Hamil pada Bulan Puasa


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, tak lama lagi kita memasuki bulan suci Ramadhan dan saat itu, saya dalam keadaan hamil. Apakah saya boleh tidak berpuasa jika merasa tak kuat menjalankannya?

Dina Wkm — Mamuju

Jawaban :

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan, hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur.” ( QS al-Baqarah [2] : 185 ).

Pada dasarnya, perempuan yang sedang hamil juga menyusui jika mereka kuat dan tak khawatir akan keselamatan dan kesehatan diri serta bayinya, dia harus melaksanakan kewajiban puasa. Tetapi, jika dia khawatir kalau ia berpuasa akan membahayakan diri dan bayinya, menurut pengalamannya atau petunjuk dokter yang bisa dipercaya, ulama sepakat ia diizinkan untuk tidak berpuasa.

Dari Anas bin Malik, seorang laki-laki dari Bani Abdullah bin Ka’ab, berkata, “Telah datang kuda Rasulullah kepada kami. Lalu, aku mendatangi beliau dan mendapatkannya sedang makan. Lalu, beliau bersabda, ‘Mendekatlah dan makanlah.’ Aku menjawab, ‘Aku sedang puasa.’ Beliau bersabda, ‘Mendekatlah, akan aku ceritakan kepadamu tentang puasa. Sesungguhnya Allah memberikan keringanan bagi musafir dari berpuasa dan dari setengah shalat, serta memberikan keringanan bagi wanita hamil dan menyusui dari beban puasa.'” ( HR Ahmad, Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, dan al-Nasa`i ).

Tetapi, para ulama berbeda pendapat tentang apa yang harus dilakukan oleh wanita hamil atau menyusui tersebut untuk membayar puasa yang ditinggalkannya itu. Ulama Mazhab Hanafi berpendapat, wanita hamil atau menyusui itu hanya diwajibkan mengqadha atau mengganti semua puasa yang ia tinggalkan pada Ramadhan itu di bulan-bulan lainnya.

Mereka berargumen, wanita hamil atau menyusui itu termasuk pada kategori mereka yang sakit sehingga tidak berpuasa pada Ramadhan. Ditegaskan dalam Alq-Qran, orang yang sakit dan sedang dalam perjalanan dibolehkan tidak berpuasa dan mengqadha di bulan lain. Tidak ada kewajiban lainnya. Allah berfirman, “( Yaitu ) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka, barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka ( wajiblah baginya berpuasa ) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain.” ( QS al-Baqarah [2] : 184 ).

Abu Daud meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat 184 Surah Al-Baqarah itu merupakan keringanan. Yaitu, bagi orang yang sudah sangat tua yang tidak mampu lagi berpuasa untuk berbuka dan membayar fidyah, juga keringanan bagi wanita hamil dan menyusui jika ia khawatir terhadap anaknya agar berbuka dan membayar fidyah. Jadi, di sini ia memasukkan wanita hamil dan menyusui ke dalam golongan orang yang tidak kuat untuk berpuasa.

Sehingga, wanita itu hanya diwajibkan berfidyah sebagaimana orang tua yang sudah tidak kuat lagi untuk berpuasa. Wanita yang hamil dan menyusui dalam jarak waktu yang sangat rapat sehingga tidak sempat mengqadha puasanya karena tahun ini dia hamil, terus menyusui, lalu hamil lagi, Allah tak menginginkan kesulitan baginya.

Tapi, bagi yang jarak kehamilannya tidak rapat dan mungkin hanya hamil dua atau tiga kali seumur hidupnya, dia harus mengqadha puasanya pada bulan Ramadhan. Sedangkan, Mazhab Syafii dan Hanbali berpendapat, jika wanita hamil atau menyusui itu tidak berpuasa karena takut dan khawatir terhadap dirinya, dia hanya diwajibkan mengqadha puasa yang ia tinggalkan.

Dalam kasus ini, wanita itu termasuk orang yang sakit, tetapi jika dia tidak berpuasa karena khawatir terhadap anaknya saja, dia harus mengqadha puasa itu dan membayar fidyah. Mereka menjelaskan, riwayat dari Ibnu Abbas yang mengharuskan membayar fidyah itu sebagai tambahan di samping kewajiban mengqadha puasa.

Mazhab Maliki dan Imam al-Laits berpendapat, hanya wanita menyusui yang diwajibkan mengqadha dan membayar fidyah karena ia bisa membayar orang lain untuk menyusui anaknya. Sedangkan, wanita hamil hanya diwajibkan mengqadha karena kehamilannya itu bagian dari dirinya yang tidak terpisah. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 11 Juli  2012 / 21 Sya’ban 1433 H

Gambar : onislam.net

ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s