Beliau menggantinya selama 20 hari pada tahun berikutnya.Terkadang, beliau menggantinya dengan beriktikaf sepuluh hari pada bulan Syawal.

Ubay bin Ka’ab meriwayatkan, Rasulullah selalu beriktikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Pada suatu tahun beliau mengadakan perjalanan sehingga beliau tidak beriktikaf, lalu pada tahun berikutnya beliau beriktikaf 20 hari. (HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, al-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, dan al-Baihaqi).

Waktu untuk memulai iktikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, ketika matahari terbenam pada malam ke-21. Hal ini berdasarkan pendapat ulama, meskipun ada hadis Nabi yang menjelaskan beliau memasuki tempat iktikafnya setelah shalat Subuh.

Dari Aisyah, ia berkata, “Jika ingin beriktikaf, Rasulullah shalat Subuh kemudian memasuki tempat iktikafnya.” (HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim). Imam Nawawi menjelaskan, sebenarnya Nabi telah lebih dahulu beriktikaf di masjid. Hadis Aisyah tersebut bukanlah menunjukkan Nabi memulai iktikaf pada saat itu, tetapi sebenarnya telah beriktikaf dan tinggal di masjid sebelum waktu Maghrib.

Tatkala beliau melaksanakan shalat Subuh pada hari setelahnya, barulah beliau menyendiri di tempat iktikaf yang khusus dibuatkan untuk beliau. Dalam beriktikaf, Nabi membuat kemah sebagai tempat mendekatkan diri dan berinteraksi dengan Allah SWT. Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, “’Rasulullah melakukan iktikaf pada sepuluh hari pertama Ramadhan. Lalu, ia melakukannya pada sepuluh hari pertengahan Ramadhan dalam sebuah tenda dengan beralaskan selembar tikar.” (HR Muslim).

Beliau tidak pernah keluar dari masjid kecuali jika ada keperluan mendesak, seperti buang air, makan, minum, ataupun bersuci. Shalat Jumat dan kebutuhan mendesak lainnya yang tidak tersedia dan tidak bisa dilakukan di dalam masjid. Dari Aisyah, ia berkata, “Adalah Rasulullah jika sedang beriktikaf beliau menyorongkan kepalanya kepadaku, lalu aku menyisir kepalanya. Beliau tidak masuk rumah kecuali jika ada kebutuhan sebagai manusia.” (HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim).

Bahkan, seorang yang sedang beriktikaf tidak disunahkan menjenguk orang sakit atau menyaksikan jenazah agar ia bisa fokus beribadah, bermunajat kepada Allah, dan betul-betul putus dengan keduniaan yang merupakan tujuan iktikafnya.

Nabi betul-betul menggunakan kesempatan iktikaf untuk fokus dan memperbanyak amal ibadahnya dengan segala bentuk ibadah dari berzikir, membaca Al-Quran, shalat yang wajib maupun sunah bukan mengobrol. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 9 Agustus 2012/20 Ramadhan 1433 H

Ilustrasi : seekersguidance.org

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

 

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Ibadah, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s