Puasa Bagi Perempuan Hamil


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, dua tahun saya hamil dan tidak berpuasa selama 20 hari karena hamil saya agak susah sampai diopname empat kali. Kemudian, saya menyusui anak pertama saya, ASI tidak keluar kalau saya berpuasa. Bagaimana mengatasi masalah ini?

Hafida Hz – Karawang

Jawaban :

Islam adalah agama mudah dan memberikan kemudahan syariat bagi orang yang dalam kesulitan. “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
Dan, hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” ( QS al-Baqarah [2] :
185 ).

Bagi perempuan yang sedang hamil atau menyusui anaknya jika mereka kuat dan tidak mengkhawatirkan keselamatan dan kesehatan diri serta janin atau bayinya, dia harus melaksanakan kewajiban berpuasa. Tetapi, jika berpuasa akan membahayakan diri dan bayinya menurut pengalaman atau petunjuk dokter, para ulama bersepakat dibolehkan baginya berbuka dan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan.

Dari Anas bin Malik, seorang laki-laki dari Bani Abdullah bin Ka’ab, ia berkata, “Telah datang kuda Rasulullah kepada kami. Lalu aku mendatangi beliau dan mendapatkannya sedang makan. Kemudian beliau bersabda, ‘Mendekatlah dan makanlah’. Aku menjawab, ‘Aku sedang puasa’. Beliau bersabda, ‘Mendekatlah, akan aku ceritakan kepadamu tentang puasa. Sesungguhnya Allah SWT memberikan keringanan bagi seorang musafir dari berpuasa dan dari setengah shalat, dan memberikan keringanan bagi perempuan hamil dan menyusui dari beban puasa.”’ ( HR Ahmad, Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, dan al-Nasa’i ).

Namun, para ulama berbeda pendapat tentang apa yang harus dilakukan perempuan hamil atau menyusui tersebut untuk membayar puasa yang ditinggalkannya pada bulan Ramadhan. Ulama Mazhab Hanafi berpendapat, perempuan hamil atau menyusui hanya diwajibkan mengqadha semua puasa yang ia tinggalkan di bulan Ra madhan itu pada bulan-bulan lainnya. Perempuan hamil atau menyusui tergolong mereka yang sakit sehingga tidak berpuasa pada bulan Ramadhan.

“( Yaitu ) Dalam beberapa hari yang tertentu. Barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan ( lalu ia berbuka ), ( wajiblah baginya berpuasa ) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain. Dan, wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya ( jika mereka tidak berpuasa ) membayar fidyah, ( yaitu ) memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itulah yang lebih baik baginya. Dan, berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS al-Baqarah [2] : 184).

Para ulama menjelaskan, jika perempuan itu menunda mengqadha puasa yang ditinggalkan karena udzur syar’i, seperti sakit berkelanjutan hingga memasuki Ramadhan berikutnya, menyusui atau hamil, tidak berdosa baginya penundaan itu. Dan, hanya diwajibkan untuk mengqadha ( membayar ) puasa yang ia tinggalkan tersebut.

Sedangkan Ibnu Abbas dan salah satu riwayat dari Ibnu Umar mengatakan, untuk membayar puasa yang ia tinggalkan pada bulan Ramadhan itu, perempuan hamil atau menyusui hanya diwajibkan membayar fidyah tanpa mengqadhanya di luar Ramadhan. Abu Daud meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat di atas merupakan keringanan bagi orang yang sudah sangat tua dan tidak mampu lagi berpuasa untuk berbuka dan membayar fidyah, juga keringanan untuk perempuan hamil dan menyusui jika ia khawatir terhadap anaknya untuk berbuka dan membayar fidyah.

Jadi, di sini ia memasukkan perempuan hamil dan menyusui ke dalam golongan orang yang tidak kuat berpuasa sehingga hanya diwajibkan membayar fidyah, sebagaimana orang tua yang sudah tidak kuat lagi untuk berpuasa. Syekh Yusuf al-Qardhawi mengikuti pendapat ini, untuk perempuan hamil dan menyusui dalam jarak waktu yang sangat rapat sehingga tidak sempat mengqadha puasanya, karena tahun ini ia hamil lalui menyusui kemudian hamil lagi.

Mazhab Syafi’i dan Hanbali berpendapat, jika perempuan hamil atau menyusui itu tidak berpuasa karena takut dan khawatir terhadapnya, dia hanya diwajib kan untuk mengqadha puasa yang ia tinggalkan karena dikategorikan orang yang sakit.

Tetapi, jika dia tidak berpuasa karena khawatir terhadap anaknya saja, dia harus mengqadha puasa itu dan membayar fidyah. Sedangkan Mazhab Maliki dan Imam al-Laits berpendapat, hanya perempuan menyusui yang diwajibkan mengqadha dan membayar fidyah karena ia bisa membayar orang lain menyusui anaknya.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika,Kamis, 2 Agustus 2012/13 Ramadhan 1433 H

Ilustrasi : http://gurumia.com

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s