Makmum Masbuk


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, bagaimana seseorang yang datang terlambat dalam shalat berjamaah di masjid mendapati imam sedang rukuk. Apakah jika orang itu langsung rukuk juga dihitung satu rakaat meskipun ia tidak sempat membaca al-Fatihah ? Apakah ia bertakbir satu kali saja untuk takbiratul ihram dan rukuk ataukah dua kali ?

Hamba Allah

Jawaban :

Membaca al-Fatihah adalah salah satu rukun dalam shalat yang tidak boleh ditinggalkan dan menentukan sahnya shalat. Dari ‘Ubadah bin al-Shamit, Rasulullah bersabda, “Tidak sah shalatnya bagi orang yang tidak membaca Fatihat al-Kitab ( surah al-Fatihah ).” ( HR Bukhari dan Muslim ). Namun, para ulama berbeda pendapat dalam masalah apakah makmum membaca al-Fatihah juga.

Ada yang mengatakan, makmum wajib membaca al-Fatihah, baik dalam shalat jahriyyah maupun shalat sirriyyah. Ini adalah pendapat Mazhab Syafii dan salah satu riwayat dari Mazhab Hanbali. Ada juga yang mengatakan, makmum tidak wajib lagi membaca al-Fatihah di belakang imamnya, baik dalam shalat jahriyyah maupun sirriyyah. Ini pendapat Mazhab Hanafi dan salah satu riwayat dalam Mazhab Hanbali.

Sebagian lagi mengatakan, makmum harus membaca al-Fatihah dalam shalat sirriyyah dan tidak membacanya ketika imam membaca dengan keras. Itu pendapat Mazhab Maliki. Tetapi, jumhur ulama, termasuk imam empat mazhab, mengatakan, membaca al-Fatihah itu tidak lagi menjadi wajib saat seorang makmum masbuk atau datang terlambat dan mendapati imam dalam keadaan rukuk.

Di sini, hendaklah orang yang masbuk itu langsung rukuk juga mengikuti imam sehingga dia bisa mendapatkan rakaat tersebut bersama imam, meskipun dia tidak sempat membaca al-Fatihah. Dari Abu Bakrah, dia datang kepada Nabi ketika beliau sedang rukuk. Maka, ia langsung rukuk sebelum mencapai shaf.

Hal itu ia sampaikan kepada Nabi, beliau bersabda padanya, “Semoga Allah menambah semangatmu dan jangan mengulanginya.“ ( HR Bukhari ). Dalam riwayat Abu Daud ditambahkan dalam hadis itu bahwa ia rukuk di belakang shaf kemudian berjalan menuju shaf. Karena jika mendapatkan rukuk bersama imam, itu tidak mencukupi untuk mendapatkan rakaat tersebut bersama imam, pasti Nabi menyuruh Abu Bakrah menambah rakaat yang dia tidak bisa membaca al-Fatihah.

Tetapi, Nabi tidak memerintahkannya melakukan hal demikian. Itu berarti siapa yang mendapatkan rukuk bersama imam, berarti dia mendapatkan rakaat tersebut. Adapun maksud perkataan Nabi “Jangan diulangi” dalam hadis itu adalah jangan mengulangi perbuatan tergesa-gesa untuk mengikuti shalat berjamaah.

Mengenai takbir, jika memungkinkan melakukan dua kali takbir, yaitu takbir untuk takbiratul ihram dan takbir untuk rukuk, hendaklah ia melakukannya karena itulah yang lebih utama.
Namun, jika tidak memungkinkan karena takut akan ketinggalan rakaat tersebut, tidak apa-apa dengan satu takbir saja, yaitu untuk takbiratul ihram. Tetapi, harus diperhatikan bahwa takbir itu harus dilaksanakan dalam keadaan berdiri tegak. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 29 Juni  2012 / 9 Sya’ban 1433 H

Gambar : muhammadarifin.net

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Shalat and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s