Shighat Ta’liq Nikah


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Setiap akad nikah biasanya penghulu menyodorkan pembacaan shighat ta’liq nikah, apakah itu memang wajib dibacakan dan bagaimana sebenarnya aturan syariat mengenai hal ini?

Hamba Allah

Jawaban :

Berikut ini redaksi shighat ta’liq nikah. “Selanjutnya, saya mengucapkan shighat ta’liq atas istri saya itu, sewaktu-waktu saya meninggalkan istri saya dua tahun berturut-turut atau tidak memberi nafkah wajib kepadanya tiga bulan lamanya atau menyakiti badan/jasmani istri saya itu atau saya membiarkan istri saya itu enam bulan lamanya.“

Selanjutnya, “Ketika istri tidak rida dan mengadukan hal ini kepada Pengadilan Agama dan pengaduannya dibenarkan serta diterima oleh pengadilan tersebut dan istri membayar uang sebesar Rp 10 ribu sebagai iwad ( pengganti ) kepada saya maka jatuhlah talak saya satu kepadanya….“

Hukum membaca shighat ta’liq saat berlangsungnya akad nikah tidak wajib atau sunah karena tidak ada dalil yang menunjukkan itu dan tidak pula menjadi bagian dari rukun atau syarat nikah. Seandainya tidak dibacakan, maka tidak memengaruhi kesempurnaan akad nikah.

Shighat ta’liq yang biasa dibacakan dalam akad pernikahan merupakan syarat yang diajukan istri agar dipenuhi oleh suami. Jika suami tidak dapat memenuhinya, istri dapat meminta pengadilan untuk melepaskan ( khulu’ ) dari suaminya. Ketentuan mengajukan syarat dalam akad nikah, menurut para ulama, ada tiga.

Pertama, syarat yang sesuai tujuan dan ketentuan akad nikah, wajib dilaksanakan  seperti shighat ta’liq dalam akad pernikahan umat Islam di Indonesia. Sebab, memberikan nafkah kepada istri, memperlakukannya dengan baik, merupakan kewajiban suami sesuai tuntunan Islam.

Kedua, syarat yang menyalahi ketentuan dan tujuan dari suatu pernikahan seperti mensyaratkan bahwa pernikahan itu hanya sementara dan ia akan menceraikannya pada waktu tertentu, suami mensyaratkan ia tidak akan memberikan mahar atau tidak akan memberikan nafkah kepada istrinya. Atau, seorang istri mensyaratkan agar suami menceraikan istri pertamanya terlebih dahulu. Semua itu tak dibenarkan.

Ketiga, syarat yang menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, yaitu syarat yang tidak menyalahi hukum syara, seperti istri mensyaratkan agar suaminya tidak akan berpoligami atau suami tidak akan membawanya keluar daerah. Mazhab Hanbali membolehkan persyaratan seperti ini dan wajib bagi suami menunaikannya.

Persyaratan ini sama sekali tidak merusak akad nikah dan mahar. Mazhab Hanafi berpendapat, persyaratan ini diperbolehkan jika wanita menjatuhkan sebagian dari nilai maharnya.Wajib bagi suami menunaikannya. Jika tidak, wanita mendapatkan mahar al-mitsl ( mahar yang biasa bagi perempuan sepertinya ).

Mazhab Maliki memandang persyaratan ini makruh. Sedangkan, Mazhab Syafii berpendapat, ini merupakan persyaratan yang tidak diperbolehkan, tetapi jika muncul, persyaratan tersebut tidak merusak akad nikah. Hanya, merusak mahar yang telah ditentukan sehingga mahar wanita nilainya berubah menjadi mahar al-mitsl.

Dalil yang membolehkan syarat-syarat seperti ini QS al-Maidah [5]: 1. Ada pula hadis yang menyuruh kita memenuhi syarat dalam pernikahan. Mereka yang tak membolehkan penetapan syarat di atas juga mempunyai dalilnya sendiri.

Secara umum, jumhur ulama membolehkan syarat-syarat itu dalam akad pernikahan, tetapi mereka menjelaskan, sunah hukumnya bagi suami memenuhinya.

Kecuali, Mazhab Hanbali yang mengatakan, setiap syarat yang menguntungkan pihak istri wajib bagi suami untuk memenuhinya. Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni menjelaskan, syarat dalam nikah itu ada tiga macam, salah satunya memberikan manfaat dan keuntungan bagi istri seperti syarat agar ia tidak dikeluarkan dari rumahnya atau negerinya.

Namun, perlu diperhatikan bahwa istri yang mengajukan syarat ini hendaknya tidak mendasari permintaannya itu dengan kebenciannya terhadap syariat poligami. Wallahu a’lam

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 6 Juni 2012 / 16  Rajab 1433

Photo :  Putia Album

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Keluarga, Pernikahan and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s