Berpuasa tapi Korupsi


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Siswa SD Muhammadiyah 4 Surabaya, Kamis (12/07/2012) menggelar pawai Syiar Ramadhan 1433 H dengan tema “Ramadhan Suci Anti Korupsi”. ( Foto: Centroone.com/Suryanto )

Ustadz, yang kita tahu tujuan utama ibadah puasa adalah takwa dan indikasi ketakwaan seseorang itu adalah sifat jujur, sederhana, dan tidak cinta akan dunia. Tetapi, mengapa korupsi di negara kita yang mayoritas Muslim ini tetap saja menggila, bahkan mungkin kebanyakan koruptor itu rajin puasa Senin-Kamis dan puasa Daud?

Hamba Allah

Jawaban :

Ada berbagai versi definisi takwa yang dijelaskan oleh para ulama. Pada intinya, takwa adalah membangun dinding pembatas ( pelindung ) antara ia dan kemurkaan Allah SWT dari siksa neraka-Nya. Konsekuensi dari takwa tentunya menjalankan semua yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya dengan penuh keikhlasan.

Fenomena umat yang gagal dalam memaknai esensi Ramadhan sudah sejak lama diinformasikan Rasulullah SAW.  Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa bagian yang ia dapatkan ( hanyalah ) lapar dan dahaga. Dan, betapa banyak orang yang melakukan qiyamul lail, namun bagian yang ia dapat hanyalah begadang malam.” ( HR Ahmad, al-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah ).

Akibat dari kegagalan itu adalah munculnya sikap dan perilaku menyimpang yang bertentangan antara ibadah ritual yang sedang dilaksanakan dan perilaku yang harusnya sejalan dengan nilai-nilai ibadahnya. Korupsi, misalnya, kepada orang seperti ini Rasulullah menegaskan bahwa ibadah mereka sia-sia.

Secara ideologis atau akidah, para koruptor sesungguhnya penganut agama materialisme meski KTP mereka tertulis Islam. Syariat atau sistem hidup yang mereka anut bukanlah syariat Islam meski terlihat sedang berpuasa secara fisik. Sistem kapitalismelah yang sesungguhnya sedang berlangsung dalam kehidupannya. Hal itu tampak jelas pada gaya hidupnya yang hedonis meski tampak luarnya seakan-akan mereka adalah seorang Muslim.

Mental korup dapat dicegah melalui ibadah puasa jika pelakunya menyadari esensi puasa adalah menumbuhkan rasa empati kepada orang susah dan miskin. Puasa juga menanamkan nilai sosial yang sangat tinggi lewat kemampuan mengendalikan diri ( al imsak ) untuk membahagiakan lingkungan sosial di mana kita berada.

Melihat kondisi bangsa dengan krisis multidimensional yang melanda, hakikatnya kebanyakan dari umat ini masih melakukan puasa sekadar lepas dari kewajiban, sekadar bisa dianggap sebagai Muslim di tengah masyarakatnya, belum berpuasa dengan penuh keimanan dan pengharapan akan rahmat dan ampunan Allah. Berpuasa, tetapi masih syirik dalam beragama dengan menjadi penyembah materi.

Secara kualitatif, puasa yang bermakna adalah ketika orang yang berpuasa merasakan adanya kesadaran akan kedekatan hubungan langsung dengan penciptanya dan Dia sendirilah yang memberikan balasannya sehingga segala aktivitas yang dilakukan seperti lapar dan haus juga syahwat dan emosi diredam dan ditinggalkan semata-mata karena Allah.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 23 Juli  2012 / 3 Ramadhan 1433 H

Ilustrasi : Centroone

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s