Puasa Setelah Pertengahan Sya’ban


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, ada pendapat yang mengatakan bahwa kalau sudah masuk pertengahan Sya’ban maka kita tidak boleh lagi melakukan puasa sunah. Benarkah? Katanya ada hadis dari Nabi SAW yang melarang itu.

Ramin – Banten

Jawaban :

Memang benar ada hadis Nabi SAW yang menjelaskan tentang larangan berpuasa setelah pertengahan bulan Sya’ban yang berbunyi: Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika telah memasuki pertengahan Sya’ban maka janganlah kalian berpuasa.” ( HR Tirmizi, Abu Daud, al-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ahmad, dan al-Baihaqi ).

Tetapi, para ulama hadis berbeda pendapat tentang kesahihan hadis ini. Sebagian ulama hadis berpendapat bahwa hadis ini adalah sahih. Seperti, Tirmizi yang mengatakan bahwa hadis ini adalah hadis hasan sahih, Ibnu Hibban mencatat dalam kitab Shahih-nya, Ibnu Qayyim mengatakan bahwa hadis ini adalah hadis sahih sesuai dengan syarat Imam Muslim, al-Thahawi dalam kitabnya, Syarh al-ma’ani, dan Ibnu Abdulbarr dalam kitabnya al-Istidzkar.

Sedangkan, sebagian ulama lainnya, Abdurrahman bin Mahdi, Imam Ahmad, dan Abu Zur’ah melemahkan hadis ini dan menganggap hadis ini adalah hadis mungkar.

Hal itu adalah karena dua sebab. Pertama, karena hadis ini adalah hadis yang hanya diriwayatkan oleh al-‘Ala bin Abdurrahman. Dan, ulama hadis berbeda pendapat tentang dia.

Ibnu Hajar mengatakan bahwa dia adalah seorang yang dipercaya tapi dia mungkin berkhayal. Imam Ahmad berkata, “Hadis ini bukanlah hadis yang banyak dihafal dan ketika saya bertanya kepada Ibnu Mahdi tentang hadis ini, ia tidak mensahihkannya dan tidak meriwayatkannya kepada saya serta ia menjauhi hadis ini.”

Imam Ahmad juga mengatakan bahwa al ‘Ala itu perawi yang tsiqah ( dipercaya ) dan tidak diingkari hadisnya kecuali hadis ini. Kedua, karena hadis ini bertentangan dengan hadis yang lebih kuat darinya.

Dari Aisyah ra ia berkata, “Rasulullah SAW berpuasa hingga kami mengatakan, beliau tidak berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengatakan, beliau tidak berpuasa. Dan, tidaklah aku melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa satu bulan sama sekali kecuali pada bulan Ramadhan, dan tidaklah aku melihat beliau dalam satu bulan lebih banyak melakukan puasa daripada berpuasa pada bulan Sya’ban.” ( HR Bukhari dan Muslim ).

Selain itu juga bertentangan dengan hadis yang menjelaskan bahwa Nabi SAW melarang untuk mendahului puasa Ramadhan dengan puasa sehari atau dua sebelumnya. Kecuali, bagi mereka yang memang terbiasa berpuasa seperti puasa Daud atau selalu puasa Senin dan Kamis maka diperbolehkan.

Karena perbedaan terhadap kedudukan hadis itu maka para ulama juga berbeda tentang hukum berpuasa setelah pertengahan Sya’ban. Jumhur ulama menganggap bahwa hadis yang melarang untuk berpuasa setelah pertengahan Sya’ban itu lemah maka puasa sunah setelah pertengahan Sya’ban itu boleh.

Sedangkan, sebagian ulama mazhab Hanbali dan mazhab Syafi’i berdasarkan hadis tersebut berpendapat bahwa makruh hukumnya berpuasa setelah pertengahan Sya’ban. Bahkan, sebagian ulama mazhab Syafi’i, seperti al-Ruyani berpendapat haram hukumnya berpuasa setelah pertengahan Sya’ban kecuali jika dia memang sudah berpuasa sebelumnya atau terbiasa berpuasa seperti orang yang melakukan puasa Daud atau Senin dan Kamis.

Mereka berpendapat bahwa hadis ini tidak bertentangan dengan hadis-hadis lain, tetapi bisa dikumpulkan dan diamalkan kedua-duanya. Yaitu, dengan menjelaskan bahwa larangan dalam hadis ini adalah bagi yang sengaja untuk hanya berpuasa setelah pertengahan Sya’ban bukan karena memang berpuasa dari awal Sya’ban atau memang terbiasa melakukan puasa sunah, seperti puasa Daud serta puasa Senin dan Kamis.

Sedangkan, hadis lain adalan anjuran secara umum untuk memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban.

Oleh karena itu, walaupun hadis larangan puasa setelah pertengahan Sya’ban itu sahih (yang pada kenyataannya banyak yang mendhaifkan) maka hal itu hanya menunjukkan makruh bukan haram dan itu hanya bagi yang memang sengaja hanya melakukan puasa sunah setelah pertengahan Sya’ban.

Adapun bagi yang sudah melakukan puasa sejak awal Sya’ban atau memang selalu melakukan puasa seperti puasa Daud serta puasa Senin dan Kamis maka hal itu tidak apa- apa karena kuatnya hadis Nabi yang menganjurkan untuk memperbanyak ibadah puasa sunah di bulan Sya’ban.

Apalagi, membayar puasa yang ditinggalkan pada Ramadhan sebelumnya maka hukumnya adalah wajib dan tidak boleh diakhirkan hingga masuk Ramadhan lagi kecuali karena ada uzur.
Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 14 Juli  2012 / 24 Sya’ban 1433 H

Ilustrasi : madaniwallpaper.com

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s