Puasa dan Idul Fitri Ikut Siapa?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, pada tahun ini umat Islam Indonesia akan berbeda dalam masalah penetapan awal Ramadhan karena salah satu ormas Islam sudah menetapkan awal Ramadhan ini jatuh pada 20 Juli. Sedangkan, ormas-ormas Islam yang lain dan kemungkinan besar pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama, mengawali Ramadhan pada 21 Juli. Sebagai masyarakat awam, mana yang harusnya saya ikuti?

Zawawi Saifullah — Rembang

Jawaban :

Pada dasarnya, Rasulullah menyunahkan ( meneladankan ) kepada umatnya bahwa ibadah puasa, Idul Fitri, demikian pula Idul Adha adalah ibadah yang bersifat kolektif atau dilaksanakan serentak bersama seluruh kaum Muslimin. Abu Hurairah meriwayatkan, Nabi bersabda, “Puasa itu adalah pada hari ketika kalian semua berpuasa dan Idul Fitri adalah pada hari ketika kalian semua ber-Idul Fitri dan Idul Adha adalah ketika kalian semua ber-Idul Adha.” ( HR Tirmizi ).

Setelah meriwayatkan hadis ini, Imam Tirmizi mengatakan, sebagian ulama menafsirkan bahwa puasa dan Idul Fitri harus dilaksanakan bersama dengan jamaah dan mayoritas umat Islam. Imam al-Shan’ani dalam kitab Subulussalam juga menegaskan, dalam hadis ini terdapat dalil ketetapan Id akan dianggap jika sesuai dengan seluruh kaum Muslimin dan seseorang yang secara sendirian mengetahui hari Id dengan melihat hilal, wajib baginya menyesuaikan dengan yang lainnya dan hukum ini harus ia ikuti, apakah dalam waktu shalat, ber-Idul Fitri, ataupun ber-Idul Adha.

Dalam hadis ini, Rasulullah mengajarkan, bulan suci Ramadhan adalah salah satu syiar kebersamaan umat Islam. Di mana secara bersama-sama seluruh umat Islam melakukan saum Ramadhan dengan menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan dorongan hawa nafsu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, serta mengisi malam-malamnya dengan shalat tarawih dan ibadah lainnya. Ketika datang Idul Fitri atau Idul Adha, semua umat Islam merayakannya. Tak hanya kita umat Islam di Indonesia yang merasakannya.

Sebagai orang awam sebaiknya mengikuti keputusan mayoritas ulama yang didukung ulil amri ( pemerintah ), dalam hal ini akan ditetapkan melalui sidang itsbat Kementerian Agama, yang kemungkinan besar jatuh pada hari Sabtu 21 Juli 2012. Karena berdasarkan hadis di atas, mayoritas ulama dari dulu hingga sekarang memfatwakan agar umat Islam di setiap negara mengikuti keputusan pemerintahnya atau yang berwenang dalam penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri, atau Idul Adha.

Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa– nya meriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal, beliau menjelaskan, seseorang hendaklah berpuasa bersama penguasa dan mayoritas umat Islam, baik ketika cuaca cerah maupun mendung.

Syekh Yusuf al-Qaradhawi dalam kitab Fatawa Mu’ashirah-nya juga menegaskan, usaha untuk mempersatukan umat Islam dalam penetapan puasa dan hari raya itu harus selalu dilakukan dan tidak boleh berputus asa untuk mencapainya. Tetapi, satu hal yang perlu ditekankan dan sama sekali tidak boleh diabaikan adalah kalau belum sampai pada tujuan untuk mempersatukan umat Islam di seluruh dunia dalam masalah itu, paling tidak wajib untuk mempersatukan umat Islam dalam satu negara.

Bagi warga Muhammadiyah yang telah meyakini keputusan Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah, hendaklah mengikuti keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah tanpa keraguan sedikit pun, yang telah menetapkan awal Ramadhan jatuh pada Jumat, 20 Juli 2012. Kepada selain warga Muhammadiyah, wajib menghormati saudaranya serta diharamkan mencela, apalagi menyalahkannya karena Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah berijtihad berdasarkan syariat Islam yang benar dan di dasari ilmu pengetahuan dan teknologi yang sahih. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 20 Juli  2012 / 30 Sya’ban 1433 H

Ilustrasi : Chicago Hilal

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s