Hadis “Tidur adalah Ibadah”


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, apakah hadis yang menjelaskan bahwa tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah benar-benar berasal dari Nabi Muhammad SAW?

Hamba Allah

Jawaban :

Ada etika dalam meriwayatkan sebuah informasi yang dikaitkan dengan Rasulullah. Abdullah bin ‘Amru meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat dan ceritakanlah cerita-cerita dari Bani Israil dan tidak ada dosa. Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” ( HR Bukhari ). Riwayat masyhur yang menyebutkan tidurnya orang berpuasa itu ibadah termasuk ke dalam hadis dhaif jiddan ( lemah sekali ).

Bahkan, sebagian ulama mengatakan hadis ini maudhu’ ( palsu ). Al-Iraqi ketika men-takhrij hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Ihya `Ulumuddin karangan Imam al-Ghazali menjelaskan, hadis ini terdapat dalam kitab Amali karangan Ibnu Mandah dari riwayat Ibnu al-Mughirah al-Qawwas dari Abdullah bin Umar dengan sanad yang lemah. Kemungkinannya, itu dari Abdullah bin ‘Amru karena para ulama hadis tidak menyebutkan Ibnu al-Mughirah pernah meriwayatkan kecuali dari Abdullah bin ‘Amru.

Hadis ini juga terdapat dalam kitab Syu’ab al-Iman karangan Imam al-Baihaqi dengan redaksi, Dari Abdullah bin Abi Aufa al-Aslami, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya diipatgandakan pahalanya, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni’.” ( HR al-Baihaqi ). Tapi, Imam al-Baihaqi menjelaskan, dalam sanad hadis ini ada Ma’ruf bin Hassan, perawi yang lemah.

Dalam riwayat yang lain terdapat Sulaiman bin ‘Amru al-Nakh’i dan ia lebih lemah lagi. Bahkan, al-Iraqi menegaskan, Sulaiman ini adalah seorang pendusta yang memalsukan hadis. Ibnu Hibban mengatakan, Sulaiman adalah orang yang banyak memalsukan hadis dan termasuk penganut paham Qadariyah. Yahya bin Ma’in menegaskan, Sulaiman seorang pendusta yang banyak memalsukan hadis.

Namun, Syekh ‘Athiyyah Shaqr menjelaskan, seorang yang sedang berpuasa dan karena dalam pergaulannya sehari-hari dengan masyarakatnya akan menyebabkan ia melakukan hal-hal bertentangan dengan hikmah dari ibadah puasa itu sendiri. Seperti, berbohong, gosip, bergunjing, melihat yang haram, serta hal-hal yang diharamkan maka jika ia tidur dengan niat menghindari hal tersebut, tentu tidurnya jadi bernilai ibadah.

Hal itu sama dengan orang yang tidak mempunyai harta untuk bersedekah dan tidak mampu menolong orang lain maka sedekahnya, menurut Nabi, adalah dengan menahan diri dari berbuat buruk kepada orang lain. Dari Abu Sa’id bin Abi Burdah dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi, beliau bersabda, “Wajib atas setiap orang Muslim bersedekah.” Dikatakan kepada beliau, “Bagaimana bila ia tidak mampu?” Beliau menjawab, “Ia bekerja dengan kedua tangannya sehingga ia menghasilkan kemanfaatan untuk dirinya sendiri dan juga bersedekah.” Dikatakan lagi kepadanya, “Bagaimana bila ia tidak mampu?” Beliau menjawab, “Ia membantu orang yang benar-benar dalam kesusahan.” Dikatakan lagi kepada beliau, “Bagaimana bila ia tidak mampu?” Beliau menjawab, “Ia memerintahkan dengan yang makruf atau kebaikan.” Penanya kembali berkata, “Bagaimana bila ia tidak ( mampu ) melakukannya?” Beliau menjawab, “Ia menahan diri dari perbuatan buruk maka sesungguhnya itu adalah sedekah.” ( HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim ).

Namun, di lain pihak, jika seseorang yang berpuasa lebih memilih tidur daripada melakukan hal-hal positif, produktif, bermanfaat, serta bernilai ibadah, tentu hal itu bertentangan dengan perintah agama yang mewajibkan seorang Muslim menggunakan segala kemampuannya menjalankan sesuatu yang baik dan bermanfaat.

Karena itu, jika tidur yang dilakukan menghalangi diri dari perbuatan yang lebih bermanfaat dan positif, apalagi karena kemalasan, tentu tidur seperti itu salah dan sama sekali tidak ada nilai ibadahnya. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 13 Juli  2012 / 23 Sya’ban 1433 H

Judul asli : Hadis Tidur adalah Ibadah
Ilustrasi : QuranReading.com

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Ibadah, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Hadis “Tidur adalah Ibadah”

  1. Pingback: Ramadhan : Benarkah Tidur adalah Ibadah? | Semangat Menginspirasi

  2. Learn Quraan says:

    Ramadan is the most auspicious and blessed month of the Islamic year.During this month, Muslims can reap the maximum amount of benefits and rewards if they spend the entire month praying and worshiping Allah Almighty. It is for this reason that Muslims all over the world await Ramadan with great anticipation.For more details please visit the http://www.learnquraan.co.uk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s