Puasa Terlalu Panjang


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, selama bulan Ramadhan ini saya akan mengambil short course di Denmark. Shalat Maghrib di sana pukul 22.00 dan Subuhnya pukul 04.00. Masalahnya, berat bagi saya untuk berpuasa selama 18 jam. Bagaimana mengatasi masalah ini?

Hamba Allah

Jawaban :

“… Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa itu sampai ( datang ) malam …” ( QS al-Baqarah [2] : 187 ). “…Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” ( QS an-Nisa’ [4] : 103 ).

Sebagai agama universal Islam memiliki aturan ibadah yang bersifat umum dan khusus. Ketentuan waktu shalat secara umum hanya berlaku di zona bumi yang pembagian waktunya normal, di mana perbedaan waktu siang dan malamnya relatif kecil seperti daerah di sepanjang khatulistiwa dan tropis.

Perbedaan pendapat mengenai ketentuan ibadah puasa dan shalat bagi kaum Muslimin di wilayah-wilayah yang dekat dengan kutub adalah masalah ijtihadiyah. Para ulama ushul dan fikih menegaskan, nas-nas umum yang terdapat dalam Al-Quran dan hadis adalah untuk keadaan alam yang normal dalam kehidupan manusia pada umumnya.

Dalam masalah ini majma’ fiqh al-Islami ( organisasi ulama dari negara-negara OKI ) dalam sidangnya di Makkah pada 1406 Hijriah, memutuskan beberapa hal manyangkut permasalahan ini. Keputusan itu didukung Majelis Eropa untuk penelitian dan fatwa diketuai Syekh Yusuf al-Qaradhawi, dan juga sesuai dengan fatwa hai’ah kibar ulama Arab Saudi. Di antara keputusannya adalah membagi daerah yang dekat dengan kutub itu kepada tiga zona wilayah.

Pertama, wilayah yang terletak antara garis 45 derajat dan 48 derajat lintang utara maupun lintang selatan. Yaitu wilayah yang masih mengalami pergantian malam dan siang dalam satu hari dalam kurun waktu 24 jam, meski panjang siangnya sangat singkat atau sebaliknya panjang sekali. Untuk penduduk wilayah ini, waktu puasa dan shalatnya tetap sesuai dengan aturan baku dalam syariat Islam. Puasa tetap dimulai sejak masuk waktu Subuh ( terbitnya fajar ). Dan waktu berbukanya tetap pada saat matahari tenggelam meskipun itu merupakan waktu yang sangat lama.

Hal itu sesuai nas Al-Quran dan hadis yang menjelaskan waktu puasa dan shalat pada umumnya. Tetapi, jika seseorang merasa tidak mampu atau khawatir akan membayakan dirinya jika dia berpuasa dalam waktu lama, dibolehkan berbuka dan mengganti puasa yang ia tinggalkan itu di waktu lain yang ia mampu, seperti pada waktu musim dingin yang siangnya lebih singkat dari waktu malamnya.

Kedua, wilayah yang terletak antara garis 48 derajat dan 66 derajat lintang utara maupun selatan. Yaitu wilayah yang pada waktu tertentu tidak mengalami hilangnya mega merah (syafaqul ahmar) sampai datangnya waktu Subuh. Sehingga, tidak bisa dibedakan antara mega merah saat Maghrib dengan mega merah saat Subuh. Untuk wilayah ini, yang di lakukan adalah menyesuaikan waktu shalat Isyanya dengan waktu di wilayah lain yang terdekat yang masih mengalami hilangnya mega merah Maghrib. Begitu juga imsak puasa, disesuaikan dengan wilayah terdekat yang masih mengalami hilangnya mega merah Maghrib dan masih bisa membedakan antara dua mega itu sehingga diketahui waktu terbitnya fajar sebagai pertanda waktu Subuh.

Ketiga, wilayah yang terletak antara garis 66 derajat hingga wilayah kutub, baik utara maupun selatan, yaitu wilayah yang pada bulan-bulan tertentu mengalami siang selama 24 jam dalam sehari. Dan sebaliknya, pada bulan-bulan tertentu akan mengalami sebaliknya, yaitu mengalami malam selama 24 jam dalam sehari. Atau, wilayah yang matahari sama sekali tidak terbenam selama musim panas, dan tidak muncul sama sekali di musim dingin sehingga siangnya terus-menerus selama enam bulan, atau malamnya terus-menerus selama enam bulan juga.

Untuk wilayah ini maka jadwal shalat dan puasanya disesuaikan dengan jadwal shalat dan puasa di wilayah yang terdekat dengannya di mana masih ada pergantian siang dan malam setiap harinya, yaitu wilayah yang masuk zona pertama. Mengikut pendapat sebagian besar ulama zaman sekarang yang tergabung dalam lembaga di atas, bagi umat Islam yang pada saat Ramadhan berada di wilayah yang waktu siangnya lebih panjang dari waktu malamnya, tetapi masih ada pergantian siang dan malam selama 24 jam dalam sehari, ia tetap harus menjalankan puasanya jika tidak kuat bisa berbuka dan diganti di bulan lain. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 12 Juli  2012 / 22 Sya’ban 1433 H

Ilustrasi : Somali Blogs

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s