Kebebasan Berekspresi


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, sekarang ini banyak sekali LSM dan tokoh kita yang sayangnya mereka bagian dari umat Islam, dengan mengatasnamakan kebebasan berpendapat melakukan pembusukan terhadap Islam. Bagaimana Islam memandang kebebasan itu?

Suryadi — Purwakarta

Jawaban :

Diriwayatkan dari ‘Amir bin Sa’d, “Rasulullah suatu hari datang dari Al-‘Aliyah. Hingga ketika melewati Masjid Bani Mu’awiyah, beliau masuk lalu shalat dua rakaat. Kami pun shalat bersama. Beliau lama berdoa kepada Allah, kemudian berpaling menghadap kami dan bersabda, ‘Aku meminta tiga hal pada Rabbku. Ia mengabulkan dua hal dan menolakku dalam satu hal. Aku meminta Rabbku tidak membinasakan umatku dengan kekeringan, Ia mengabulkannya untukku. Aku meminta-Nya tidak membinasakan umatku dengan banjir maka Ia mengabulkannya untukku. Dan, aku meminta-Nya tidak menjadikan kehancuran di antara sesama mereka, tapi Dia menolaknya’.“ ( HR Muslim )

Hadis tersebut menjelaskan potensi konflik internal umat Islam yang tidak terelakkan dan penyebab utama kehancuran umat ini datang dari sisi internalnya. Pembusukan umat dari dalam seperti yang Anda rasakan adalah dinamika yang selalu ada. Hal ini harus disikapi positif karena hadis tersebut menyiratkan pesan akan pentingnya pembinaan internal.

Selain itu, hadis tersebut menyiratkan pesan kesabaran dan waspada menghadapi kondisi internal umat ini adalah hal penting untuk dicermati selalu.

Islam adalah agama fitrah, kemanusiaan, dan agama universal, aturan kebaikan (mahasin) dan syariat yang ditetapkannya oleh Allah.

Islam menjadikan kebebasan itu sebagai hak asasi bagi setiap manusia. Orang yang kehilangan kebebasannya dianggap telah mati meskipun secara lahirnya dia hidup.

Bahkan, pengagungan Islam atas kebebasan, menjadikan akal bebas berpikir sebagai jalan mengetahui dan meyakini keberadaan dan kebenaran syariat Allah SWT serta melarang umat Islam memaksa seseorang beriman kepada Allah.

Namun, kebebasan bukan berarti seseorang bebas untuk mencuri, menipu, berzina, atau melakukan kemungkaran dengan seenaknya. Kebebasan berpendapat dan berekspresi dalam Islam tidak berarti bebas untuk melanggar perkara-perkara yang sudah jelas dan tegas ditetapkan dalam agama.

Kebebasan berpendapat dan berekspresi dalam Islam tidak berarti bebas menghina dan menistakan syiar-syiar agama.

Islam memandang kebebasan itu berdasarkan wahyu dan syariat Allah, bukan berdasarkan akal dan kehendak hawa nafsu manusia yang jika diikuti tidak akan pernah puas dan berhenti pada satu titik, ia akan terus menuntut dan meminta yang lebih sehingga menyebabkan kehancuran umat manusia itu sendiri. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 28 Juni  2012 / 8 Sya’ban 1433 H

Gambar : minaka.blogdetik.com

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s