Etika Bercanda


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, bagaimana sebenarnya Islam memandang candaan yang dilakukan seorang Muslim? Apakah dibolehkan begitu saja atau ada batasan agar tidak menyalahi ajaran Islam? Soalnya sekarang ini candaan dan komedi yang dipertontonkan di televisi sudah agak berlebihan. Baru-baru ini ucapan “assalamualaikum“ pun dijadikan bahan lelucon. Mereka mengatakan bahwa orang yang mengucapkan salam seperti pengemis. Mohon penjelasannya, Ustadz.

Andi Ali Sh — Purwodadi

Jawaban :

Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah dan kecenderungan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Bukan agama yang melayang di alam khayal dan utopia yang tidak mungkin ada, tetapi Islam mengikuti tabiat manusia di alam nyata dan realitasnya sebagai manusia. Islam tidak memperlakukan manusia seperti malaikat, makhluk Allah yang hanya melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Tetapi, Islam memperlakukan manusia sebagai makhluk yang juga makan dan minum, sedih dan bahagia, serta menangis dan tertawa.

Oleh karena itu, Islam tidak mewajibkan kepada setiap Muslim agar setiap ucapannya adalah zikir, diamnya adalah berpikir, pendengarannya Al-Quran, atau waktu luangnya selalu di masjid. Islam membolehkan manusia untuk mengikuti insting dan kecenderungan mereka sebagaimana diciptakan Allah SWT.

Dan, Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang bisa merasa gembira, tertawa, dan bermain, termasuk di sini bercanda dan membuat lelucon untuk menghibur dan membuat orang gembira.

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Para sahabat berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Ya Rasulullah, engkau juga bercanda dengan kami.’ Maka Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya aku tidak mengatakan kecuali yang benar.’” ( HR Tirmizi ).

Namun, tentunya canda dan lelucon itu tidak dibebaskan begitu saja. Terdapat batasan dan ketentuan yang tidak boleh dilanggar sehingga tidak menyalahi aturan dan ajaran agama. Di antara batasan itu adalah tidak mengolok-olok dan melecehkan agama, syiar dan ajarannya.

Tidak melakukan dusta atau kebohongan untuk membuat orang lain tertawa. Jangan sam pai candaan dan lelucon itu menghina seseorang, melecehkannya, atau memberinya gelar kecuali orang itu mengizinkannya dan meridainya. Allah SWT berfirman dalam QS al-Hujurat [49]: 11.

Jangan sampai candaan itu membuat takut orang lain. Bercanda dan bergurau sewajarnya karena banyak bercanda dan tertawa akan mematikan mata hati. Sulit menerima kebenaran dan berkurangnya sensitivitas terhadap agama.

Jadi, jika sampai candaan dan lelucon yang kita lakukan itu sudah melecehkan ajaran agama berarti kita telah melampaui batas dalam candaan dan gurauan. Apalagi, dengan mengatakan bahwa ucapan salam itu identik dengan pengemis sedangkan Islam melarang umatnya untuk mengemis kecuali terpaksa sekali.

Bahkan, kalau kita sudah mengetahui hukum mengolok-olok dan melecehkan ajaran dan syiar agama itu kita bisa dihukum sebagai kafir sebagaimana yang dijelaskan dalam surat at-Taubah ayat 65 dan 66 di atas. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 30 Juni  2012 / 10 Sya’ban 1433 H

Gambar : kakasi86.wordpress.com

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aqidah, Bachtiar Nasir, Syariah and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s