Menyikapi Hasil Ijtihad yang Berbeda dalam Penetapan Awal Ramadhan


Oleh : Ustadz Aam Amiruddin

A Palestinian man decorates his shop at the entrance of the Al-Aqsa mosque compound, Jerusalem, in preparation for the month of Ramadhan.

Pemerintah kembali berbeda dengan Muhammadiyah tentang penetapan awal Ramadhan. Kalau kami sekeluarga berpuasa ikut ketentuan Muhammadiyah, apakah berdosa karena berbeda dengan keputusan pemerintah?

Budi Aryadi, Depok

Jawaban :

Secara garis besar penentuan awal Ramadhan menggunakan dua metode,  hisab ( perhitungan matematis ) dan rukyat ( melihat hilal ). Metode tersebut dikategorikan sebagai ijtihad ( mencurahkan segala kemampuan intelektual untuk merespons persoalan dengan mengambil isyarat ilmiah dan hukum dari Al-Quran dan sunah ). Tentu saja yang berhak melakukan ijtihad adalah orang-orang yang memiliki kapasitas ilmiah yang mumpuni. Karena itu, semua hasil ijtihad mendapatkan nilai dari Allah. Kalau ijtihadnya benar nilainya dua poin, kalau salah satu poin.

Bagaimana menyikapi hasil ijtihad yang berbeda? Silakan pilih mana saja yang paling kita yakini kebenarannya. Anda tidak bersalah mengikuti hasil perhitungan Muhammadiyah kalau menurut pertimbangan logika itulah yang benar. Anda pun tidak bersalah mengikuti perhitungan pemerintah kalau itu yang paling benar menurut Anda. Dalam konteks ijtihad, berlaku kaidah “Al-ijtihaad laa yunqadhu bil ijtihad”  artinya “suatu ijtihad tidak bisa membatalkan atau menafikan ijtihad lainnya dalam kasus yang sama”.

Dengan demikian, memilih hasil mana pun pasti Anda benar dan berpahala. Yang salah, apabila saling menyalahkan, saling menghinakan, bahkan menimbulkan permusuhan ( QS Al-Hujurat [49] : 9-10 ).

Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Puasa, Cahaya Ramadhan , Republika, Senin, 23 Juli  2012 / 3 Ramadhan 1433 H

Judul dari admin ( aslinya tanpa judul )

Gambar : demotix

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aam Amiruddin, Fiqih, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s