Puasa di Bulan Rajab


Oleh : KH Abdurrahman Navis

KH Abdurrahman Navis, Lc.,M.HI – Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Timur

Kita telah memasuki bulan Rajab, salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Ada pertanyaan yang belum pernah saya temukan jawabannya.Yaitu sebenarnya apa hukumnya puasa Rajab ? Kok ada yang bilang puasa itu dilarang karena haditsnya palsu. Atas jawaban kiai saya haturkan terima kasih.

Laila Rahmania, Sidoarjo

Jawaban :

Bulan Rajab memang salah satu bulan yang dimuliakan Allah dari empat bulan yang lain (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Hal ini sesuai firman Allah SWT :

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah ( ketetapan ) agama yang lurus,maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” ( QS At-Taubah : 36 ).

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakrah, Nabi SAW bersabda:

“ Setahun berputar sebagiamana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi.Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci).Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. ( Satu bulan lagi adalah ) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban” (HR Bukhari No. 3197 dan Muslim No. 1679).

Karena mulianya bulan Rajab, maka sebagian ulama memotivasi untuk memperbanyak ibadah di bulan Rajab ini, baik berupa dzikir, shalat, puasa dan amal lainnya. Di antaranya, dalam kitab Durratun Nashihin dijelaskan :

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di dalam sorga terdapat sebuah sungai yang namanya Rajab, airnya lebih putih daripada susu, lebih manis daripada madu. Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab, maka Allah memberi minum kepadanya dari sungai itu” (Durratun Nashihin  I : 164).

Juga Rasulullah SAW bersabda :

“Ingatlah bahwa sesungguhnya bulan Rajab  itu adalah bulan Allah yang bisu. Maka siapa berpuasa pada bulan ini selama satu hari karena iman dan mengharapkan pahala, maka dia berhak mendapatkan ridha Allah Yang Maha Besar; Siapa berpuasa pada bulan ini selama dua hari, maka para penghuni langit dan bumi tidak dapat menggambarkan kemuliaan yang diperolehnya di sisi Allah. Siapa berpuasa selama tiga hari, maka dia akan selamat dari segala bencana di dunia,azab di akhirat, gila, penyakit kusta/lepra, penyakit belang dan fitnah Dajjal ; Siapa berpuasa selama tujuh hari, maka tujuh pintu neraka Jahannam akan ditutup baginya; Siapa berpuasa selama delapan hari , maka delapan pintu surga akan dibukakan baginya; Siapa berpuasa selama sepuluh hari, maka dia tidak akan meminta apapun kepada Allah, melainkan Allah pasti memberinya; Siapa berpuasa selama lima belas hari, maka Allah Taala akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan mengganti keburukan-keburukannya dengan kebaikan-kebaikan; dan Siapa menambah ( hari berpuasa ), maka Allah menambah pahalanya”.

Riwayat di atas kemudian ditakhrij oleh para ulama ahli hadits yang disimpulkan itu haditsnya tidak shahih bahkan dianggap palsu. Sebagaimana penjelasan berikut :

Takhrij Hadis : Hadis ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam as-Syu’ab dan Fadhailul Auqat dan oleh al-Asfahani dalam at-Targhib.  Semuanya melalui Usman ibn Mathar dari Abdul Ghafur dari Abdul Aziz ibn Sa’id dari bapaknya.

Hukum Hadis : Maudhu’/Palsu.

Dalam sanad al-Baihaqi terdapat beberapa perawi yang dhaif, amat dhaif dan seorang yang dituduh meriwayatkan hadis palsu dari perawi tsiqah. Di antaranya adalah Usman ibn Mathar, dia dhaif menurut Abu Hatim, an-Nasai, ad-Dzahabi dan Ibn Hajar. Abu Shalih Abdil Ghafur al-Wasithi, menurut al-Bukhari mereka meninggalkannya dan hadisnya munkar. Ibn Adiy berkata: Dia dhaif dan hadisnya munkar. An-Nasai berpendapat dia ditinggalkan hadisnya. Ibn Hibban juga menyatakan bahwa dia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari perawi tsiqah.

Al-Baihaqi yang meriwayatkan hadis ini hanya mengatakan bahwa sanadnya dhaif, akan tetapi Ibn Hajar yang diikuti Ibn Arraq menghukuminya dengan palsu. ( Sumber : Buku Hadis-Hadis Lemah dan Palsu dalam Kitab Durratun Nasihin, Karya Dr Ahmad Lutfi Fathullah, MA ).

Dengan demikian sebagian ulama ( kaum Salafi-Wahabi ) menyimpulkan bahwa puasa Rajab itu bid’ah dan dilarang dikerjakan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah. Dalam kitab Iqthidha Shiratil Mustaqim, Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata,”Tidak ada satu keterangan pun dari Nabi SAW berkaitan dengan keutamaan bulan Rajab, bahkan keumumuan hadis yang berkaitan dengan hal tersebut ( keutamaan puasa di bulan Rajab) merupakan hadits-hadits palsu.”  ( Iqthidha Shiratil Mustaqim , 2/624 )

Memang banyak ditemukan hadits-hadits yang tidak  shahih berkenaan dengan ‘keutamaan’ puasa Rajab, tapi bukan berarti puasa di bulan Rajab itu dilarang, asal tidak puasa sebulan penuh. Karena ada beberapa hadits yang secara umum menganjurkan puasa pada bulan-bulan yang mulia termasuk di bulan Rajab. Di antaranya :

Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” ( HR Muslim )

Dari para ulama kalangan Mazhab Syafi’i Rahimahullah, Imam Nawawi berkomentar tentang puasa sunnah khusus di bulan Rajab. “Tidak ada keterangan yang tsabit ( pasti ) tentang puasa sunnah Rajab, baik berbentuk larangan ataupun kesunnahan. Namun pada dasarnya melakukan puasa hukumnya sunnah ( di luar Ramadhan ). Dan diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Sunan bahwaRasulullah SAW menyunnahkan berpuasa di bulan-bulan mulia, sedang bulan Rajab termasuk salah satunya.

Syeikh Wahbah Azzuhali menjelaskan : Pendapat Imam Syafi’i dan Maliki bahwa disunnahkan puasa semua bulan yang mulia. Sedangkan pendapat Imam Hanbali, disunnhakan hanya pada bulan Muharram saja.Dan itu paling utamanya puasa setelah Ramadhan berdasarkan hadits Nabi, ”Paling utamanya puasa setelah Ramadhan yaitu pada bulan-bulan yang mulia”. Imam Hanafi menegaskan bahwa yang disunnahkan puasa pada bulan yang mulia itu tiga hari setiap bulan,  hari Kamis, Jumat dan Sabtu.( Al-Fiqhul Islam wa Adilatuh, 2/591 ),

Kesimpulannya, hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan dan janji pahala puasa Rajab  masih diperselisihkan ulama bahkan ada yang dhaif dan maudlu’.  Tapi bukan berarti mengamalkan puasa Rajab itu dilarang bahkan dianggap bid’ah. Karena banyak hadits yang menganjurkannya. Jadi, puasa di sebagian bulan Rajab tetap hukunya sunnah. Adapun jumlah harinya tidak ditentukan asal tidak sebulan penuh. Wallahu a’lam bishshawab

Sumber : Bahsul Masail, Majalah AULA, Juni 2012 / Rajab – Sya’ban 1433 H


Foto : PCNU Pamekasan

ΩΩΩ

Silakan simak juga :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Abdurrahman Navis, Fiqih, Puasa and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s