Apakah Alkohol Najis ?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, bagaimanakah hukumnya menggunakan alkohol untuk obat luar, seperti obat luka, obat kumur, atau campuran parfum/minyak wangi?

Vitri  — Jakarta

Jawaban :

Sebenarnya, permasalahan ini bersumber dari perbedaan pendapat di kalangan umat tentang najis atau tidaknya khamar. Dari segi maknawi, para ulama bersepakat, khamar adalah najis, merupakan sesuatu yang buruk dan pekerjaan setan sehingga haram bagi umat Islam meminumnya. Namun, mereka berbeda pendapat dalam hal apakah khamar itu juga najis secara hakiki atau tidak.

Jumhur ulama dari ulama empat mazhab ( Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali ) mengatakan, khamar itu adalah najis hakiki sehingga kita harus menjaga badan dan pakaian kita agar jangan sampai terkena khamar. Mereka berlandaskan pada ayat dan hadis Nabi Muhammad SAW dan firman Allah SWT dalam Al-Quran.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya ( meminum ) khamar, berjudi, ( berkorban untuk ) berhala, mengundi nasib dengan panah termasuk perbuatan setan. Jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.“ ( QS al-Maidah [5] : 90 ). Dalam ayat ini, Allah menyebutkan, khamar itu adalah rijsun dan rijsun itu adalah najis sebagaimana yang ditegaskan dalam ayat lainnya.

“Katakanlah, tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi — karena sesungguhnya semua itu kotor (rijsun) — atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa sedangkan dia tidak menginginkannya dan tidak ( pula)  melampaui batas, sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ ( QS al-An’am [6] : 145 ).

Ulama yang lain, seperti al-Laits bin Sa’ad, Rabi’ah al-Ra’yi ( syekhnya Imam Malik) , al-Muzni dari kalangan ulama Mazhab Syafii, Daud al-Zhahiri, al-Syaukani, dan al-Shan’ani mengatakan, meskipun khamar itu najis secara maknawi, secara hakikinya khamar itu bukanlah najis sehingga kita tidak perlu membersihkan badan dan pakaian kita dari khamar tersebut.

Pendapat ini diikuti ulama-ulama zaman sekarang, seperti Rasyid Ridha, Musthafa al-Zarqa, Ibnu ‘Utsaimin, dan Yusuf al-Qaradhawi. Adapun dalil yang menjadi landasan mereka, antara lain, hukum asal segala sesuatu adalah suci dan tidak selalunya sesuatu yang haram itu najis karena mengatakan sesuatu itu najis adalah hukum syar’i yang memerlukan dalil tersendiri.

Para ulama bersepakat, racun itu adalah haram, tapi tidak ada yang mengatakan bahwa racun itu najis karena tidak ada dalil yang mengatakan demikian. Begitu juga sutra dan emas itu haram bagi laki-laki untuk memakainya, tapi tidak ada yang mengatakan bahwa keduanya itu benda najis. Hal itu sesuai dengan kaidah setiap najis itu haram dan bukan setiap yang haram itu najis

Ayat yang menyebutkan khamar itu rijsun juga tidak menunjukkan secara langsung ia adalah najis hakiki. Ayat tersebut hanya menjelaskan, khamar itu haram hukumnya dengan dalil bahwa ia disebutkan bersama dengan judi, berhala-berhala, dan anak panah yang digunakan untuk mengundi nasib, dan semua ulama sepakat, semua itu bukan termasuk benda najis

Padahal, jika khamar itu najis maka pasti Nabi memerintahkan membersihkan peralatan atau gelas untuk meminum khamar itu sebagaimana beliau memerintahkan untuk membersihkan peralatan itu ketika mengharamkan al-humur al-ahliyyah. Berdasarkan pendapat ini, boleh menggunakan alkohol untuk campuran parfum/minyak wangi, membersihkan ( sterilisasi ), obat luar, dan sebagainya karena ia bukan benda najis. Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu , 20 Juni 2012 / 30  Rajab 1433 H

Gambar : usodep.blogs

ΩΩΩ

Perlu dibaca juga : 

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih. Bookmark the permalink.

5 Responses to Apakah Alkohol Najis ?

  1. rizka says:

    Saya sedang mencari topik yang sama dan mendapatkan tulisan lain yang menjawab paragraf terakhir tulisan ini:

    “Adapun menurut kami, yang rajih adalah pendapat jumhur bahwa khamr itu najis. Dalilnya memang bukan ayat tentang khamr (QS Al-Ma`idah : 90), namun hadits Nabi SAW dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani RA. Dia pernah bertanya kepada Nabi SAW,”Kami bertetangga dengan Ahli Kitab sedang mereka memasak babi dalam panci-panci mereka dan meminum khamr dalam bejana-bejana mereka.” Nabi SAW menjawab,”Jika kamu dapati wadah lainnya, makan makan dan minumlah padanya. Jika tidak kamu dapati wadah lainnya, cucilah wadah-wadah mereka dengan air dan gunakan untuk makan dan minum.” (HR Ahmad & Abu Dawud, dengan isnad shahih).(Subulus Salam, 1/33; Nailul Authar, hal. 62).

    Hadits di atas menunjukkan kenajisan khamr, sebab Nabi SAW tidak memerintahkan untuk mencuci wadah mereka dengan air, kecuali karena khamr itu najis. Ini diperkuat dengan riwayat Ad-Daruquthni, bahwa Nabi SAW bersabda,”maka cucilah wadah-wadah mereka dengan air karena air itu akan menyucikannya.” (farhadhuuhaa bil-maa`i fa-inna al-maa`a thahuuruhaa) (Mahmud Uwaidhah, Al-Jami’ Li Ahkam Al-Shalah, 1/45).

    Kesimpulannya, alkohol (etanol) itu najis karena khamr itu najis. Maka, parfum beralkohol tidak boleh digunakan karena najis. Wallahu a’lam. ”

    ini linknya:
    http://khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=797&Itemid=9

    • amna says:

      Hadis tersebut di atas tidak menjelaskan bahwa khamar itu najis, hanya menjelaskan bahwa khamar itu haram. Dalam hadis di atas rasulullah memerintahkan untuk mencuci wadah tersebut karena wadah itu dipakai untuk makan dan minum, misalnya ada seorang non muslim yang meminum khamar dalam gelas kemudian gelas itu diambil oleh seorang muslim untuk dipakai sebagai wadah minum air putih, maka gelas itu harus dicuci dulu sehingga bekas khamar tadi hilang dari gelas tersebut, jika tidak bersih maka bekas khamar dalam gelas tadi akan bercampur dengan air putih yang diminum si muslim, padahal khamar/alkohol itu haram.
      yang menjadi permasalahan sekarang adalah : jika alkohol itu terkena baju atau kulit kita (misalnya dalam parfum atau antiseptik), apakah itu najis?
      salah satu sumber yang saya baca menyatakan bahwa alkohol tidak najis : http://www.konsultasisyariah.com/hukum-memakai-parfum-alkohol/#axzz2CmIvmJVv

  2. Ava Adenia says:

    Terima kasih jawbannya ustadz. Saya sdh lama mau bertanya tentang hal itu.

  3. Pingback: Apakah Alkohol Najis ? - PIJAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s