Bekal Shaum Ramadhan


Oleh: Ustadz Aam Amiruddin

Ustadz, insya Allah bulan ini kita akan melaksanakan shaum Ramadhan, untuk itu mohon dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan Ramadhan sebagai pegangan untuk bisa mengarunginya.

Tatang@….. com


Jawaban :

Tiada kata yang dapat mewakili rasa bahagia saat Ramadhan tiba, kecuali ucapan hamdalah ( Segala puji milik-Mu ya Allah, Engkau masih memberikan umur kepadaku untuk menikmati bulan yang penuh barakah dan ampunan ). Sejumlah kaum Muslimin menyambutnya dengan menggelar sejumlah kegiatan keislaman, seperti tablig akbar, bazar, dll. Hal ini wajar, mengingat betapa besar keutamaan bulan Ramadhan.

“Jika masuk bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” ( HR Bukhari ).

Dibuka pintu-pintu surga, maksudnya ibadah pada bulan Ramadhan nilainya berlipat ganda bila dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Kalau kita mengisinya secara optimal, akan terbuka lebar pintu-pintu surga, otomatis pintu neraka pun tertutup karena peluang maksiat berkurang. Dengan demikian, setan pun terbelenggu karena banyak umat yang meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya. Akhirnya, dosa-dosa berguguran dan insya Allah kita akan mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya,

“Barangsiapa shaum Ramadhan dengan dasar iman dan mengharap ridla Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”  ( HR Ahmad dan Bukhari ).

Shaum Ramadhan diwajibkan satu setengah tahun  setelah hijrah. Ketika itu Nabi saw baru diperintahkan mengalihkan qiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

Shaum, secara etimologi bermakna menahan diri dari sesuatu, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Menurut definisi ahli fikih, shaum berarti menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari.

Hikmah Ramadhan

Apabila Allah swt mewajibkan sesuatu kepada manusia, pasti ada hikmahnya. Kalau kita  cermati, paling tidak ada lima hikmah diwajibkannya shaum Ramadhan:

1.   Menghapuskan Dosa-dosa Kecil

Sebagai manusia, kita tak pernah lepas dari kesalahan, kekeliruan, dan kemaksiatan. Tidak ada manusia yang steril dari dosa, kecuali para nabi yang ma’shum ( terpelihara dari perbuatan dosa ). Shaum Ramadhan merupakan sarana untuk menghapuskan dosa. Kalau kita diberi umur dan kesehatan untuk melaksanakan shaum Ramadhan tahun ini, shaum yang kita lakukan menjadi penghapus dosa-dosa kecil setahun ke belakang, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “… Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan kesalahan-kesalahan di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR Muslim)

2.   Melatih Muraqabah

Muraqabah artinya kondisi psikis ( jiwa ) yang selalu merasa ditatap, dilihat, dan diawasi Allah swt. Seorang pelajar atau mahasiswa  yang muraqabah tidak akan menyontek walaupun tidak diawasi. Seorang karyawan yang muraqabah tidak akan korup walaupun ada kesempatan untuk melakukannya. Ketika shaum, kalau belum tiba waktu berbuka, kita tidak berani makan atau minum walau tidak ada seorang pun yang melihat kita, padahal makanan dan minuman tersedia. Jelaslah bahwa shaum menjadi ajang latihan muraqabah.

3.   Melatih Pengendalian Nafsu

Manusia memiliki tiga nafsu ( dorongan) yang selalu berkompetisi ( bersaing ), yaitu nafsu Amarah, Lawwamah, dan Muthmainnah.

Nafsu Amarah adalah dorongan untuk melakukan pelanggaran dan kemaksiatan. Manusia paling saleh pun memiliki dorongan ini, karenanya sudah dipastikan tidak ada manusia yang steril dari dosa.

Nafsu Lawwamah adalah nafsu yang suka mengoreksi saat kita melakukan dosa atau kemaksiatan. Kalau kita melakukan kemaksiatan, berbohong misalnya,coba siapa yang pertama kali mengingatkan bahwa perbuatan tersebut salah ? Diri kita sendiri kan ? Inilah yang disebut nafsu lawwamah. Bersyukurlah bila kita masih merasa bersalah kalau melakukan dosa, ini menunjukkan nafsu lawwamah-nya masih berfungsi. Kalau kita sudah tidak merasa  bersalah lagi saat berbuat maksiat, ini menunjukkan nafsu lawwamah-nya sudah tidak peka, bahkan mungkin tidak berfungsi lagi.

Nafsu Muthmainnah adalah dorongan untuk berbuat kebaikan. Jiwa merasa tentram kalau melaksanakan aturan-aturan Allah. Manusia yang paling bejat di muka bumi ini pun memiliki nafsu muthmainnah, karenanya sebejat-bejatnya orang pasti dia pernah berbuat kebaikan. Manusia hakikatnya haniif  ( cenderung pada kebaikan ), karena itu manusia akan merasa tenang , tentram, dan bangga kalau sudah berbuat kebaikan, serta merasa gelisah dan menyesal bila melakukan pelanggaran dan dosa.

Ketiga macam nafsu di atas, Ammarah, Lawwamah, dan Muthmainnah selalu bersaing. Apabila nafsu muthmainnah memenangkan persaingan, akan lahir perbuatan baik. Kalau nafsu amarah yang menang ( dominan ), akan lahir perbuatan dosa. Jadi, shaum melatih jiwa agar bisa mengendalikan nafsu amarah, bahkan bisa menundukkannya, sehingga yang dominan dalam diri kita adalah nafsu muthmainnah. Dengan demikian, yang terlahir dalam ucapan dan perbuatan kita hanyalah hal-hal yang baik, benar, dan diridhai Allah swt.

4.   Menajamkan Kepekaan Sosial

Shaum bisa menjadi ajang latihan kepekaan sosial, sebab dalam waktu tertentu ( sejak terbit fajar hingga terbenam matahari ) kita dilarang makan atau minum, sehingga bisa merasakan lapar. Sesungguhnya hal ini harus kita proyeksikan pada nasib sebagian saudara kita yang kurang beruntung. Di antara mereka ada yang hanya mampu makan sekali dalam satu hari atau bahkan hanya satu kali dalam dua hari.

Dengan latihan ini, diharapkan kita menjadi lebih tanggap pada penderitaan orang lain. Ingat sabda Rasul saw bahwa belum dikategorikan sempurna iman seseorang kalau tidur dalam keadaan kenyang padahal dia tahu tetangganya tidak bisa tidur karena lapar.

5.  Menyehatkan Badan

Para ahli kesehatan menyebutkan bahwa usus manusia – juga organ-organ yang berkait dengannya – dalam tempo tertentu perlu dikurangi beban kerjanya. Shaum merupakan sarana untuk mengurangi beban kerja organ-organ tersebut. Sungguh benar apa yang disabdakan  Rasul saw , “Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat”. ( HR Abu Daud )

Cara Pelaksanaan

Agar hikmah shaum ini bisa kita raih, kita harus memahami teknik pelaksanaan shaum Ramadhan yang dicontohkan Rasulullah saw.

1.   Tabyit

Tabyit  artinya mempersiapkan diri pada malam hari untuk melakukan sesuatu esok hari. Tabyit sering disamakan dengan niat. Rasulullah saw memerintahkan agar tabyit ( niat) pada malam harinya untuk melakukan shaum pada esok hari.

“Barangsiapa yang tidak tabyit ( niat ) untuk shaum sebelum fajar, tidak ada shaum baginya.”  ( HR Daruquthni )

“Barangsiapa yang tidak membulatkan niatnya untuk shaum sebelum fajar, tidak sah shaumnya.” ( HR Ahmad dan Ash-Habus Sunan, dan dishahihkan oleh Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban )

Kebiasaan pada masyarakat kita, niat itu diucapkan dengan cara dibimbing, biasanya diucapkan selesai melakukan shalat tarawih, Nawaitu shauma ghadin … dst. Sesungguhnya niat puasa tidak diucapkan pun hukumnya sah, karena niat itu pekerjaan hati bukan pekerjaan lisan. Jadi, meskipun lisan tidak mengucapkan, namun kalau hati sudah berniat, shaumnya sah.

Penulis singgung persoalan ini karena ada kasus seseorang tidak puasa karena tidak sempat membaca niat ( mengucapkan nawaitu ) pada malam harinya. Kerancuan ini muncul karena salah memahami niat. Ingat ! Niat itu tempatnya di hati bukan pada lisan. Saya menegaskan hal ini tanpa mengurangi rasa hormat kepada yang suka melafazkannya.

2.  Sahur

Kita dianjurkan untuk sahur walaupun hanya dengan seteguk air. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kekuatan pada tubuh dalam menjalani shaum pada siang hari. Rasulullah saw bersabda,“Bersahurlah kamu, karena sesungguhnya sahur itu berbarakah.” ( HR Bukhari – Muslim )

“Sahur itu berbarakah, maka lakukanlah walaupun hanya dengan seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan malaikat memberkahi orang-orang yang sahur.” ( HR Ahmad )

3.   Imsak

Imsak artinya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan ( makan, minum, hubungan intim, dll ) dari terbit fajar ( waktu shubuh ) hingga terbenam matahari ( waktu maghrib ), sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,”Maka sekarang ( malam hari), boleh kamu mencampuri mereka ( istri ), … dan makan-minumlah hingga nyata garis putih dari garis hitam berupa fajar, kemudian sempurnakanlah shaum sampai malam.” ( QS. Al-Baqarah [2] : 187 ).

Yang dimaksud “nyata garis putih dari garis hitam berupa fajar” adalah waktu shubuh. Artinya, pada malam hari kita diperbolehkan makan, minum, berhubungan intim, dll. Namun, saat waktu subuh tiba, semuanya harus dihentikan hingga datang waktu maghrib.

4.  Menjauhi Kemaksiatan

Shaum merupakan latihan pengenalian nafsu. Orang yang shaum namun tidak mampu menjauhkan diri dari ucapan dan perbuatan maksiat ( bohong, gosip, dll ), maka nilai puasa orang tersebut akan berkurang, sebagaimana sabda Rasulullah saw, ”Siapa yang tidak meninggalkan ucapan maksiat bahkan melakukannya, Allah tidak akan menghargai puasanya.” ( HR Bukhari )

5.   Menyegerakan Ifthar ( berbuka )

Apabila adzan maghrib tiba, kita dianjurkan untuk menyegerakan ifthar ( berbuka puasa ). Rasulullah saw menyebutkan bahwa orang-orang yang menyegerakan ifthar senantiasa berada dalam kebaikan.“Orang-orang yang berpuasa senantiasa berada dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka.” ( HR Bukhari – Muslim )

6.   Doa Berbuka Shaum

Ada sejumlah hadits tentang doa berbuka shaum. Silakan pilih mana yang paling Anda sukai.

Allahumma inni as-aluka birahmatikallati wai’at kulla syai’in an taghfira lii. “Ya Allah, sesungguhnya hamba memohon kepada-Mu, dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampiniku.” ( HR Ibnu Majah )

Dzahaba zhama-u wabtallatil ‘aruuqu wa tsabatal ajru insya Allah. “Dahaga telah hilang, tenggorokan sudah basah, insya Allah pahalanya tetap ( abadi )” (HR ad-Daruquthni)

Allahumma laka shumtu wa’ala rizqika afthartu. “Ya Allah, karena Engkaulah hamba shaum, dan atas rizki-Mu hamba berbuka.” ( HR Abu Daud )

Bismillahi allahumma laka shumtu wa’ala rizqika afthartu. “Dengan nama Allah, ya Allah, hanya karena-Mu aku shaum, dan atas rizki-Mu aku berbuka.” ( HR Thabrany )

Rukhshah ( Keringanan )

Shaum Ramadhan adalah kewajiban yang juga bersifat fisik. Kondisi fisik setiap orang berbeda-beda, karena itu Allah swt memberikan rukhshah ( keringanan ) kepada orang-orang tertentu untuk meninggalkan shaum dan  menggantinya dengan qadha atau fidyah. Untuk memudahkan pemahaman, kita bagi orang-orang yang diperbolehkan berbuka pada tiga kelompok, yaitu :

Boleh Berbuka dan Wajib Qadha

Orang yang sedang dalam perjalanan ( safar ) dan orang sakit yang ada harapan sembuh diperbolehkan tidak shaum Ramadhan dan mereka wajib mengqadha shaumnya. Qadha artinya membayar shaum pada bulan yang lain.

“Barangsiapa di antaramu sakit atau bepergian ( lalu meninggalkan shaumnya, maka wajib shaum ) sebanyak hari itu pada hari-hari yang lain.” ( QS Al-Baqarah [2] : 185 )

Tidak ada keterangan rinci yang menjelaskan jarak safar yang menyebabkan boleh berbuka shaum. Hal ini dikembalikan pada kekuatan/kemampuan setiap individu. Sekiranya bepergian dalam keadaan shaum akan membahayakan fisik, sebaiknya berbuka, tidak perlu memaksakan diri, karena Allah swt telah memberi keringanan untuk berbuka. Namun, sekiranya tidak membahayakan, shaum lebih utama, sebagaimana firman-Nya, “… dan berpuasa lebih baik bagimu.” ( QS Al-Baqarah [2] : 184 )

Demikian juga tidak ada keterangan rinci mengenai ukuran sakit yang menyebabkan boleh berbuka. Hal ini dikembalikan pada kondisi tubuh. Sekiranya shaum dalam keadaan sakit akan menyebabkan semakin parah, sebaiknya berbuka.

Boleh Berbuka dan Wajib Fidyah

Fidyah, artinya memberi sejumlah makanan kepada fakir miskin sebesar yang biasa kita makan. Kalau dalam satu hari kita makan sekitar Rp. 10.000, kita berikan sejumlah itu juga kepada fakir miskin. Kalau kita tidak shaum sepuluh hari misalnya, maka kalikan saja sepuluh ribu dengan sepuluh hari. Demikian cara perhitungannya. Fidyah bisa diberikan per hari ataupun diakumulasikan dalam sebulan. Bisa diberikan langsung kepada fakir miskin ataupun dititipkan kepada lembaga penitipan zakat.

Siapakah yangwajib fidyah ? Laki-laki atau wanita yang sudah lanjut usia ( udzur ), wanita hamil, ibu yang sedang menyusui, para pekerja berat, orang sakit yang tidak ada harapan sembuh ( menahun ), diperbolehkan tidak shaum Ramadhan dan sebagai penggantinya harus memberikan fidyah.

“Dan bagi orang-orang yang berat mengerjakannya, kewajibannya adalah fidyah dengan memberi makan kepada seorang miskin.” ( QS Al-Baqarah [2] :184 )

Ayat ini tidak merinci siapa yang bisa dikategorikan sebagai orang-orang yang berat mengerjakananya. Penjelasannya dapat kita lihat dalam hadits riwayat Abu Daud, ”Rukhshah ( kelonggaran) bagi laki-laki maupun wanita yang lanjut usia – walaupun mereka sanggup shaum – untuk berbuka dan memberi makan untuk setiap harinya seorang yang miskin. Demikian pula yang hamil dan yang menyusui, jika mereka khawatir terhadap anaknya, boleh berbuka dan memberi makan.” ( HR Abu Daud )

Wajib Berbuka dan Wajib Qadha          

Wanita yang sedang haidh atau nifas wajib berbuka atau dengan kata lain haram melaksanakan shaum. Kemudian harus menggantinya dengan qadha.

“Bukankah jika perempuan haid tidak shaum dan tidak shalat ?”  ( HR Bukhari )

“Kami mendapat haid pada zaman Rasulullah saw kemudian bersih. Maka beliau menyuruh kami mengqadha shaum dan tidak menyuruh kami mengqadha shalat.” ( HR An-Nasa’i )

Meninggalkan Shaum tanpa Alasan

Bila seseorang sengaja meninggalkan shaum bukan karena sakit, safar, atau alasan lain yang dibenarkan agama, shaum yang ditinggalkannya tidak bisa diganti dengan qadha atau fidyah, tapi hanya bisa diganti dengan taubat kepada Allah swt ( mohon ampun atas segala kesalahan yang pernah diperbuat dan bersumpah tidak akan mengulanginya ).

“Barang siapa berbuka shaum Ramadhan tanpa rukhshah, juga tanpa sakit, tidak dapat mengqadhanya ( walaupun dengan shaum )  satu tahun sekalipun.” ( HRTirmidzi )

Amaliah Ramadhan

Ada sejumlah amaliah yang kuantitas dan kualitasnya ditingkatkan oleh Rasulullah saw pada bulan Ramadhan.

Alangkah baiknya kalau kita pun bisa meningkatkannya, karena kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih bisa bertemu dengan Ramadhan atau tidak.

Nah, mumpung masih diberi kesempatan, marilah kita   tingkatkan amaliah berikut pada Ramadhan ini.

1.   Meningkatkan Kedermawanan

Kita diperintahkan untuk ikut memikirkan, mencari jalan keluar , dan membantu saudara-saudara kita yang terpuruk. Rasulullah saw menjamin orang-orang yang suka menolong dan meringankan beban orang lain akan senantiasa diberi pertolongan-Nya.

“Siapa yang menolong kesusahan seorang Muslim dari kesusahan-kesusahan dunia, pasti Allah akan menolongnya dari kesusahan-kesusahan akhirat. Siapa yang meringankan beban orang susah, niscaya Allah akan ringankan bebannya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib seorang Muslim, niscaya Allah akan tutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba itu suka menolong orang lain.” ( HR Bukhari )

Kedermawanan pada bulan Ramadhan harus lebih ditingkatkan lagi, sebagaimana dilakukan Rasulullah saw.

“Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan.” ( HR Bukhari )

2.  Tadarus Al-Quran

“Malaikat Jibril biasa menemui Rasulullah saw setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu mudarasah Al-Quran.” ( HR Bukhari )

Mudarasah artinya menelaah Al-Quran, bukan sekedar membaca tapi ada unsur tahsin (memperbaiki bacaan) dan tadabbur ( membedah kandungan makna ). Ada anggapan yang beredar  pada masyarakat kita, kalau dalam waktu satu bulan tidak bisa menamatkan bacaan Quran 30 juz, tadarusnya tidak sah, jadi sekiranya tidak akan tamat, sebaiknya tidak tadarus Quran karena akan sia-sia. Anggapan ini tidak benar , karena inti dari tadarus adalah memperbaiki bacaan dan pendalaman pemahaman, bukan target (harus tamat 30 juz). Jadi, kalau dalam satu bulan Ramadhan, kita hanya menyelesaikan 30 ayat, itu juga disebut tadarus.

Sebenarnya kita diperintahkan tadarus Quran bukan hanya pada bulan Ramadhan, namun setiap ada kesempatan kita dianjurkan membacanya secara rutin. Tadarus Quran disebut  sebagai bagian amaliah Ramadhan agar kita lebih giat membacanya di bulan lainnya ■

Sumber : Bedah Masalah, Majalah Percikan Iman, No. 11 Th. II  November 2001/ Sya’ban 1422 H

Ilustrasi : Southern Muslimah

 ΩΩΩ

Entri Terakhir :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aam Amiruddin, Fiqih, Puasa, Ramadhan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s