Anak Yatim Berzakat


Oleh : Ustadz Didin Hafidhuddin

Prof. Dr. Didin Hafidhuddin

Ada seorang pemuda yatim-piatu berusia 30 tahun belum berumahtangga mewarisi harta peninggalan orangtuanya berupa rumah. Apakah pemuda itu dapat digolongkan sebagai anak yatim-piatu yang pantas mendapatkan sedekah ? Apakah ia berhak mengeluarkan zakat ( wajib ) sementara ia belum bekerja/pengangguran ? Bagaimana cara pembagian harta peninggalan orangtuanya itu ( menurut ajaran Islam ) jika rumah tersebut dijualnya ?

Edy Supriyanto — Medan

Jawaban :

Anak yatim adalah anak masih kecil yang belum dewasa, yang ditinggal mati oleh ayahnya ( Shafwatut-Tafaasier II : 79 ). Status itu terus melekat sampai anak itu mencapai usia dewasa yang pantas untuk melakukan perkawinan ( meskipun belum menikah ). Allah SWT berfirman, “Dan pujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk melangsungkan perkawinan …” ( QS 4 : 6 ).

Usia 30 tahun adalah usia yang sudah pantas untuk mengakhiri masa lajang ( menikah ) , untuk itu sudah tidak layak lagi disebut sebagai anak yatim-piatu.

Seseorang terkena kewajiban berzakat apabila memiliki harta benda atau penghasilan yang memenuhi persyaratan berzakat.Misalnya ia memiliki sawah yang setiap kali panen mencapai nishab ( kurang lebih 675 kg ) , atau usaha/dagang yang kalkulasi tiap tahunnya mencapai nishab ( 85 gr emas ), atau juga memiliki penghasilan dari kerjanya yang setelah dikurangi kebutuhan pokok masih mencapai  nishab.

Jika belum bekerja dan belum berpenghasilan maka tentu saja tidak termasuk  katagori muzakki  ( orang yang wajib berzakat ). Bahkan dalam kondisi tertentu bisa masuk ke dalam kelompok  mustahik  ( yang berhak menerima zakat ) misalnya saat ia jatuh sakit dan tidak memiliki biaya untuk berobat dan lain sebagainya.

Harta peninggalan orangtua disebut waris yang menjadi hak dari para ahli warisnya. Harta ini dibagikan setelah wasiat dan utang-piutang orangtua ( atau siapa saja yang meninggal dunia ) terbayarkan terlebih dahulu  ( jika ada ). Tentang pembagian itu Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari Ibn Abbas,”Berikan harta waris itu kepada orang yang berhak menerimanya sesuai dengan bagiannya masing-masing. Jika masih tersisa, berikan kepada yang laki-laki.”( Subulus-Salam III : 98 ).

Jika harta waris itu berbentuk uang ( misalnya rumah yang telah dijual ) maka ahli waris yang menerima bagiannya yang telah mencapai nishab ( senilai 85 gr emas ) wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5 persen.

Tentang ini IbnMas’ud menyatakan bahwa bahwa seseorang yang menerima pemberian telah mencapai nishab harus segera berzakat. Pendapat yang sama dikemukakan pula oleh Ibn Abbas, Muawiyyah dan Imam Ahmad. Menurut Imam Auza’i ( Al-Mughni II : 626 ) boleh ditangguhkan sampai batas waktu tertentu ( misalnya satu bulan). Jika ia yakin bahwa dalam waktu tersebut ia akan menerima penghasilan tertentu lalu zakatnya digabungkan sekaligus untuk kemudian dikeluarkan pada saat tersebut.

Wallahu A’lam bi Ash-Shawab

Sumber : Konsultasi ZIS, Republika, Sabtu, 22 November 1997 / 21Rajab 1418 H

Foto : Baznas Sumsel

  • Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MS. , kini Ketua Umum BAZNAS

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Didin Hafidhuddin, Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s