Perampasan Aset Koruptor


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, dengan semakin parahnya kejahatan korupsi yang berlaku di negara kita, ada wacana dari sebagian masyarakat yang mendorong pemiskinan terhadap para koruptor. Bagaimana Islam memandang wacana ini ?

Nanang Hj Jakarta Timur

Jawaban :

Tindakan korupsi dan suap-menyuap yang dalam istilah Islam disebut risywah dan ghulul merupakan dosa besar dan melawan hukum yang mendapat laknat dari Allah SWT. Pelakunya diancam mendapat siksaan yang pedih pada hari pembalasan nanti.

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan ( pembalasan ) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.“ ( QS Ali Imran [3] : 161 ).

Dalam hadis juga disebutkan, dari Abdullah bin ‘Amru, ia berkata, “Rasulullah melaknat pemberi suap dan penerima suap.“ ( HR Ahmad, Adu Daud, Ibnu Majah, Tirmizi, al-Hakim, dan al-Baihaqi ). Korupsi merupakan kejahatan kemanusiaan dan pengkhianatan terhadap amanah yang seharusnya ditunaikan dengan penuh tanggung jawab.

Karena itu, memang perlu terobosan baru dalam bidang hukum agar bangsa ini bisa memberantas dan mengurangi kejahatan berbahaya ini. Dalam ajaran Islam, harta yang didapat dengan cara korupsi termasuk ke dalam jenis al-mal al-fasid ( harta yang buruk ) yang seharusnya dikembalikan kepada rakyat yang dalam hal ini diwakili oleh baitulmal atau perbendaharaan negara.

Haram hukumnya bagi yang mendapatkan harta itu untuk memakan atau memanfaatkannya untuk keperluan diri dan orang yang menjadi tanggungannya. Para ulama menyebutkan, di antara al-mal al-fasid yang mungkin dihasilkan oleh seorang pejabat atau pegawai adalah hadiah yang diberikan kepadanya karena jabatannya, suap, dan ghulul ( menggelapkan harta negara ).

Ada beberapa pendapat ulama dalam masalah hukum al-mal al-fasid ini. Pertama, jumhur ulama berpendapat, kita tidak berhak merampas harta itu dari yang melakukannya karena agama melarang untuk merampas harta orang lain tanpa alasan yang jelas. Tetapi, menyerahkannya ke pengadilan untuk bisa diputuskan dan keputusan pengadilan harus dilaksanakan karena berdasarkan bukti-bukti kuat.

Jika memang terbukti dalam pengadilan bahwa hartanya itu adalah harta yang didapat dari korupsi dan sejenisnya harus dikembalikan ke perbendaharaan negara. Kedua, sebagian ulama berpendapat bahwa memberikan kewenangan terhadap pemimpin negara atau orang yang ditunjuk untuk merampas harta seseorang yang didapatkan dari korupsi itu tanpa harus menunggu keputusan pengadilan.

Ketiga, sebagian ulama yang lain berpendapat, kita menyerahkan kepada pengadilan untuk memutuskan permasalahannya. Jika terbukti ada hartanya yang didapat dari hasil korupsi dan sejenisnya, harta hasil korupsi itu harus disita dan diserahkan kepada negara.

Adanya pendapat dari ulama kita yang mengatakan seorang koruptor itu boleh diambil setengah atau seluruh hartanya sebagai hukuman finansial seperti dilakukan nabi terhadap orang yang tidak mau membayar zakat, kita bisa menjadikannya sebagai landasan menyita harta kekayaan koruptor untuk membuatnya jera dan membuat orang lain menjadi takut untuk melakukan korupsi itu.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 2 Juli  2012 / 12 Sya’ban 1433 H

Gambar : pilabeanku

ΩΩΩ

Entri Terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Syariah and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Perampasan Aset Koruptor

  1. Arum says:

    Sebenarnya yang paling penting adalah membenahi mulai dari diri kita dan lingkungan sejak dini. Misalnya konsekuen tidak kalau ujian tak pernah nyontek, sekolah tak pernah bolos, kuliah tak pernah titip absen, kalau diberi tugas dijalankan dengan benar. Menurut saya itu inti dasar pendidikan kejujuran mulai dari kecil, di kita banyak yang terlalu permisif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s